Rabu, 18 Mei 2022

SEPAK BOLA INDONESIA #1



Mengapa olah raga sepak bola begitu populer di Indonesia?. Kita juga heran dengan fakta ini. Bila dilihat dari prestasi timnas kita, tentu belum membanggakan. Kita masih bersaing di level asia tenggara. Jangankan prestasi piala dunia, untuk menjadi juara asia tenggara saja kita masih kesulitan.

Timnas kita masih sering kewalahan bila menghadapi Thailand. Belakangan Vietnam juga sering menjadi batu sandungan. Lalu Malasyia?. Kita memang masih bisa mengimbangi. Timnas hanya terlihat superior ketika bertemu dengan Kamboja, Laos, Brunei Darussalam maupun Timor Leste.

Yang lebih mengherankan dari sepak bola kita adalah para penggemarnya yang begitu fanatik. Suporter kita termasuk militan ketika mendukung setiap pertandingan timnas. Stadion akan menjadi penuh sesak ketika timnas main di kandang. Meski berkali-kali kecewa karena kalah dengan lawan, nyatanya tidak pernah membuat cinta penggemar menjadi luluh. Cinta sampai mati sepertinya.

Bila dibandingkan dengan prestasi olah raga bulu tangkis, sepak bola sangatlah minor. Bulu tangkis kita mampu mengukir prestasi tertinggi di dunia. Bahkan medali emas olimpiade sudah menjadi langganan atlet kita. Uniknya, bulu tangkis tetap kalah pamor dengan sepak bola. Kita seolah “biasa saja” ketika mendengar prestasi bulu tangkis kita merajai dunia.

Apa hendak dikata. Bulu tangkis yang kaya prestasi masih kalah populer dengan sepak bola yang miskin prestasi di negeri kita. Bisa dibayangkan bila timnas kita mampu meraih prestasi di level dunia, sudah pasti sepak bola semakin menjadi favorit dan mendapatkan tempat di hati penggemar.

 

 

 

Selasa, 17 Mei 2022

Sri Lanka, Menuju Negara Bangkrut



Mengutip berita dari berbagai media online, Sri Lanka kehabisan stok bensin dan tidak memiliki dollar untuk mengimpor bahan bakar. Dalam keterangannya perdana menteri baru, Ranil Wickremesinghe mengatakan, Negara Sri Lanka kehabisan bensin dan saat ini, hanya memiliki stok bensin untuk satu hari saja. Saat ini sejumlah kapal masih menunggu di luar pelabuhan Colombo untuk pembayaran sebelum menurunkan muatan mereka.

Sri Lanka berada dalam pergolakan krisis ekonomi terburuk dengan 22 juta penduduknya mengalami kesulitan mendapatkan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan sambil menghadapi rekor inflasi serta pemadaman listrik yang berkepanjang. Pemerintah juga kehabisan uang tunai untuk membayar gaji 1,4 juta pegawai negeri pada Mei, dan akan beralih ke pencetakan uang sebagai upaya terakhir.

Apa yang dihadapi oleh Sri Lanka ternyata jauh lebih berat dari permasalahan yang kita hadapi. Beberapa kali krisis ekonomi yang pernah melanda negara kita, tidak pernah sampai mengakibatkan masalah seberat yang dihadapi oleh Sri Lanka. Sesulit-sulitnya bahan bakar, kita masih punya stok, meski harganya tetap naik.

Dalam urusan pemenuhan BBM, sebenarnya kita tidak jauh beda dengan Sri Lanka. Indonesia juga bergantung dari impor. Menurut data SKK Migas, saat ini produksi minyak mentah di Indonesia hanya mampu mencapai 700.000 ribu barel per hari (bph). Adapun konsumsinya mencapai 1,4 juta bph hingga 1,5 juta barel per hari. Jika 1 barel sama dengan 158.9 liter, artinya setiap hari kita membutuhkan pasokan minyak sebesar 238.350.000 liter dalam sehari, dan separuhnya bergantung dari luar.

Mengelola negara dengan penduduk 22 juta jiwa, para pemimpin di Sri Lanka saat ini kewalahan. Lalu bagaimana dengan mengelola penduduk Indonesia yang jumlahnya 12 kali lipat dari negeri Sri Lanka, tentu akan semakin lebih rumit. Inilah saat ini yang dirasakan oleh para pemimpin kita. Mereka tentu lebih detil dalam merencanakan segala program dan berhitung cermat agar segala kebutuhan masyarakat terpenuhi.

 

 

 

 

Senin, 16 Mei 2022

MENUNGGU SAMPAI PERTANDINGAN TERAKHIR



Beberapa kompetisi sepak bola di Eropa sudah memunculkan juara meski pertandingan (kompetisi) belum selesai. Di Spanyol Real Madrid sudah memastikan juara sejak pertandingan masih menyisakan empat laga. Di Belanda, Prancis, Portugal juga sudah memastikan siapa juara kompetisi domestik mereka.

Yang paling seru adalah menunggu juara liga Inggris dan Italia. Di saat negara-negara eropa lain sudah menemukan sang juara, kedua negara tersebut harus menunggu sampai pertandingan yang terakhir. Liverpool dan Manchester City masih terus perpacu ke garis finish layaknya AC Milan dan Intermilan yang masih menjaga asa juara mereka.

Persaingan tidak hanya terjadi di papan atas saja. Karena persaingan di papan bawah tidak kalah menariknya. Tim-tim di zona degradasi juga mati-matian saling menghindar dan lolos dari kawasan merah. Sekali mereka terdegradasi, dampaknya tentu sangat merugikan. Tidak hanya dari segi finansial, tapi dari sisi prestise terdegradasi dari kompetisi elit tentu memalukan.

Bagi penggemar fanatik mereka, menunggu sampai pertandingan yang terakhir tentu sangat menegangkan. Pertandingan terakhir pasti akan dilaksanakan secara serentak sehingga ini semakin menambah “kecemasan’ para penggila bola. Mereka harus menyaksikan tim kesayangan bermain, sembari memantau secara online pertandingan di tempat lain.

Sisi positifnya, kompetisi yang ditentukan hingga pertandingan terakhir menandakan adanya persaingan yang ketat. Tidak ada tim yang terlalu dominan sehingga pertandingan setiap laganya sangat bermutu. Berbeda bila kompetisi terlalu dikuasai oleh segelintir tim saja. Bisa jadi persaingan yang terjadi tidak seimbang dan membosankan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...