Minggu, 22 Mei 2022

Gelar “Pelipur Lara”



Timnas U-23 Indonesia akhirnya berhasil meraih medali perunggu SEA Games 2022 setelah mengalahkan “Harimau Malaya” Malaysia U-23 lewat drama adu penalti 4-3. Adu pinalti “terpaksa” dilangsungkan setelah kedua tim bermain imbang 1-1 dalam waktu 90 menit.

Timnas U-23 yang tampil dengan tim seadanya ternyata mampu mempersembahkan kemenangan. Dan inilah yang patut disyukuri. Sebagaimana kita ketahui, setelah pertandingan “berdarah-darah” melawan Thailand, kita kehilangan tiga pemain penting karena kartu merah. Tentu ketiganya mendapat sanksi larangan satu kali bermain. Ini sangat merugikan, ditambah lagi dengan beberapa yang cedera.

Jalannya laga Indonesia melawan Malasyia berlangsung dengan seimbang. Timnas Indonesia intens melancarkan serangan ke area pertahanan lawan dan menghasilkan beberapa peluang. Namun pertahanan ketat nan disiplin dari pemain Malaysia membuat Skuat Garuda kesulitan mengkonversi peluang emas untuk mencetak gol. Sebaliknya Malasyia juga memiliki beberapa peluang menciptakan gol.

Gol baru tercipta pada menit ke-68 melalui kaki Ronaldo Kwateh. Gol ini terjadi dari hasil kerja sama yang apik. Namun tak berselang lama, timnas Malaysia berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-81. Umpan silang dari Harimau Malaya sempat mengenai pemain Indonesia dan membelokkan arah bola. Bola jatuh ke kaki Muhammad Hadi Fayadh yang tanpa ampun merobek gawang Indonesia U-23. Dan kedudukan 1-1 bertahan sampai menit ke-90.

Gelar juara ketiga alias medali perunggu sebenarnya bukan gelar yang bergengsi bagi timnas kita. Tapi setidaknya ini bisa sedikit mengobati rasa kecewa para penggemar timnas. Andai saja kita kalah melawan Malasyia, sudah pasti timnas “Garuda Muda” akan mendapat hujatan dan cibiran dari netizen Indonesia. Jadi walau hanya perunggu, kiranya cukup untuk menjadi “oleh-oleh” pulang ke tanah air tercinta.

 

Sabtu, 21 Mei 2022

Berinovasi, Atau Rela Ditinggalkan



Barangkali memang sudah tabiatnya orang-orang zaman sekarang. Umumnya generasi saat ini adalah manusia yang cepat bosan. Dalam urusan apapun maunya selalu yang up date dan selalu mengikuti perkembangan. Kita amati apa yang ada dalam masyarakat kita hari ini. Semua berjalan dan berubah dengan cepat. Mereka yang tidak mampu membaca fenomena ini akan ditinggalkan. Kuncinya adalah selalu berinovasi.

Sebuah kafe yang didesain unik mendadak menjadi tempat nongkrong muda-mudi. Hampir setiap hari pengunjungnya membeludak. Mereka tidak sekadar mencari makan, tapi lebih dari itu, tempat yang nyaman. Ternyata semua berakhir dengan cepat. Kurang dari satu tahun kafe tersebut kini menjadi sepi pengunjung. Pengelola tidak melakukan inovasi sama sekali, sehingga para pelanggannya kini sudah jemu.

Sama halnya dengan banyaknya desa yang kini latah mengembangkan potensi wisata. Banyak yang membangun taman, tempat hiburan dan pusat kuliner. Semua akan berjalan sesaat. Ramai di awalnya dan kemudian menjadi sepi atau bahkan tidak dikunjungi lagi oleh masyarakat.

Mengapa produsen ponsel dalam setiap bulannya harus mengeluarkan tipe dan model yang baru. Semua karena tuntutan konsumen yang selalu menginginkan produk yang terbaru. Sama halnya dengan model baju. Terutama bagi kaum hawa, mereka selalu berburu barang-barang baru  yang belum ada padanannya. Mungkin ini menjadi semacam kebanggaan bila mereka memiliki sesuatu yang belum dimiliki oleh orang lain.

Isi memang penting, tapi kemasan juga tidak kalah pentingnya. Seperti beberapa contoh yang diuraikan di depan. Pada dasarnya orang selalun membutuhkan suasana dan penampilan yang baru. Jadi, kuncinya kita harus selalu terbuka untuk melakukan perubahan dan selalu berinovasi.

 

 

Jumat, 20 Mei 2022

SEPAK BOLA INDONESIA #3



Utak-atik mengapa sepak bola kita sulit meraih prestasi. Orang bilang, fisik pemain kita kurang ideal. Argumen pendapat ini, juara piala dunia di dominasi oleh negara-negara eropa yang memiliki fisik tinggi. Jerman, Italia, Inggris maupun Perancis seolah membuktikan bila fisik tinggi menjadi jaminan meraih gelar dalam dunia sepak bola.

Pendapat lain mengatakan. Sepak bola kita tidak bisa meraih prestasi karena makanan pemain kita kurang bergizi. Para pemain sepak bola profesional eropa biasa memakan makanan yang tinggi protein dan sedikit karbohidrat. Mereka mengonsumsi nutrisi yang tepat sehingga fisik mereka sangat kuat. Sedangkan pemain kita kurang disiplin dalam menjaga makan. Bagaimana bisa memiliki tenaga yang optimal bila yang dikonsumsi rendah nutrisi.

Lain lagi dengan pendapat yang satu ini. Sepak bola kita kurang maju karena mental pemain kita kurang kuat. Pemain kita mudah terprovokasi ketika bermain. Lihat saja liga sepak bola domestik. Sudah tidak terhitung berapa kali terjadi perkelahian dalam lapangan. Tidak hanya pemain bertarung melawan pemain. Bahkan wasit pemimpin pertandingan juga sering kena hajar karena dianggap tidak adil.

Bermain keras berbeda dengan bermain kasar. Kita melihat bagaimana kerasnya liga Inggris. Tapi mereka bermain dengan mental yang stabil sehingga sangat jarang terjadi perkelahian antar pemain, apalagi menyerang wasit. Karena mereka sadar itu pelanggaran yang berat.

Memang sangat rumit menelisik permasalahan yang menyebabkan kita tidak bisa meraih prestasi tinggi dalam sepak bola. Hal-hal yang diuraikan di atas mungkin saja ada benarnya. Meski juga kita bisa diklaim semua pasti benar. Satu hal yang mungkin bisa direnungkan mengapa sepak bola tidak bisa maju. Semua bangsa diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah, kelebihan kita bukan bermain bola….

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...