Rabu, 01 Juni 2022

KKN di Desa Penari, Cerita Horor yang Fenomenal



Tahun ini kita “dikejutkan” dengan rilisnya sebuah film yang mendapat atensi luar biasa dari para penggemar film dalam negeri. Film yang alur ceritanya diadopsi dari sebuah novel dengan judul “KKN di Desa Penari” memecahkan rekor jumlah penonton. KKN di Desa Penari menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan jumlah tiket yang terjual sedikitnya 7 juta penonton per 19 Mei 2022.

Lahirnya film ini berawal dari sebuah tulisan di Twitter. Sebuah akun anonim @SimpleMan mengunggah kisah horor yang kemudian menjadi viral dan menduduki peringkat pertama trending Twitter Indonesia. Besarnya antusias pembaca membuat cerita tersebut diangkat menjadi sebuah novel oleh penerbit “Bukune”.

Tidak cuma berhenti di novel, cerita horor tersebut akhirnya difilmkan juga. Menurut berita yang beredar film ini menghabiskan dana hingga 15 miliar. MD Pictures berhasil mendapatkan hak cipta untuk mengadaptasi cerita KKN di Desa Penari menjadi sebuah film. Penulis SimpleMan mempunyai beberapa persyaratan salah satunya adalah merahasiakan lokasi asli dan identitas aslinya di seluruh kegiatan produksi maupun pemasaran.

Karya sastra (cerita) KKN di Desa Penari mungkin telah melebihi ekspektasi penulisnya. Bila semua hanya berawal dari tulisan yang diungah di Twitter, dan kini menjadi film terlaris sepanjang masa tentu ini menjadi fenomenal. Seperti isi cerita yang penuh misteri, penulis cerita hingga kini juga tidak diketahui identitas aslinya secara umum.

KKN di Desa Penari selamanya akan menjadi karya sastra penuh misteri. Apakah cerita di dalamnya memang benar-benar terjadi, atau semuanya telah dibumbui dengan cerita-cerita fiksi. Yang pasti, ini mrupakan karya yang sukses menyedot perhatian masyarakat. Dari sudut pandang komersial, kisah KKN di Desa Penari telah menghasilkan keuntungan finansial yang besar. Terlebih bagi produser film, konon katanya meraih laba ratusan miliar dari proyek yang digarapnya.

 

 

 

Selasa, 31 Mei 2022

Menjadi Orang Jawa Separuhnya



Dulu kita tidak bisa memilih akan lahir dari rahim ibu yang mana, ayah siapa, atau menjadi orang (bangsa) apa. Menjadi orang Arab, China, Sunda atau Jawa bukanlah sebuah pilihan tapi sudah ketetapan yang tidak bisa kita hindari. Sama halnya dengan paras dan tubuh yang kita miliki. Apakah berkulit putih dan berhidung mancung atau berkulit gelap dan berambut ikal semua sudah menjadi kehendak yang Pencipta.

Pasti akan ada yang dilebihkan dan ada sisi kurangnya. Semua sudah menjadi bagian dari keadilan yang Maha Bijaksana. Dan tidak sepantasnya kita meragukan keadilan-Nya. Karena Dia Maha mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dan kewajiban kita selalu bersyukur atas semua pemberian (karunia) Allah.

Sebagai orang yang terlahir dari suku Jawa, saya tidak merasa lebih tinggi dari suku yang lain. Sebagaimana saya tidak merasa rendah dari yang lainnya. Pohon jati yang lebih tinggi dari pohon kelapa tidak serta-merta menunjukkan itu lebih baik. Pohon Jati memang diciptakan seperti itu, demikian pula pohon kelapa didesain semacam itu. Masing-masing memiliki manfaat dalam kehidupan.

Bila mungkin saya mengharap menjadi manusia Jawa sepenuhnya bukan separuhnya. Manusia Jawa yang mengerti budayanya, menjunjung tinggi leluhur dan memegang teguh nilai-nilai adabnya. Tapi dalam kenyataanya seringkali saya merasa masih menjadi manusia Jawa separuhnya atau setengahnya saja.

Apa yang tertinggal dari budaya leluhur kami. Bahasa Jawa juga tidak sepenuhnya mengerti dengan baik. Hanya bahasa kasar yang umum dalam pergaulan sehari-hari. Sementara menggunakan bahasa halus kami masih canggung dan kurang menguasai. Busana adat juga telah lama ditinggalkan. Memakainya hanya pada momen-momen tertentu. Itu hanya sebatas seremonmial belaka. Lengkap dalam kekurangan, manusia Jawa separuhnya.

 

 

 

 

Senin, 30 Mei 2022

Saatnya Meniti Jalan Baru, Muridku…



Alhamdulillah semua berjalan sesuai dengan rencana, dan bisa dikatakan acaranya sukses. Hari Sabtu tanggal 28 Mei 2022 kami melaksanakan Wisuda Bersama. Memang kegiatan kami dirancang dengan sederhana, tapi semua cukup puas dengan jalannya acara wisuda tahun ini. Lega rasanya, bagai pengobat rindu setelah dua tahun tidak melaksanakan acara wisuda.

Acara wisuda pada kesempatan kali ini terbagi menjadi dua bagian. Di sesi pertama merupakan acara hiburan atau pentas seni yang melibatkan siswa PAUD, RA dan MI. Meski statusnya hanya acara tambahan tapi cukup mendapat atensi dari wali murid. Sebagai ajang menunjukkan talenta siswa, pentas seni juga sebagai media “publisitas” kepada masyarakat.  Sesi pertama dimulai dari pukul 7.30 dan berakhir pada pukul 9.30 WIB.

Pada acara sesi kedua merupakan acara inti yaitu prosesi wisuda dan sambutan-sambutan. Sebenarnya lucu juga harus melakukan wisuda kepada anak-anak usia PAUD dan RA. Ada saja tingkah lucu mereka ketika dipanggil satu persatu untuk naik ke panggung. Tapi justru inilah seninya wisuda pada anak usia dini. Harapan kami, ini bukan hanya seremonial semata tapi ada nilai pendidikannya, dan pastinya ada kebanggan dari orang tua mereka.

Dalam acara wisuda PAUD, RA dan MI tahun ini kami memang tidak menghadirkan penceramah seperti edisi tahun-tahun sebelumnya. Alasannya sederhana. Wisuda yang dilaksanakan kali ini adalah wisuda pertama pasca pandemi. Masih terlalu riskan bila acara dikemas dengan menghadirkan banyak undangan. Pertimbangan yang kedua, kami ingin memberi porsi waktu yang lebih banyak kepada anak-anak didik untuk berkreasi dalam pentas seni.

Acara wisuda berakhir pada pukul 11.20 WIB. Bagian yang paling panjang dari acara ini tentunya adalah prosesi wisuda. Adapun sambutan hanya terdiri dari dua unsur saja yakni dari Kepala Madrasah dan dari Pengawas Madrasah. Pada akhir rangkaian acara ditutup dengan doa oleh Sesepuh Madrasah KH.Imanudin Thoha. Selamat meniti jalan baru, wahai murid-muridku…


 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...