Senin, 02 Februari 2026

Ketika Uang dan Waktu Tak Pernah Bertemu

 



Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai paradoks bahwa orang yang memiliki banyak uang justru tidak memiliki cukup waktu. Kesibukan mengejar karier, bisnis, dan ambisi materi membuat waktu mereka habis untuk bekerja. Di sisi lain, mereka yang memiliki banyak waktu luang sering kali tidak mempunyai uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Orang yang memiliki uang biasanya berada pada fase hidup yang penuh tuntutan. Tanggung jawab pekerjaan, target pencapaian, serta tekanan sosial membuat waktu menjadi sesuatu yang sangat mahal. Mereka rela menukar waktu bersama keluarga, kesehatan, bahkan kebahagiaan demi stabilitas finansial. Tanpa disadari, waktu yang terus berjalan tidak dapat dibeli kembali, seberapa pun banyaknya uang yang dimiliki.

Sebaliknya, orang yang memiliki banyak waktu sering kali berada pada kondisi ekonomi yang terbatas. Waktu luang yang mereka miliki tidak selalu bisa dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan modal dan kesempatan. Akibatnya, waktu yang seharusnya menjadi aset justru berlalu tanpa menghasilkan perubahan berarti. Hal ini menegaskan bahwa waktu saja tidak cukup tanpa dukungan sumber daya yang memadai.

Hidup pada dasarnya sangat singkat, namun manusia sering menyadarinya terlambat. Banyak orang menghabiskan masa muda untuk berjuang, bekerja keras, dan menunda menikmati hidup. Ketika kejayaan dan kemapanan akhirnya tercapai, usia sudah tidak lagi muda dan energi pun mulai berkurang. Pada titik ini, waktu menjadi jauh lebih berharga daripada uang.

Oleh karena itu, keseimbangan antara waktu dan uang menjadi hal yang penting dalam hidup. Kejayaan yang datang di usia tua seharusnya menjadi pelajaran agar manusia tidak hanya mengejar materi, tetapi juga menghargai waktu sejak dini. Dengan menata prioritas hidup secara bijak, seseorang dapat menikmati proses, bukan hanya hasil di akhir perjalanan. Hidup yang singkat akan terasa lebih bermakna jika waktu dan kesempatan dimanfaatkan dengan seimbang.

 

Kamis, 22 Januari 2026

Menghargai Waktu, Menghargai Kehidupan



Menggunakan waktu dengan baik merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Setiap orang diberi jatah waktu yang sama, tetapi hasil yang diperoleh berbeda-beda tergantung bagaimana waktu tersebut dimanfaatkan. Waktu terus berjalan tanpa jeda, tidak pernah menunggu siapa pun, dan tidak dapat dihentikan. Oleh karena itu, kesadaran akan nilai waktu perlu ditanamkan sejak dini agar hidup menjadi lebih terarah dan bermakna.

Waktu memiliki sifat yang unik karena sekali berlalu, ia tidak akan pernah kembali. Detik yang telah lewat tidak bisa diulang, sekeras apa pun usaha yang dilakukan. Banyak orang baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan itu hilang. Penyesalan pun sering muncul karena waktu yang terbuang tidak dapat diperbaiki lagi.

Kesempatan untuk memanfaatkan waktu juga tidak akan pernah terulang dengan kondisi yang sama. Setiap hari membawa peluang baru, tetapi peluang kemarin tidak akan datang kembali. Jika seseorang menunda-nunda pekerjaan, maka ia telah melepaskan kesempatan berharga dalam hidupnya. Oleh sebab itu, sikap disiplin dan tanggung jawab terhadap waktu sangat dibutuhkan.

Menggunakan waktu dengan baik berarti mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat. Belajar, bekerja, beribadah, dan berbuat kebaikan adalah contoh pemanfaatan waktu yang positif. Dengan perencanaan yang baik, waktu dapat digunakan secara efektif dan efisien. Hal ini akan membantu seseorang mencapai tujuan hidupnya dengan lebih optimal.

Kawanku, hal ini harus menjadi bahan refleksi kita. Waktu adalah anugerah yang sangat berharga dan tidak tergantikan. Karena waktu berjalan tanpa jeda dan tidak dapat diulang, setiap kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Orang yang bijak adalah mereka yang menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Dengan demikian, hidup akan lebih bermakna dan penuh pencapaian.

 

Senin, 12 Januari 2026

Pergaulan sebagai Kunci Kehidupan Sosial



Kita menyadari, manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan interaksi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, bergaul dalam masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan seimbang.

Bergaul dalam masyarakat memberikan banyak manfaat, seperti menambah pengalaman, memperluas wawasan, serta melatih kemampuan berkomunikasi. Melalui pergaulan, seseorang dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, budaya, dan kebiasaan orang lain. Selain itu, pergaulan juga mengajarkan nilai kerja sama, toleransi, dan empati yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebaliknya, menutup diri dari pergaulan bukanlah hal yang baik. Sikap tertutup dapat membuat seseorang merasa kesepian, sulit beradaptasi, dan kurang memahami lingkungan sekitarnya. Jika seseorang terlalu membatasi diri, ia akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman orang lain dan berpotensi mengalami kesulitan saat harus bekerja sama atau hidup berdampingan dengan masyarakat.

Memang harus diakui bahwa dalam pergaulan, manusia tidak luput dari kesalahan. Kesalahpahaman, konflik, atau sikap yang kurang menyenangkan bisa saja terjadi. Namun, kesalahan tersebut seharusnya dijadikan pelajaran untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk menjauh dari lingkungan sosial. Dengan sikap terbuka dan mau belajar, kesalahan dalam pergaulan dapat memperkuat kedewasaan seseorang.

Dengan demikian, bergaul dalam masyarakat merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Meskipun pergaulan tidak selalu berjalan sempurna dan penuh kesalahan, menutup diri bukanlah solusi yang tepat. Sikap terbuka, saling memahami, dan mau memperbaiki diri akan membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih baik serta mampu hidup harmonis dalam masyarakat.

Jumat, 02 Januari 2026

Menulis sebagai Seni: Identitas dalam Kata



Penulis dapat dipandang sebagai seorang seniman yang mengekspresikan gagasan, perasaan, dan pandangan hidup melalui kata-kata. Seperti halnya pelukis dengan kanvasnya atau pemusik dengan nadanya, penulis menggunakan bahasa sebagai medium utama untuk berkarya. Dalam proses kreatif ini, tulisan tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk seni yang mencerminkan kepekaan dan imajinasi penulisnya.

Setiap penulis memiliki keunikan yang membedakannya dari penulis lain. Keunikan tersebut tampak dalam pilihan kata, gaya bahasa, sudut pandang, hingga cara menyusun alur pemikiran. Karakteristik tulisan ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan terbentuk dari pengalaman hidup, latar belakang, serta cara penulis memandang dunia. Oleh karena itu, karya tulis sering kali menjadi cermin kepribadian penulisnya.

Sebagai seniman, penulis menyusun setiap karyanya dengan cermat dan teliti. Proses menulis melibatkan pemikiran mendalam, pengolahan ide, serta pertimbangan matang agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Ketelitian ini menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah proses kreatif yang membutuhkan kesabaran dan kesungguhan.

Karena disusun dengan penuh perhatian, selayaknya setiap tulisan memiliki keistimewaan tersendiri. Keistimewaan tersebut dapat berupa kekuatan emosi, kedalaman makna, atau keindahan bahasa yang digunakan. Tulisan yang istimewa mampu meninggalkan kesan, menggugah pikiran, bahkan mengubah cara pandang pembacanya terhadap suatu hal.

Dengan demikian, penulis memang layak disebut sebagai seniman. Keunikan karakter tulisan, proses penciptaan yang cermat, serta keistimewaan yang lahir dari setiap karya membuktikan bahwa menulis adalah sebuah bentuk seni. Melalui tulisan, penulis tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghadirkan karya yang bernilai dan bermakna bagi pembacanya.

 


Kamis, 18 Desember 2025

Menulis dalam Sunyi dan Kejenuhan

 



Semua tahu bila menulis menuntut ketekunan, kesabaran, dan kepekaan perasaan. Bagi seorang penulis, proses menuangkan gagasan ke dalam kata-kata bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya ide terasa mengalir dengan lancar, namun tidak jarang pula muncul rasa lelah yang mengendap perlahan.

Situasi sulit semakin terasa ketika tulisan yang dibuat serasa tiada guna. Dalam kondisi seperti ini, rasa jenuh kerap muncul dan membuat penulis mempertanyakan kembali makna dari proses menulis itu sendiri. Lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Kejenuhan yang dialami penulis sebenarnya merupakan hal yang manusiawi. Setiap individu memiliki batas ketahanan terhadap tekanan dan kekecewaan. Namun, jika rasa jenuh dibiarkan berlarut-larut, hal tersebut dapat mematikan kreativitas dan semangat berkarya. Oleh karena itu, penulis perlu menyadari bahwa lelah bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam dunia literasi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, semangat menjaga literasi harus tetap dipertahankan. Menulis bukan semata-mata tentang mendapatkan pengakuan, melainkan tentang menyuarakan pemikiran, menyimpan jejak peradaban, dan berbagi makna dengan sesama. Ketika seorang penulis terus bertahan, ia sedang ikut menjaga kehidupan literasi agar tetap bernapas di tengah perubahan zaman.

Meski memang berat, lelah menulis bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk menata kembali semangat baru. Seorang penulis yang mampu bangkit dari kejenuhan adalah penulis yang memahami nilai dari proses. Dengan keteguhan hati dan komitmen terhadap literasi, setiap tantangan dapat diubah menjadi kekuatan untuk terus berkarya dan memberi arti melalui tulisan.

 

Rabu, 10 Desember 2025

Ketika Musibah Menjadi Pengingat, Bukan Panggung Pencitraan

 



Bencana, dalam berbagai bentuknya, selalu menghadirkan duka serta kesadaran betapa lemahnya manusia di hadapan kekuatan sang Pencipta. Namun, di tengah kesedihan yang melanda, terdapat kecenderungan sebagian pihak menjadikan bencana sebagai panggung untuk meraih simpati atau popularitas. Tindakan semacam ini tidak hanya menciderai nilai kemanusiaan, tetapi juga mengaburkan makna sejati dari musibah itu sendiri. Bencana seharusnya tidak berubah menjadi arena pencitraan, melainkan momen untuk membangkitkan empati yang tulus.


Ketika bantuan dan perhatian diarahkan untuk kepentingan publikasi diri, esensi kepedulian menjadi kabur. Korban bencana bukanlah objek yang pantas diekspos demi keuntungan personal atau politik. Mereka adalah manusia yang membutuhkan pertolongan nyata, bukan sorotan kamera. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap tindakan solidaritas lahir dari hati yang ikhlas, bukan didorong oleh ambisi untuk mendapatkan pujian atau pengakuan.


Lebih dari sekadar penderitaan fisik, bencana seharusnya menjadi sarana refleksi bagi setiap individu maupun masyarakat. Musibah mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada di bawah kendali mereka. Ada kekuatan yang lebih besar yang dapat mengubah keadaan kapan saja. Dengan demikian, bencana dapat menjadi titik tolak untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan sosial, dan menata kembali cara kita memandang dunia serta peran kita di dalamnya.


Dalam perspektif agama kita, bencana sering dipahami sebagai peringatan agar manusia kembali menyadari kesalahan dan kekurangannya. Ketika banyak perbuatan zalim, ketidakadilan, dan kerusakan dilakukan tanpa rasa takut dan tanggung jawab, maka musibah menjadi momentum untuk memohon ampun dan memperbaiki moral. Memaknai bencana sebagai sarana taubat dan introspeksi jauh lebih bermakna dibanding menjadikannya alat mencari simpati belaka.


Oleh karena itu, menghadapi bencana membutuhkan sikap yang matang secara emosional dan spiritual. Bukan dengan memanfaatkannya sebagai ajang pencitraan, tetapi dengan menjadikannya pengingat untuk memperbaiki diri dan lingkungan sekitar. Jika setiap insan mampu memaknai musibah sebagai panggilan untuk berbenah, maka bencana akan melahirkan manusia yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kebenaran serta kemanusiaan.

Rabu, 03 Desember 2025

“Ketika Hutan Hancur, Banjir Datang: Siapa yang Bertanggung Jawab?”

 



BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah mencatat korban tewas dalam bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bertambah menjadi 659 orang.

Berdasarkan data BNPB yang ditampilkan dalam situs resmi mereka, jumlah korban hilang sebanyak 475 orang di tiga provinsi terdampak. Sementara itu korban luka-luka dalam bencana ini mencapai 2.600 orang. Jumlah warga terdampak banjir besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar tembus 3,2 juta jiwa. (Mengutip data dari CNN Indonesia Selasa (2/12)).

Bencana banjir di Sumatera adalah bencana nasional yang mengerikan sebagai akibat rusaknya hutan. Meski demikian, sampai saat ini belum ada pejabat atau perusahaan yang menyatakan bertanggungjawab atas kejadian memilukan ini. Inilah kebiasaan di negeri kita, tidak ada budaya kesatria kebanyakan sifatnya pengecut.

Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (al-baqarah 11). Itulah gambaran para perusak hutan di Indonesia. Mereka selalu bersilat lidah bahwa yang mereka lakukan tidak merusak.

Apa dampaknya bila mengaku bersalah?. Mengaku saja, paling hukumannya hanya ringan. Setelah itu Anda bisa menikmati hasil jarahan seumur hidup. Lima tahun penjara, tapi dijalani hanya setahun atau dua tahun. Lagi pula, penjaranya pasti memiliki fasilitas mewah, bisa jalan-jalan nonton konser. Please, mengakulah wahai para perusak, bertanggungjawablah…..

Selasa, 25 November 2025

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Apresiasi di Tengah Perjuangan

 



Frasa "Guru Hebat, Indonesia Kuat" merupakan tema peringatan hari guru tahun ini. Guru adalah ujung tombak peradaban, agen utama transfer ilmu, moral, dan karakter yang akan memimpin negara ini. Meskipun idealnya setiap guru harus mencapai standar kehebatan tertinggi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendidik masih berjuang menghadapi berbagai tantangan sistemik.

Harus diakui, perjalanan menuju predikat "Guru Hebat" secara kolektif masih panjang. Banyak pendidik menghadapi masalah kesejahteraan, terutama guru honorer di daerah. Selain itu, kesenjangan infrastruktur dan akses pelatihan berkualitas antara daerah perkotaan dan pelosok juga menjadi hambatan nyata. Kondisi ini menciptakan situasi di mana kegigihan seorang guru sering kali harus diukur bukan hanya dari kualitas materi yang disampaikan, tetapi dari kemampuan mereka untuk bertahan dan beradaptasi di tengah sistem yang belum sepenuhnya mendukung.

Namun, mengabaikan perjuangan mereka adalah kesalahan fatal. Apresiasi harus diberikan kepada guru-guru yang, terlepas dari segala keterbatasan, tetap berdiri tegak di kelas demi mencerdaskan anak bangsa. Mereka adalah pahlawan yang rela mengajar dengan fasilitas seadanya bahkan berjalan kaki menyeberangi sungai atau menempuh jarak jauh hanya untuk memastikan satu generasi mendapatkan haknya atas ilmu.

Sudah saatnya pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan perlu bersinergi untuk memastikan setiap pendidik mendapatkan dukungan psikologis dan material yang memadai. Kekuatan Indonesia tidak diukur hanya dari kemajuan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata, tetapi dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibentuk di ruang-ruang kelas. Apresiasi terhadap perjuangan ini adalah langkah awal menuju perubahan. Dengan mengakui pengorbanan mereka hari ini dan memberikan dukungan sistemik yang lebih baik di masa depan, kita bersama-sama membuka jalan bagi terwujudnya "Guru Hebat" yang sesungguhnya, menjadikan Indonesia bangsa yang benar-benar kuat dan berdaya saing global.

 

Sabtu, 15 November 2025

Hikmah di Balik Hujan yang Berlimpah

 


Musim hujan, dengan curahnya yang tak terduga dan intensitas yang berlimpah, seringkali menjadi subjek keluh kesah. Ketidaknyamanan akibat kemacetan, risiko banjir, atau terganggunya aktivitas harian membuat banyak orang memandang fenomena alam ini sebagai gangguan, alih-alih anugerah Allah. Namun, cara pandang ini perlu direvisi. Dalam menghadapi siklus alam yang ekstrem, adalah penting bagi kita untuk menahan diri dari mengeluh.

Sikap mengeluh seringkali muncul karena fokus yang sempit pada dampak pribadi, padahal musim hujan yang berlimpah memiliki peran vital dalam skala ekologis. Curah hujan yang tinggi adalah mekanisme penting yang dirancang bumi untuk mengisi kembali cadangan air tanah, menstabilkan ekosistem, dan mencegah bencana kekeringan di masa depan. Jika kita memandang ketidaknyamanan sesaat akibat genangan air sebagai pengorbanan kecil untuk menjamin pasokan air bersih bagi jutaan orang dan kelangsungan pertanian di musim kemarau, maka keluhan akan terasa sia-sia.

Hikmah pertama dan paling nyata dari hujan lebat adalah manfaatnya bagi sektor agrikultural dan keberlanjutan. Air adalah sumber kehidupan, dan pasokan yang melimpah menjamin kesuburan tanah, mendukung panen yang sehat, serta menopang keanekaragaman hayati. Musim hujan memastikan roda ekonomi berbasis pangan dapat terus berputar. Menerima limpahan ini berarti mengakui bahwa kemakmuran dan ketahanan pangan adalah hasil langsung dari curahan air yang kadang terasa terlalu banyak.

Lebih dari sekadar manfaat fisik, musim hujan juga membawa hikmah filosofis tentang ketahanan dan adaptasi diri. Tantangan yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem, seperti kebutuhan untuk bersiap menghadapi potensi bencana atau menavigasi kesulitan transportasi, memaksa kita untuk menjadi manusia yang lebih proaktif dan terencana. Alam mengajarkan kesabaran, kedisiplinan dalam membersihkan saluran air, dan inovasi dalam mencari solusi. Musim ekstrem bukanlah hukuman, melainkan ujian bagi karakter dan kreativitas manusia untuk beradaptasi, berbenah, dan bangkit setelah badai berlalu.

Sebagai ulasan akhir, musim hujan yang berlimpah adalah berkah yang disamarkan sebagai kesulitan. Dengan menanggapi musim ekstrem tanpa keluhan, kita menunjukkan rasa syukur dan kedewasaan dalam melihat realitas. Hikmah terbesar yang bisa kita petik adalah menyadari bahwa alam tidak pernah melakukan kesalahan; di balik setiap tantangan terdapat keseimbangan yang sempurna.

 

 


Jumat, 07 November 2025

Ketika Makanan Olahan Mengalahkan Sayur

 



Di tengah gempuran produk instan dan jajanan pinggir jalan, pola makan anak-anak usia sekolah kini semakin bergeser ke arah yang mengkhawatirkan. Makanan olahan tinggi garam dan lemak, seperti sosis kemasan, snack gurih, dan hidangan pedas musiman seperti seblak, telah mendominasi piring mereka. Pergeseran selera ini bukan hanya masalah preferensi sesaat, namun sebuah ancaman serius terhadap fondasi gizi dan kesehatan jangka panjang generasi muda Indonesia.

Tingginya popularitas makanan olahan dan jajanan instan di kalangan anak-anak memiliki alasan yang jelas. Produk-produk ini dirancang untuk memiliki rasa yang sangat kuat, seringkali melalui penggunaan MSG, pemanis buatan, dan garam berlebihan sehingga jauh lebih adiktif bagi lidah dibandingkan rasa alami sayur atau buah. Selain itu, faktor kemudahan akses dan harga yang terjangkau semakin memperkuat dominasi makanan yang cenderung minim serat, vitamin, dan mineral ini.

Pengamatan paling nyata dari krisis preferensi ini terlihat ketika program gizi sekolah seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan. Seringkali, sayuran sehat yang disertakan dalam menu justru menjadi bagian yang paling banyak tersisa dan terbuang. Anak-anak yang terbiasa dengan rasa gurih dan tajam dari snack atau sosis, cenderung menolak tekstur dan rasa alami sayuran seperti bayam atau wortel. Fenomena penolakan terhadap sayur ini mengindikasikan bahwa masalah bukan hanya terletak pada ketersediaan makanan sehat, tetapi pada kegagalan dalam membentuk kebiasaan terhadap variasi rasa sehat sejak dini.

Dampak dari pola makan yang timpang ini sangat signifikan. Secara fisik, konsumsi tinggi garam, lemak trans, dan gula meningkatkan risiko tinggi di usia muda. Secara kognitif, kurangnya asupan vitamin dan mineral penting (seperti zat besi dan asam folat) dapat menurunkan fokus, daya tahan tubuh, dan performa akademik di sekolah. Oleh karena itu, langkah preventif harus melibatkan berbagai pihak. Peran sentral ada pada keluarga, yang harus memperkenalkan makanan segar dan memasak di rumah sebagai norma.

Pada akhirnya, kegemaran anak-anak terhadap makanan olahan yang kurang gizi adalah alarm yang harus segera ditanggapi. Menangani masalah ini bukan hanya tentang memaksakan sayuran di piring mereka, melainkan tentang upaya kolektif untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gizi seimbang mulai dari dapur rumah tangga hingga kantin sekolah.

 

Selasa, 28 Oktober 2025

Sumpah Pemuda dan Tantangan Nasionalisme Kontemporer

 



Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 merupakan monumen sejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif sebagai bangsa Indonesia. Di tengah keberagaman suku, agama, dan bahasa, para pemuda pada masa itu berani mendeklarasikan tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.

Ikrar heroik ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam pergerakan kemerdekaan, tetapi juga meletakkan fondasi identitas nasional yang melampaui sekat-sekat kedaerahan. Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya perubahan global, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana semangat persatuan dan nasionalisme itu masih terwarisi dalam jiwa generasi muda hari ini?

Esensi utama dari Sumpah Pemuda adalah kemampuan para pemuda untuk mengenyampingkan kepentingan golongan demi cita-cita yang lebih besar, yakni Indonesia merdeka. Mereka menunjukkan solidaritas yang luar biasa, di mana pengorbanan waktu, tenaga, dan risiko politik diambil demi masa depan bersama. Mereka sadar bahwa kemerdekaan tidak dapat dicapai melalui perjuangan individu, melainkan melalui sinergi kekuatan dari Sabang sampai Merauke, menjadikan persatuan sebagai modal utama melawan penjajahan.

Sayangnya, pemuda hari ini seringkali dinilai menunjukkan gejala kemerosotan nasionalisme. Dalam arus deras globalisasi dan informasi, perhatian generasi baru cenderung terfragmentasi dan teralihkan ke ranah yang lebih pribadi. Prioritas beralih pada urusan diri sendiri, mengejar karir, kesuksesan finansial, atau popularitas pribadi, yang seringkali mengesampingkan kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan kemanusiaan yang lebih luas.

Selain kurangnya kepedulian terhadap isu kolektif, tantangan lain yang dihadapi adalah erosi karakter yang kuat. Karakter yang kokoh mencakup integritas, disiplin, etos kerja, dan daya juang yang tinggi. Sumpah Pemuda lahir dari pemuda yang berkarakter teguh dan berani mengambil risiko. Kontrasnya, pemuda kontemporer sering dihadapkan pada godaan untuk mencari jalan pintas, menghindari proses sulit, atau terjerumus dalam budaya instan yang melemahkan ketahanan mental. Tanpa karakter yang kuat, mustahil bagi generasi muda untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dan mampu memajukan bangsa.

Maka, merefleksikan Sumpah Pemuda di era modern bukan hanya sekadar mengenang, tetapi menuntut tindakan nyata untuk merevitalisasi nilai-nilai luhurnya. Pemuda harus kembali pada kesadaran bahwa mereka adalah pewaris sekaligus penentu masa depan bangsa. Dengan menumbuhkan kembali semangat persatuan, mengurangi ego sektoral, dan membangun karakter yang tangguh, barulah generasi muda dapat membuktikan bahwa mereka layak mewarisi dan melanjutkan cita-cita luhur para pendahulu yang telah berikrar pada tahun 1928.

 

Ketika Uang dan Waktu Tak Pernah Bertemu

  Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai paradoks bahwa orang yang memiliki banyak uang justru tidak memiliki cukup waktu. Kesibu...