Kamis, 18 Desember 2025

Menulis dalam Sunyi dan Kejenuhan

 



Semua tahu bila menulis menuntut ketekunan, kesabaran, dan kepekaan perasaan. Bagi seorang penulis, proses menuangkan gagasan ke dalam kata-kata bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya ide terasa mengalir dengan lancar, namun tidak jarang pula muncul rasa lelah yang mengendap perlahan.

Situasi sulit semakin terasa ketika tulisan yang dibuat serasa tiada guna. Dalam kondisi seperti ini, rasa jenuh kerap muncul dan membuat penulis mempertanyakan kembali makna dari proses menulis itu sendiri. Lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Kejenuhan yang dialami penulis sebenarnya merupakan hal yang manusiawi. Setiap individu memiliki batas ketahanan terhadap tekanan dan kekecewaan. Namun, jika rasa jenuh dibiarkan berlarut-larut, hal tersebut dapat mematikan kreativitas dan semangat berkarya. Oleh karena itu, penulis perlu menyadari bahwa lelah bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam dunia literasi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, semangat menjaga literasi harus tetap dipertahankan. Menulis bukan semata-mata tentang mendapatkan pengakuan, melainkan tentang menyuarakan pemikiran, menyimpan jejak peradaban, dan berbagi makna dengan sesama. Ketika seorang penulis terus bertahan, ia sedang ikut menjaga kehidupan literasi agar tetap bernapas di tengah perubahan zaman.

Meski memang berat, lelah menulis bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk menata kembali semangat baru. Seorang penulis yang mampu bangkit dari kejenuhan adalah penulis yang memahami nilai dari proses. Dengan keteguhan hati dan komitmen terhadap literasi, setiap tantangan dapat diubah menjadi kekuatan untuk terus berkarya dan memberi arti melalui tulisan.

 

Rabu, 10 Desember 2025

Ketika Musibah Menjadi Pengingat, Bukan Panggung Pencitraan

 



Bencana, dalam berbagai bentuknya, selalu menghadirkan duka serta kesadaran betapa lemahnya manusia di hadapan kekuatan sang Pencipta. Namun, di tengah kesedihan yang melanda, terdapat kecenderungan sebagian pihak menjadikan bencana sebagai panggung untuk meraih simpati atau popularitas. Tindakan semacam ini tidak hanya menciderai nilai kemanusiaan, tetapi juga mengaburkan makna sejati dari musibah itu sendiri. Bencana seharusnya tidak berubah menjadi arena pencitraan, melainkan momen untuk membangkitkan empati yang tulus.


Ketika bantuan dan perhatian diarahkan untuk kepentingan publikasi diri, esensi kepedulian menjadi kabur. Korban bencana bukanlah objek yang pantas diekspos demi keuntungan personal atau politik. Mereka adalah manusia yang membutuhkan pertolongan nyata, bukan sorotan kamera. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap tindakan solidaritas lahir dari hati yang ikhlas, bukan didorong oleh ambisi untuk mendapatkan pujian atau pengakuan.


Lebih dari sekadar penderitaan fisik, bencana seharusnya menjadi sarana refleksi bagi setiap individu maupun masyarakat. Musibah mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada di bawah kendali mereka. Ada kekuatan yang lebih besar yang dapat mengubah keadaan kapan saja. Dengan demikian, bencana dapat menjadi titik tolak untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan sosial, dan menata kembali cara kita memandang dunia serta peran kita di dalamnya.


Dalam perspektif agama kita, bencana sering dipahami sebagai peringatan agar manusia kembali menyadari kesalahan dan kekurangannya. Ketika banyak perbuatan zalim, ketidakadilan, dan kerusakan dilakukan tanpa rasa takut dan tanggung jawab, maka musibah menjadi momentum untuk memohon ampun dan memperbaiki moral. Memaknai bencana sebagai sarana taubat dan introspeksi jauh lebih bermakna dibanding menjadikannya alat mencari simpati belaka.


Oleh karena itu, menghadapi bencana membutuhkan sikap yang matang secara emosional dan spiritual. Bukan dengan memanfaatkannya sebagai ajang pencitraan, tetapi dengan menjadikannya pengingat untuk memperbaiki diri dan lingkungan sekitar. Jika setiap insan mampu memaknai musibah sebagai panggilan untuk berbenah, maka bencana akan melahirkan manusia yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kebenaran serta kemanusiaan.

Rabu, 03 Desember 2025

“Ketika Hutan Hancur, Banjir Datang: Siapa yang Bertanggung Jawab?”

 



BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah mencatat korban tewas dalam bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bertambah menjadi 659 orang.

Berdasarkan data BNPB yang ditampilkan dalam situs resmi mereka, jumlah korban hilang sebanyak 475 orang di tiga provinsi terdampak. Sementara itu korban luka-luka dalam bencana ini mencapai 2.600 orang. Jumlah warga terdampak banjir besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar tembus 3,2 juta jiwa. (Mengutip data dari CNN Indonesia Selasa (2/12)).

Bencana banjir di Sumatera adalah bencana nasional yang mengerikan sebagai akibat rusaknya hutan. Meski demikian, sampai saat ini belum ada pejabat atau perusahaan yang menyatakan bertanggungjawab atas kejadian memilukan ini. Inilah kebiasaan di negeri kita, tidak ada budaya kesatria kebanyakan sifatnya pengecut.

Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (al-baqarah 11). Itulah gambaran para perusak hutan di Indonesia. Mereka selalu bersilat lidah bahwa yang mereka lakukan tidak merusak.

Apa dampaknya bila mengaku bersalah?. Mengaku saja, paling hukumannya hanya ringan. Setelah itu Anda bisa menikmati hasil jarahan seumur hidup. Lima tahun penjara, tapi dijalani hanya setahun atau dua tahun. Lagi pula, penjaranya pasti memiliki fasilitas mewah, bisa jalan-jalan nonton konser. Please, mengakulah wahai para perusak, bertanggungjawablah…..

Ketika Uang dan Waktu Tak Pernah Bertemu

  Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai paradoks bahwa orang yang memiliki banyak uang justru tidak memiliki cukup waktu. Kesibu...