Senin, 20 April 2026

“Diam sebagai Strategi: Pelajaran dari Gaya Komunikasi Pemimpin”



Bagi generasi yang mengalami zaman Orde Baru pasti masih ingat ada seorang menteri yang menjadi favorit presiden pada waktu itu. Ia berkali-kali dipilih pada kedudukan yang sama yakni Menteri Sekretaris negara, Murdiono. Yang menjadi khas dari Bapak Murdiono adalah gayanya yang kalem. Ketika diwawancarai oleh wartawan kata-katanya pelan terbata-bata, seakan sedang berpikir keras mencari jawaban dari pertanyaan yang disampaikan wartawan.

Dulu banyak yang heran mengapa orang yang komunikasinya “kurang lancar” justru dijadikan sebagai menteri yang sering memberi keterangan pada masyarakat. Seakan ini menjadi paradoks. Logikanya tentu sederhana, semakin bagus komunikasi seseorang akan semakin cepat dan tepat tersampikan hal-hal penting ke masyarakat.

Namun bila kita analisis ternyata presiden yang memilih model menteri seperti ini memang seorang pemimpin yang hebat. Itu adalah pilihan strategis. Filosofinya, semakin sedikit orang mengetahui tentang kita maka sebenarnya itu sangat bagus. Pemerintah pada waktu itu sangat memahami bahwa banyak rahasia negara yang tidak boleh diumbar. Makanya menteri yang dipilih untuk memberikan penjelasan justru dipilih yang paling irit “suaranya”.

Apabila dua orang sedang bercakap-cakap, maka yang banyak bicaranya sebenarnya sedang membuka banyak rahasia. Sedangkan yang memilih mendengar artinya dia mampu menjaga dan menutup sisi-sisi informasi penting yang dia miliki. Yang menguasai informasi tentang lawan bicaranya hakikatnya dialah yang lebih unggul.

Kurang lebih begitu gambaran mengapa sesorang harus mampu mengontrol bicaranya. Jangan banyak bicara, lebih baik kita banyak mendengar. Seperti kata orang, mulut kita satu, sementara telinga kita dua. Maknanya kita harus banyak mendengar daripada banyak bicara.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Diam sebagai Strategi: Pelajaran dari Gaya Komunikasi Pemimpin”

Bagi generasi yang mengalami zaman Orde Baru pasti masih ingat ada seorang menteri yang menjadi favorit presiden pada waktu itu. Ia berkal...