Bagi generasi yang mengalami
zaman Orde Baru pasti masih ingat ada seorang menteri yang menjadi favorit
presiden pada waktu itu. Ia berkali-kali dipilih pada kedudukan yang sama yakni
Menteri Sekretaris negara, Murdiono. Yang menjadi khas dari Bapak Murdiono
adalah gayanya yang kalem. Ketika diwawancarai oleh wartawan kata-katanya pelan
terbata-bata, seakan sedang berpikir keras mencari jawaban dari pertanyaan yang
disampaikan wartawan.
Dulu banyak yang
heran mengapa orang yang komunikasinya “kurang lancar” justru dijadikan sebagai
menteri yang sering memberi keterangan pada masyarakat. Seakan ini menjadi
paradoks. Logikanya tentu sederhana, semakin bagus komunikasi seseorang akan semakin
cepat dan tepat tersampikan hal-hal penting ke masyarakat.
Namun bila kita analisis
ternyata presiden yang memilih model menteri seperti ini memang seorang
pemimpin yang hebat. Itu adalah pilihan strategis. Filosofinya, semakin sedikit
orang mengetahui tentang kita maka sebenarnya itu sangat bagus. Pemerintah pada
waktu itu sangat memahami bahwa banyak rahasia negara yang tidak boleh diumbar.
Makanya menteri yang dipilih untuk memberikan penjelasan justru dipilih yang
paling irit “suaranya”.
Apabila dua orang sedang
bercakap-cakap, maka yang banyak bicaranya sebenarnya sedang membuka banyak
rahasia. Sedangkan yang memilih mendengar artinya dia mampu menjaga dan menutup
sisi-sisi informasi penting yang dia miliki. Yang menguasai informasi tentang
lawan bicaranya hakikatnya dialah yang lebih unggul.
Kurang lebih begitu
gambaran mengapa sesorang harus mampu mengontrol bicaranya. Jangan banyak
bicara, lebih baik kita banyak mendengar. Seperti kata orang, mulut kita satu,
sementara telinga kita dua. Maknanya kita harus banyak mendengar daripada
banyak bicara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar