Sabtu, 05 September 2020

SIARAN JEJARING SOSIAL DIGUGAT?


PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan PT Visi Citra Mitra Mulia (Inews TV) mengajukan permohonan uji materil Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ke Mahkamah Konstitusi (MK). Jika dikabulkan MK, maka siaran langsung pada platform media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram dan lainnya bisa dilarang karena harus lebih dulu memiliki izin penyiaran.

(Banjarmasin Post, Sabtu 5 September 2020)

Begitu berita aktual yang menyebutkan bahwa dua tv swasta nasional telah melayangkan gugatan ke MK perihal izin bagi para izin penyiaran pengguna platform You Tube, Facebook, Instagram dan lainnya. Rupanya pihak tv swasta nasional merasa dirugikan dengan bebasnya mayarakat menggunakan jejaring sosial  sebagai sarana siaran komersial. Stasiun tv swasta merasa Undang-undang penyiaran dirasa tidak adil. Argumentasinya, untuk mendirikan tv swasta nasional tentu mengeluarkan investasi yang sangat besar. Biaya operasional pun tidak bisa dibilang murah. Sementara pihak lain para YouTubers dan pengguna platform jejaring dengan leluasa membuat konten dan menyiarkannya tanpa adanya keharusan memiliki izin siaran.

Coba kita analisa, misalkan saja tv swasta versus You Tube. Kira-kira lebih banyak mana penontonnya saat ini ? Sepertinya dalam waktu yang tidak lama lagi You Tube akan jadi pemenangnya. Mengapa itu terjadi?.. Karena acara yang “dijual” kalah bersaing dengan menu lengkap di You Tube. Cepat atau lambat acara tv memang akan ditinggalkan oleh penontonnya. Karena yang disajikan dari dulu sampai saat ini cenderung monoton. Itu-itu saja isinya. Acara gosip para selebriti, sinetron melankolis istri setia yang didzolimi suaminya. Atau, acara pentas dangdut dan yang sejenis dengan semua itu.

Ketika tv sudah sepi penonton sudah pasti akan berdampak pada sedikitnya iklan yang diperoleh. Tentu semua ini sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup stasiun tv yang pendapatan terbesarnya bersumber dari iklan. Secara finansial stasiun tv swasta mengalami kerugian yang signifikan. Kita bisa lihat saat ini, betapa banyak produk-produk yang iklannya membanjiri platform You Tube.

Menarik ditunggu kira-kira apa keputusan MK nanti. Apakah mengabulkan atau justru sebaliknya. Tetap memberi keleluasaan masyarakat menggunakan jejaring sosial sebagai sarana siaran. Meskipun sebenarnya kita yakin amat sulit sebenarnya membatasi media sosial. Seandainya saja siaran lewat media sosial harus memakai izin, bagaimana dengan siaran You Tube, Istagram, Tweeter atau Facebook dari luar Indonesia yang masuk negeri kita? Bagaimana cara membatasinya? Sepertinya, satu-satunya cara harus memblokir semua media sosial.

 

Jumat, 04 September 2020

IDE MENULIS ITU TIDAK TERBATAS

 


Akan selalu ada ide untuk menulis. Karena satu tema bisa menjadi berbagai macam pembahasan. Topik "Jangan Blendrang" buktinya. Sebuah tema unik yang ternyata melahirkan sudut pandang yang berbeda dari para penulis. Blendrang bisa dilihat dari sudut kuliner yang banyak penggemarnya. Blendrang diulas dari segi pengaruhnya bagi kesehatan. Ada juga yang membahas Blendrang dari sisi tradisi masyarakat. Dan, ada yang menguraikan pengalaman masa kecil yang berhubungan dengan Blendrang atau segi lain yang menarik lainnya.

Secara “hardware” memang otak kita sama. Latar belakang pendidikan, pengalaman maupun lingkungan menjadikan sudut pandang kita menjadi berbeda-beda. Penulis memandang hal yang sama tetapi masing-masing memiliki imajinasi yang beda, itulah kekuatan cara pikir. Dan potensi ini adalah alamiah, tergantung bagaimana kita memaksimalkan dengan berlatih.

Gagasan yang kita tulis di Blogger, Facebook, Tweeter atau jejaring sosial lainnya bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Kita hanya menyajikannya dengan interpretasi penalaran kita. Demikian halnya dengan uraian kita tentang sebuah topik. Tidak semuanya murni buah pikiran kita. Pasti ada pengaruh dari buku yang kita baca, peristiwa yang kita amati maupun pandangan orang lain saat kita berdiskusi dengannya.

Ide-ide sederhana terkadang menjadi karya yang luar biasa. Seorang ibu rumah tangga karena terdorong rasa prihatin melihat anak-anak mengonsumsi jajanan yang tidak sehat akhirnya tergerak menulis di Blogger resep-resep makanan dan jajanan yang sehat. Dia menjelaskan pula secara detail bahan-bahan yang diperlukan serta cara membuatnya. Sekaligus menambahkan photo-photo cantik makanan tadi. Dan.... dalam tempo yang tidak terlalu lama blognya dikunjungi banyak pembaca. Selanjutnya tulisan di blognya dishare oleh banyak pembaca yang menilai isinya memang banyak manfaatnya. Sampai suatu saat ketika kumpulan tulisanya di blog disunting menjadi sebuah buku. Hasilnya, buku karya ibu rumah tangga tadi best seller.. (begitu saya baca testimoni di Bloggernya).

Dinamika ini yang menjadikan kita tidak  akan pernah bosan membaca atau menulis sebuah ide. Akan selalu ada perspektif yang beda. Sesuatu yang biasa menurut kita, bisa jadi menjadi hal baru bagi orang lain. Tidak perlu skeptis dengan ide yang biasa. Hal yang terpenting bukan konten melainkan konteks. Yang terpenting bukan apa yang anda tulis, tetapi bagaimana anda menulisnya.

Rabu, 02 September 2020

(MASIH) RAGU MENULIS

 



Sering kita mengalami keraguan ketika hendak menulis. Ragu memilih tema apa yang sesuai dan menarik. Ragu apa tulisan kita sudah baik dan layak untuk dibaca dan keraguan-keraguan yang lain. Memilih tema yang tepat dan menarik pembaca memang tidak mudah. Tentu kita hanya akan menulis suatu bidang yang kita kuasai. Terkadang kita memilih realitas di sekitar kita, kejadian sehari-hari, pengalaman hidup kita atau gagasan kita yang bisa dituangkan menjadi sebuah tulisan. Hal-hal sederhana keseharian kita menjadi pilihan terakhir ketika kita tidak mau repot-repot membuat tulisan yang “njlimet” dan membutuhkan waktu untuk berpikir. Atau harus sibuk mengumpulkan literatur yang sesuai. Yang terpenting tulisan yang disajikan dapat tuntas dan mampu menyampaikan bahan secara lengkap kepada pembaca. Jelas, memulai menulis lebih baik daripada menunda menulis dengan alasan apapun. Keterbatasan kecakapan seseorang bukan dalih yang bisa membenarkan kita tidak mau menulis. Masih sangat banyak preferensi yang bisa kita pilih yang membawa manfaat.

Menulis berarti membangun kepercayaan diri. Dengan terus menulis menjadikan pikiran buruk, lemah dan kurang percaya diri akan terkikis. Kita sedang membangun kekuatan pikiran yang menafikan semua anggapan buruk kita hanyalah sebuah mitos. Tindakan (menulis) yang terus kita ulang akan menjadi sebuah kebiasaan baru.

Untuk dapat menguasai sebuah topik bahasan, dapat dilakukan dengan banyak membaca. Konsep-konsep menulis dan menguraikan permasalahan perlu dipelajari terus-menerus. Membaca adalah mengumpulkan bahan untuk ditulis, diibaratkan dengan penjual yang sedang belanja stok barang. Tentu untuk menjual barang, pedagang mutlak mencari segala macam jenis dagangan terlebih dahulu. Dengan sering membaca kita jadi mengetahui model-model tulisan yang dapat ditiru. Gaya bahasa penulis-penulis yang sudah kita kenal karyanya sejak dulu. Mengetahui bukan untuk meniru sepenuhnya. Hanya sebatas rujukan belajar kita.

Keraguan dan ketakutan kita memulai menulis sebenarnya tidak beralasan. Semua memiliki bakat menulis yang masih tersembunyi, belum nampak. Ide, buah pikiran dan imajinasi itu luas tidak terbatas. Dengan memulai semua akan terasah dan terampil pada waktunya. Yang dibutuhkan adalah kesabaran dalam melalui proses belajar yang panjang.

Ketika kita sudah berhasil mengalahkan keraguan dan mulai membangun keberanian menulis, di saat itulah kita mampu mengendalikan pikiran kita. Kita mampu mengesampingkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran-pikiran positif. Template kepala kita sudah ada “ruang khusus” untuk menampung ide dan menuangkan dalam tulisan-tulisan. Kita akan terbiasa berpikir kritis. Selalu berusaha melihat dunia dari sisi yang lain. Jangan ragu lagi, mari menulis, karena nanti di masa yang akan datang orang akan mengenangmu, ada jejak yang tertinggal sebagai bukti kita pernah ada. Menulislah, karena menulis menjadi simpanan kebaikan kita bagi generasi kemudian.

Selasa, 01 September 2020

MENULIS DAN SIKAP JUJUR



Apa korelasi menulis dengan kejujuran seseorang…?

Dengan menulis kita dapat mengungkapkan isi hati kita dengan baik. Menulis juga dapat meluapkan suara hati dengan lepas. Dengan mengungkapkan segala sesuatu yang menyumbat dalam hati, dapat membantu jiwa kita sendiri untuk tidak terlalu terhimpit persoalan yang sedang dihadapi. Hal ini tentu dapat membuat hati dan pikiran kita menjadi terasa lebih lapang dan menentramkan karena kita berani menungkapkan tentang segala beban yang kita rasakan. Seperti halnya dulu yang dilakukan para remaja. Mereka memiliki diary, setiap hari dengan jujur menceritakan segala peristiwa yang dialaminya. Sesuatu yang sulit terungkap lewat lisan namun dengan menulis dia bisa jujur tentang semuanya. Bahkan sesuatu yang tidak bisa dia sampaikan kepada orang tua maupun teman terdekatnya sekalipun. 

Menulis adalah ekspresi kejujuran menjadi diri kita sendiri. Karena dengan menulis kita jujur tentang gagasan kita. Kita bebas untuk dapat berekspresi, mengungkapkan apa yang kita cita-citakan, apa yang kita idamkan tanpa harus terganggu dengan pendapat orang lain. Kita mempunyai sikap yang jelas tentang suatu perkara. Dan orang lain akan menjadi mengerti tentang sikap dan pendirian kita. Hasil karya tulis seseorang tentu menjadi cermin bagaimana karakter dari penulis tersebut. Pembaca akan mampu memahami apakah penulis seorang yang idealis yang memiliki konsep besar dan optimis yang tidak mudah menyerah maupun pesimis dengan situasi yang dihadapinya. 

Sering kali kita mendengar orang berkata. “Dengan menceritakan masalah sedikit mengurangi beban”. Orang yang terlalu sering memendam permasalahanya yang dihadapinya di dalam dirinya cenderung akan mengalami tekanan mental. Memendam suatu permasalahan tanpa mengungkapkanya itu akan menjadikan seseorang terganggu psikisnya dan dapat berisiko bagi kesehatan jiwa dan raga. Tentu saja dengan menulis kita dapat terbantu dalam hal menyampaikan semua permasalahan yang ada, dibandingkan hanya menyimpanya sendiri. Kegiatan menulis mampu mendatangkan kepuasan batin. Barangkali saja, dengan menulis mampu membantu orang lain dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya. Memberikan energi positif untuk terus tegar dan mampu keluar dari belitan persoalan hidup. 

Menulis dengan jujur akan mempunyai kepercayaan diri yang lebih baik. Hal ini tentu karena mereka sudah terbiasa untuk dapat mengungkapkan suatu hal yang ada di dalam dirinya melalui sebuah tulisan. Proses menulis sendiri dapat mengasah daya nalar dan daya ingat seseorang. Kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan memperbanyak menulis dan memperbanyak wawasan yang kita miliki. 

Menulis dan kejujuran sebenarnya sudah sering kita terapkan dalam dunia pendidikan. Tugas menulis terhadap siswa kita untuk membuat karangan sederhana tentang mengisi liburan sekolah misalnya. Siswa sudah dibiasakan mendeskripsikan aktivitasnya dengan jujur dan apa adanya. Melahirkan cerita nyata dalam rangkaian kalimat sesuai pengalaman nyata adalah melatih kejujuran.

 

 

 

Ujian Kelayakan Sang Garuda di Piala AFF

  Malam ini, perhatian publik sepak bola tanah air kembali tertuju pada laga krusial antara tim nasional Indonesia melawan Vietnam dalam a...