Selasa, 16 Februari 2021

MENDADAK VIRAL

 



Seorang penjual kopi mendadak viral, gara-gara memiliki wajah yang cantik rupawan. Apa anehnya ya? Dari dulu sudah banyak penjual kopi yang cantik. Apa kalau cantik seharusnya jualannya di kafe yang mahal. Atau jadi pelayan di restoran bintang tujuh (eh, ada ya). Dan seharusnya yang pantas jualan dipinggir jalan hanyalah penjual-penjual yang sudah tua dan tidak menarik lagi.

Berita yang lain, seorang pemuda yang usianya masih 24 tahun mendadak juga viral karena menikahi perempuan (nenek) yang usianya hampir tujuh puluh tahun. Kalau berita yang ini saya harus "heran" dan mengurut dada (dada saya sendiri). Ko' bisa ya?. Tentu akan banyak yang menjawab, BISA !. Cinta itu buta, cinta juga tidak mengenal kasta dan rupa (mungkin juga usia) sering cinta itu datang tanpa alasan, dan kata-kata beraroma "gombal" seterusnya.... Pemuda ini memang luar biasa, dia mampu berbuat hal yang umumnya orang tidak bisa melakukannya. Pandangannya tentang cinta jelas berada pada “frekuensi” yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Tentu hak semua orang untuk mencintai dan dicintai. Kata seorang penyair, kita bisa merencanakan menikah dengan siapa saja, tapi kita tidak bisa merencanakan untuk mencintai seseorang... Entah bagaimana kisah cinta pemuda dan istrinya tadi. Bagaimana kisah pertemuan pertamanya, dan kapan benih-benih cinta mulai tumbuh indah bersemi... Yang saya yakin pasti, tidak seperti kisah dalam film remaja zaman dulu. Pertemuannya karena tidak sengaja tabrakan waktu di sekolah atau di kampus.

Tentu sudah banyak menonton film remaja zaman dulu. Yang mengalami masa remaja tahun 90-an pasti masih ingat. Ilustrasi adegannya begini, seorang pemuda berjalan terburu-buru, dan dari depan tampak remaja putri membawa setumpuk buku, lalu... Brukk.... terjadilah tabrakan. Kemudian keduanya sama-sama mengambil buku yang berserakan di lantai, sampil mata saling menatap, pelan-pelan berdiri sambil masih berpandangan... dan kisah selanjutnya sangat mudah ditebak.

Jadi, jangan mudah kaget, tidak perlu "gumunan" bila ada berita yang sebenarnya biasa saja, tapi tahu-tahu menjadi booming. Istilah kekiniannya "Viral”. Kita anggap sekadar intermeso, lucu-lucuan saja. Sudah tiba masanya ruang dan waktu begitu terbuka untuk mendadak viral dan menjadi terkenal, meski tidak lama kemudian orang pun segera melupakannya.

 

 

 

 

 

Senin, 15 Februari 2021

PERNAH MUDA



Kemarin tanggal 14 Februari, kata anak-anak muda (sering) disebut sebagai hari kasih sayang, Valentine Day. Bersyukur dalam hati, tahun ini sepertinya semarak perayaan Valentine Day tidak begitu terdengar “gaungnya”. Biasanya media sosial akan ramai, televisi-televisi pun membuat acara atau program khusus Valentine. Mungkin karena masih dalam situasi pandemi, semua berlalu dingin tidak ada gregetnya.

Valentine Day adalah “tragedi” bagi generasi remaja kita, khususnya para remaja perempuan. Berapa banyak korban yang terjadi setiap perayaan yang katanya hari kasih sayang. Maksud saya korban akibat perilaku pergaulan yang “kebablasan”. Dengan dalih kasih sayang para “Bajingan Tengik” merampas kehormatan gadis-gadis lugu dengan imbalan sebungkus coklat dan setangkai bunga. Memang pahit mengungkap kenyataan ini, tapi terlalu banyak cerita yang telah terjadi. Dan tidak perlu kita terus bersembunyi serta menganggap semua baik-baik saja. Setidaknya ada kepedulian dari orang tua yang mau mengambil pelajaran.

Mungkin kisah nyata yang kelam itu masih terjadi di sana, di kota-kota yang memang sistem nilai dalam masyarakat sudah mengalami perubahan mengikuti zaman yang disebut “pergaulan modern”. Tapi siapa yang bisa menjamin bila cerita-cerita itu tidak akan terjadi di kota kita, desa kita atau lingkungan sekitar kita. Kalau kita sudah tidak peduli dengan semua itu, sama halnya kita menerima. Ibaratnya, kita bisa mengambil peran seperti gembala yang menjaga domba-domba dari intaian srigala lapar

Valentine Day adalah kampanye kebebasan pergaulan muda-mudi. Jelas ini melanggar norma agama dan norma sosial. Ujung-ujungnya adalah pernikahan dini karena “kecelakaan”, meningkatnya aborsi, atau yang lebih mengerikan maraknya korban pergaulan bebas terjun dalam dunia hitam, bisnis “remang-remang”.

Sebuah nasihat untuk pemuda pemudi penerus kami. “Wahai generasi remaja, jagalah dirimu dari kejamnya kemajuan zaman. Percayalah pada kami-kami yang pernah muda. Kami juga pernah jatuh cinta. Memendam asmara, menahan rindu yang tiada terperi. Tapi kami masih bisa menjaga diri. Tahu mana yang boleh dan mana yang harus benar-benar dijauhi. Dan terlebih untuk para remaja putri: Kalian ibaratnya adalah perabot kaca yang rawan pecah, sekali pecah tidak akan lagi bernilai. Kalau bukan karena kami sayang, tentu kami enggan memberi petuah ini. Dan kiranya  inilah kasih sayang yang sesungguhnya…

 

Minggu, 14 Februari 2021

KAUM FILANTROPI



“Kesabaran adalah kebajikan, dan saya belajar kesabaran. Ini adalah pelajaran yang sulit”. Begitu quote Elon Musk pendiri Tesla (mantan) orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Elon Musk sempat beberapa kali merasakan jadi orang terkaya dunia berkat saham Tesla yang meroket. Hari ini, kekayaan bersih Musk mencapai USD179,2 miliar atau setara dengan Rp2.535 triliun.

Saat ini posisi orang terkaya di dunia kembali dipegang oleh Jeff Bezos. Dilansir dari Forbes Real Time Net Worth di Jakarta, Senin (18/1/2021) bos Amazon, Jeff Bezos kekayaannya tercatat mencapai USD181,5 miliar atau setara dengan Rp2.551 triliun (kurs Rp 14.060).

Ada kesamaan yang bisa kita lihat dari kebiasaan para “triliuner” dunia. Mereka memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah-masalah sosial dan rajin berdonasi. Kita menyebut kebiasaan ini sebagai filantropi. Istilah “filantropi”, yang dalam bahasa Indonesia dimaknai “kedermawanan” dan “cinta kasih” terhadap sesama belum terlalu dikenal oleh khalayak luas, meski secara praktis kegiatan filantropi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.

Tampaknya kita harus belajar dari kaum filantropi. Mereka memiliki empati yang besar terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Harta yang berlimpah tidak semata digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri-sendiri. Mereka “beramal” tentu landasannya hanya alasan kemanusian, membantu kaum lemah, miskin dan termarjinal di seluruh pelosok dunia. Setidaknya itu ungkapan Elon Musk "mewakili" kaum filantropi tentang alasan kedermawanannya, masalah kebajikan.

Sebenarnya dalam ajaran agama Islam, komitmen terhadap kaum miskin dan lemah secara simbolis direpresentasikan oleh kewajiban membayar zakat. Zakat bermakna “membersihan” atau “menambah” harta. Pembayaran zakat dapat diartikan sebagai sebuah proses membersihkan harta benda, dan mewujudkan ketetapan bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh orang-orang kaya terdapat hak untuk orang-orang miskin. Zakat adalah bentuk “ibadah harta” yang bisa secara langsung berdampak pada peningkatan kemampuan ekonomi umat. Dan seandainya kesadaran berzakat umat Islam sudah tinggi (optimal), niscaya akan terbangun keharmonisan umat, tidak terlalu jauh kesenjangan antara kaum lemah dan berada.

 

Sabtu, 13 Februari 2021

“EMPAN PAPAN”



Kata peribahasa, “Mulutmu harimaumu”. Kurang lebih maksud ringkasnya, kita harus menjaga perkataan. Karena banyak orang celaka karena urusan perkataan yang salah.  Peribahasa ini juga punya makna bahwa setiap perkataan memiliki kekuatan yang sangat besar efeknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Bisa jadi akibat baik atau sebaliknya. Akibat kaki yang terpeleset mungkin akan menyebabkan luka fisik yang tidak seberapa. Tapi bila lidah yang “terpeleset” akibatnya bisa sangat fatal.

Kita seharusnya prihatin dengan keadaan hari ini. Orang dengan mudahnya berkata kasar, menghina, membully maupun memfitnah. Gambaran semua itu dapat kita lihat dengan sangat jelas, nyata dan semakin menjadi “budaya” baru di media sosial. Dengan alasan kebebasan berpendapat orang bisa berbicara semaunya. Tidak lagi menimbang rasa lawan bicaranya. Katanya kritik tapi bahasanya seperti menghujat dan merendahkan. Bukankah kita bisa memilih bahasa yang layak dan elegan dalam berkomunikasi.

Ketika Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam menemui Fir’aun Allah berfirman: "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q. S. Thoha Ayat 43-44). Bahkan kepada Fir’aun yang begitu bengis dan kejam Nabi Musa masih harus berkata lemah-lembut. Allah mengajarkan kepada Nabi Musa untuk tetap menggunakan bahasa dakwah yang humanis. Inilah pentingnya adab.

Dalam pandangan budaya Jawa, orang sekarang sudah tidak mengenal “Empan Papan”. Empan papan adalah istilah dalam bahasa dan budaya orang Jawa, yang memiliki makna menempatkan diri sesuai dengan tempat atau situasi (kondisi yang tepat). Istilah lain dari empan papan ini dalam Bahasa Jawa adalah: “ngerti kahanan”, artinya mengetahui situasi yang terjadi dan bereaksi tepat.

Semua memiliki tempatnya. Seorang pimpinan kantor tentu memiliki cara berkomunikasi yang berbeda antara bawahannya dengan istrinya di rumah. Seorang anak harus memilih bahasa yang bagus ketika berbicara dengan orang tuanya, di waktu yang lain lebih lepas ketika berbincang dengan saudara-saudaranya. Atau, sebagian masyarakat kita (Surabaya) karena senangnya bertemu dengan teman lamanya justru “misuh-misuh”, tentu ini bahasa budaya dan keakraban, bukan perkataan kotor untuk memaki.

 

Jumat, 12 Februari 2021

TANGGAL UNIK 12022021



Apa yang istimewa dengan hari ini?. Katanya hari ini tanggalnya cantik. Jumat tanggal 12 Bulan Februari 2021. Kalau ditulis dalam format angka menjadi 12022021. Kombinasi unik angka 0, 1 dan 2. Dan bila dibaca dari depan maupun belakang, susunan angkanya tetap sama. Tentu keunikan yang biasa, yang pasti saat ini kita berada di depan bulan Rajab yang akan menjelang. Ketika matahari terbenam sore tadi kita sudah masuk pada penanggalan awal Bulan Rajab 1442 Hijriyah.

Sudah menjadi tabiat orang Indonesia suka mengulik hal-hal yang unik. Biasanya akan banyak yang menjadikan momen tanggal unik untuk diabadikan sebagai hari penting seperti untuk tanggal (melaksanakan) aqad pernikahan. Tidak sebatas memilih tanggal yang istimewa, biasanya jumlah mahar uang pun nominalnya dicari yang tidak lazim pula. Itu kebiasaan orang-orang "populer" di negeri kita yang biasa melabeli merek pribadi sebagai "makhluk selebritis".

Bukankah setiap hari itu unik. Tak sekalipun kita mengulang hari, bulan dan tahun yang sama. Hakikatnya setiap hari yang kita lalui adalah hari yang terakhir, karena dia tak akan berputar kembali. Setiap hari merupakan langkah yang membawa kita pada satu titik yang sudah pasti, akhir dari  kehidupan.

Banyak keagungan ayat-ayat Allah yang setiap hari kita saksikan. Terbit dan tenggelamnya matahari yang membawa perubahan siang dan malam adalah kejadian luar biasa. Namun jarang kita "melihat" itu sesuatu yang besar. Atau karena setiap hari kita menyaksikannya sehingga menjadi hal yang lumrah. Kita juga juga jarang merenung dengan semesta alam yang terbentang di mata kita. Dari gugusan planet dan bintang yang besarnya kadang ribuan kali dari bumi yang kita pijak, sampai makhluk kecil yang sering kita abaikan, semut. Bagaimana anatomi semut, sel-sel syarafnya sampai sistem artikulasinya pada waktu ia berbicara. Lho, jangan salah. Semut juga berbicara, sebagaimana di abadikan dalam surat "an-Naml".

Tak ada yang Allah ciptakan di bumi ini sia-sia. Semua telah menjadi "skenario besar" sang sutradara kehidupan. Tidak ada ilmu kecuali apa-apa yang telah diberi pengetahuan tentang semua itu oleh Allah. Dan sangat mungkin umur kita tak akan cukup untuk menggali kandungan ilmu dalam satu ciptaan-Nya yang kecil seperti semut.

 

Piala Dunia 2026 dan Hilangnya Netralitas Sepak Bola

Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan politik, agama, maupun ideo...