Minggu, 28 Maret 2021

TERKECOH

 



Jawaban pelayan warung ketika saya tanya bon makan berdua dengan seorang teman membuat sedikit kaget. Dalam hati saya mengumpat, asemm...mahal sekalii . Padahal makanan di pinggir jalan seperti itu paling mahal cuma 25.000 per porsi, tapi saya harus membayar tiga kali lipat. Tadinya saya pikir harganya tidak jauh dari umumnya, rupanya saya kena tipu jerat pedagang yang curang.

Rupanya kejadian beberapa tahun yang lalu itu kemarin terulang lagi. Ketika saya harus membayar lima puluh ribu lebih untuk dua nasi bungkus dan lauk yang saya beli. Karena tidak mau berdebat tentu saja saya bayar semua. Mamun dalam hati "grundel" juga. Kapok, tak mau lagi beli di tempat yang sama.

Itulah trik para pedagang "nakal". Mereka mematok harga yang tidak lumrah untuk pembeli yang kelihatan "asing". Mungkin mereka berpikir paling cuma sekali saja pembeli tadi akan mampir ke warungnya. Namun dia lupa, pelanggan yang kecewa tadi bisa saja menyampaikan ke banyak orang pengalaman tidak enaknya.

Sebenarnya kejadian seperti ini bisa kita hindari. Warung seperti ini biasanya ada di tempat-tempat wisata, area pelayanan publik seperti rumah sakit, bandara dan sejenisnya. Biasanya lagi tidak ada harga menu makanan. Mungkin sebelum kita makan kita harus tanya dulu, harga satu porsi berapa, minumannya. Tentu saja ini menjadi terlihat "norak", atau bahasa jadulnya kampungan.

Fenomena warung yang menjerat pelanggan dengan harga mahal melebihi kewajaran memang nyata. Seperti dikutip dari Kompas, warung lesehan Lamongan Indah di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, menjadi viral di media sosial karena mematok harga luar biasa untuk pembelinya. Yakni, Rp 700.000 untuk seporsi nasi dan tiga lauk. Sebelumnya diberitakan, akibat postingan di facebook yang viral, warung tersebut kemudian sempat sepi. Tidak ada salahnya kita hati-hati bila hendak mencari makan di warung, khususnya di daerah yang memang belun dikenal.

 

Sabtu, 27 Maret 2021

SAAT DEMAM PANGGUNG

 



Pernahkan kawan-kawan mengalami kecemasan ketika hendak berbicara di depan umum?. Saya yakin pernah. Karena rasa cemas dan takut adalah milik semua orang, tak peduli siapa pun dia. Rasa cemas dan takut musykil bisa dihilangkan sama sekali. Yang mungkin adalah mengontrol dan mengendalikannya. Mungkin saja seseorang yang sering tampil di muka umum menguasai ilmu yang banyak. Tapi tanpa ditunjung kepercayaan diri akan hilang semua bahan yang akan dia sampaikan.

Penampilan di depan umum yang sudah dipersiapkan lama bisa menjadi “berantakan” gegara rasa gugup yang tidak bisa dikendalikan. Orang sering menyebut masalah mental ini dengan istilah “Demam Panggung”. Tidak ada obat mujarab yang menjadikan orang percaya diri dalam waktu seketika. Namun proses latihan terus menerus menjadikan rasa percaya diri akan tumbuh dan mengalahkan kecemasannya.

Seperti pengalaman seorang penyiar televisi terkenal. Ia mengaku, setiap hendak tampil menyampaikan berita hatinya pasti cemas dan gugup. Namun begitu mulai berjalan, hilang semua kecemasan hatinya. Ada pula yang tiba-tiba keringat dingin keluar hingga perutnya merasa mules ketika hendak tampil di depan orang banyak, ini pengalaman nyata yang unik.

Memiliki kepercayaan diri memang sangat penting. Tidak hanya urusan publik speaking saja, bahkan dalam segala bidang termasuk dunia olah raga. Skill yang mumpuni akan sia-sia bila mentalnya tidak kuat. Karena tampil di depan umum dengan sendirian dimensinya tentu sangat beda. Misalnya saja, pemain bola profesional yang gagal melakukan tendangan pinalti. Permasalahannya bukan pada teknik tapi lebih sering pada tekanan mental.

Kekuatan mental, kepercayaan diri harus dibangun dari proses berlatih terus menerus. Adakalanya seseorang akan melakukan kesalahan saat tampil, itu wajar terjadi. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti tampil. Karena ketika seseorang berhenti (menolak) tampil setelah membuat kesalahan, selamanya dia akan dilanda demam panggung.

 

Jumat, 26 Maret 2021

Kisah Pilu, Mereka yang “Dilupakan”



Umurnya sudah hampir 70 tahun. Dia tinggal di desa dekat kampung kami dulu. Sebut saja namanya Mbok Minah (bukan nama sebenarnya). Dan, di saat orang seusianya menikmati hidup bersama cucunya, Mbok Minah masih harus bekerja keras. Sering kali saya berpapasan dengannya naik sepeda tua dan gerobak kecil di belakangnya. Apapun yang bisa dijual, akan dibawanya. Sayur, buah, hingga segala kebutuhan dapur.

Terharu setiap kali menjumpainya. Entah kemana anak-anak Mbok Minah. Kata orang mereka sudah menjadi orang sukses. Tapi mengapa di saat senja usianya, Mbok Minah harus menyusuri jalan panas demi sedikit uang untuk mencukupi keperluan hidup. Kaki-kakimu sudah terlihat lemah Mbok. Matamu juga sudah kabur dan tanganmu sering gemetar.

Lain lagi dengan kisah pilu berikutnya. Entahlah siapa namanya. Karena dia tidak pernah bicara, meski kata orang sebenarnya dia tidak bisu. Usianya sudah tua, kemungkinan sudah di atas 70 tahun. Sudah berapa bulan nenek tanpa nama dan identitas itu tinggal di pasar dekat tempat tinggal kami. Setiap hari dia menyapu dan membantu petugas pasar. Urusan makan, setiap hari pasti ada yang memberinya. Para pedagang di pasar dan orang-orang sekitar pasar sering membantu nenek malang ini.

Beberapa hari yang lalu, nenek tanpa nama sakit. Dia hanya tidur di pojok pasar beralas kardus dan plastik. Karena iba, dibawalah ke PUSKESMAS. Selanjutnya koordinasi dengan polisi dan di bawa ke RSU dr.Iskak sampai saat ini. Bagaimana nanti kalau dia sudah sembuh, apa harus kembali hidup sebatang kara di pasar atau jalanan. Kemana keluarganya, apa selama dia tidak dicari?.

Ada banyak orang yang senasib dengan Mbok Minah dan Nenek tanpa nama tadi. Inilah cerita nyata kehidupan. Banyak kisah getir yang memilukan hati. Dan inilah alasan mengapa kita harus berbagi kebahagiaan dan ringan tangan membantu mereka. Karena dalam harta kita ada hak-hak mereka. Dan mereka yang papa menyadarkan kita. Betapa keras jalan hidup yang mereka lalaui. Dunia “tidak ramah” pada mereka, namun mereka masih terus berjuang tanpa putus asa.

 

Kamis, 25 Maret 2021

KEPERGIAN PEJUANG SUNYI



Sebuah video kiriman teman membuat hati saya tersentak dan merenung. Seorang yang lumpuh belasan tahun menjadi inspirasi banyak orang. Bagaimana tidak, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, praktis hanya satu jari saja yang masih bisa bergerak. Namun, ia mampu menullis beberapa buah buku dengan bantuan ponsel yang didesain khusus.

Dialah Irfan penulis dari Sri Lanka yang kini sudah pergi untuk selamanya. Sosok penulis, pejuang sunyi yang pantas menjadi sumber inspirasi. Dia berusaha menjadi sebaik-baik manusia, menjadi berguna di mata orang lain. Ketika ia menyadari bahwa setiap hari, jam, menit dan detik dari umurnya akan kita pertanggungjawabkan. Maka ia tak mau melewatkan sisa umurnya untuk menangisi nasib hidup yang diterima.

Lalu apa kekurangan kita?. Tubuh kita lengkap dan sehat, pikiran kita juga jernih , tapi kita kalah produktif dengan orang lemah tadi. Di saat fisik dalam kondisi rapuh dia masih mampu memberi sinar semangat bagi orang lain. Di saat tubuhnya tanpa daya, dia tetap membawa kecerahan bagi sesama. Di kala tak satu katapun bisa dia ucapkan, dia mampu menebar kebaikan dan pesan indah kedamaian.

Penulis akan datang dan pergi. Namun apa yang ditulis akan menjadi kekayaan ilmu, sastra dan budaya. Mari terus menulis sebagai bentuk syukur kita. Siapa bilang menulis itu sulit. Bukankah menulis adalah pelajaran dasar kita semua.

Yang benar, menulis itu mudah tapi membiasakan menulis itu sulit. Dan, yang sulit adalah menumbuhkan kemauan dan memulainya. Pengalamanmu, kisahmu dan khazanah pengetahuanmu memiliki hak untuk kau sampaikan.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...