Minggu, 11 April 2021

LILLAHI TA’ALA...



Segala sesuatu tergantung niatnya. Secara lahiriyah ibadah seseorang dengan yang lainnya bisa terlihat sama, namun pada akhirnya kemurnian niatlah yang membedakan nilai ibadah kita. Semua harus dilepaskan. Ikatan-ikatan yang membelit hati. Hanya satu yang dituju, hanya satu yang dicari Ridha Allah. Mungkin ini maksud dari lillahi ta’ala... hanya untuk Allah semata. Ibadah bukan bermaksud mendapat pujian, pengakuan dan penghormatan manusia. Karena semua itu tidak penting sama sekali. 

Hari ini orang memuji kita, besok bisa saja mencaci-maki. Ingat peribahasa “Panas setahun dihapuskan hujan sehari”. Kebaikan seseorang yang banyak sering kali tertutup hanya dengan satu kesalahan. Memang kecenderungan orang akan selalu mengingat kejelekan orang lain dan sering mengabaikan kebaikannya.

Kemurnian ibadah yang niatnya didasari lillahi ta’ala akan bernilai dan berbalas pahala. Sementara ibadah yang bercampur dengan keinginan-keinginan nafsu akan kosong tak berharga. Seandainya orang beribadah di hatinya terselip ingin mendapat sanjungan manusia, maka yang didapatkan hanya sanjungan itu saja. Orang akan berkata, wah, hebat, luar biasa dan seterusnya dan seterusnya.

Diambang pintu Ramadhan 1442 Hijriyah, marilah kita menata niat. Membersihkan hati dari segala “pengganggunya”. Bukankah Allah Mahatahu apa yang kita rahasiakan jauh di dalam lubuk hati. Di hadapan-Nya tidak ada yang bisa kita dustakan.

Dan semoga Ramadhan tahun ini kita benar-benar bisa beribadah dengan khusyu’, merasakan manisnya puasa, indahnya rakaat-rakaat tarawih dan tahajjud dan nikmatnya sujud panjang di hening malam. Dan Allah mencatat bahwa semua ibadah kita niatnya sudah benar, hanya untuk Allah, lillahi ta’ala…….. Amin.

 

 

Sabtu, 10 April 2021

MENSYUKURI (BISA) MENULIS



Hujan masih deras, tumpah-ruah turun ke bumi. Seakan tak pernah ada habisnya. Disusul gempa yang lumayan mengagetkan. Di emperan ruko saya berteduh, mencoba memulai menulis sekata dua kata. Sembari menunggu hujan yang reda, daripada melamun atau sekadar melihat orang yang lalu-lalang, tentu akan lebih menulis sedapatnya dengan ponsel. Masalah memindah dan menyunting di laptop tentu bukan urusan yang sulit.

Beberapa waktu yang lalu waktu ketika mendampingi orang tua kami yang sakit, beliau (bapak) bercerita. Dulu ternyata sempat mengenyam pendidikan formal juga. Meski akhirnya harus berhenti ketika baru beberapa tahun sekolah. Tapi masih beruntung walau tidak tamat, tapi sudah bisa baca dan tulis. Ini adalah hal yang harus disyukuri.

Menurut cerita Bapak, dulu sekolah tidak membawa alat tulis. Buku, pulpen atau pensil masih menjadi barang mahal yang tidak mudah didapatkan. Hanya ketika di sekolah siswa dipinjami alat tulis yang namanya “Sabak”. Alat ini bisa digunakan untuk menulis kemudian bisa dihapus lagi. Mirip papan tulis edisi mini. Tapi Sabak sangat berat karena terbuat dari lempengan batu karbon segi empat. Menulisnya menggunakan grip yang berbentuk mirip dengan pensil.

Berhenti sekolah sebenarnya bukan karena Bapak tidak suka belajar. Justru menurutnya, beliau sebenarnya sangat senang bisa sekolah. Tapi faktor biaya yang mengharuskan beliau berhenti sekolah. Baju yang digunakan sekolah pun cuma satu pasang. Nenek tidak pernah membiayai kebutuhan sekolah bapak. Setiap kali diminta uang sekolah tidak pernah dibayar, sebenarnya bukan karena tidak bisa membiayai kebutuhan anaknya, tapi nenek memang tidak mendukung anak-anaknya sekolah.

Dalam pandangannya, sekolah bukan urusan yang penting. Pokok bisa mangan cukup, nyandang sepantasnya dan memuliki rumah yang layak. Walhasil, bapak sering “dijejer” gurunya karena tidak bisa membayar iuran sekolah. Dulu sudah menjadi kebiasaan guru memberi sanksi muridnya dengan cara dijejer, disuruh berdiri di depan kelas.

Tentu kami tidak akan meyalahkan kakek dan nenek kami yang memiliki pandangan yang keliru tentang pendidikan. Memang sebatas itulah pengetahuan yang mereka miliki. Zaman memang jauh berbeda, antara dulu dengan sekarang. Masyarakat secara umum memiliki pandangan bahwa pendidikan itu tidak penting. Pendidikan masih dianggap menjadi kebutuhan orang-orang tertentu, misalnya orang kaya atau bangsawan. Pendidikan belum menjadi kebutuhan semua orang.

 

 

Jumat, 09 April 2021

GEMBIRA MENYAMBUT RAMADHAN



Saat ini kita berada di hari-hari terakhir bulan Sya’ban. Pekan depan Insya’Allah kita sudah memasuki bulan Ramadhan 1442 Hijriyah. Ramadhan adalah bulan mulia penuh berkah yang harus disambut seluruh umat Islam. Kaum Muslimin di seluruh dunia sudah seharusnya menyambutnya dengan semangat dan gembira sebagai bentuk adab penghormatan pada bulan suci. Menyambut Ramadhan dengan gembira dan suka cita, harus juga diakhiri dengan kebahagiaan hati. Meskipun sampai saat ini kita masih mendapat musibah yang cukup banyak.

Mengapa kita harus bahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan?. Karena Ramadhan adalah bulan ampunan, bulan dimana amalan kebaikan dilipatkan sampai berkali-kali lipat. Dan Ramadhan menjadi jembatan kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Sebagaimana difirmankan dalam surat Al-Baqoroh ayat 183:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Jangan sampai hati kita merasa terbebani dengan datangnya bulan Ramadhan. Seakan-akan Ramadhan bulan yang mengekang kesenangan. Sebaliknya Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang harus kita isi dengan peningkatan ibadah. Baik ibadah-ibadah mahdhoh maupun ibadah muamalah.

Khabar gembira bagi yang senang dengan kehadiran bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah karena Allah. Bahwa dosa-dosa hamba tersebut akan diampuni oleh Allah. Seperti dalam sebuah hadits Nabi:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari )


Tentunya makna diampuninya dosa-dosa yang lalu adalah dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, mabuk, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, dan lainnya hanya bisa dihilangkan dengan tobat nasuha, yakni dengan menyesali perbuatan itu, membencinya, dan tidak mengulanginya sama sekali.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...