Kamis, 22 April 2021

Teman Baru “Menggali Spiritualitas Ramadhan”



 


Pada beberapa bulan yang lalu kami berkesempatan mengikuti bedah buku melalui Zoom, “Menggali Spiritualitas Ramadhan, Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung. Buku yang berisi quote harian Ramadhan 1441 Hijriyah dari Rektor IAIN Prof.Dr.Maftuchin, M.Ag. yang selanjutnya quote tersebut disyarahi oleh Dr.Abad Badruzaman, Lc.,M.Ag Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan dan Kerja sama. Acara bedah buku via Zoom berjalan menarik diikuti peserta dari berbagai penjuru nusantara. Hadir pula budayawan dan penulis terkenal Ulil Absar Abdalla sebagai salah satu pembicaranya. Kemudian setelah sesi bedah buku selesai, semua peserta disilakan menulis alamat karena akan mendapat satu buku yang akan dikirim langsung ke alamat yang bersangkutan.

Namun setelah beberapa bulan saya menunggu, rupanya buku tersebut belum datang juga. Dan, kemarin ketika saya bertemu dalam sebuah acara dengan penulisnya (Dr.Abad Badruzaman, Lc.,M.Ag), akhirnya saya tanyakan perihal buku yang dijanjikan itu pada beliau. Sore saya tanyakan, Alhamdulillah setelah shalat tarawih buku sudah saya terima. Kebetulan rumah beliau memang tidak jauh dengan tempat tinggal saya, bisa dibilang masih tetangga dekat.

Buku “Menggali Spiritualitas Ramadhan, Syarah Renungan Rektor IAIN Tulungagung, “lahir” dari renungan Ramadhan. Kolaborasi antara Pak Rektor dan Pensyarah menghasilkan buku yang berkualitas yang bisa menambah wawasan keagamaan, filsafat dan perjalanan kehidupan. Beruntung saya bisa mendapatkan buku keren ini, pasti akan menjadi “teman” yang menyenangkan mengarungi Ramadhan tahun ini.

Tradisi menulis memang harus terus ditumbuhkan, terlebih di pusatnya dunia pendidikan seperti kampus dan sekolah. Dan buku ini adalah satu bukti nyata, bahwa budaya menulis tumbuh subur di kampus dakwah dan peradaban, IAIN Tulungagung. Sebagai pucuk pimpinan Pak Rektor dan Pak Warek telah memberi teladan kepada kita pentingnya terus mengembangkan tradisi menulis.

Buku ini bisa dikatakan unik karena tidak direncanakan sebelumnya. Refleksi (renungan) harian (selama Ramadhan 1441 H) dari Pak Rektor yang dipublish di akun Instagram resmi IAIN disyarahi atau dijelaskan oleh Pak Warek. Kumpulan renungan sebulan penuh tersebut pada akhirnya dikumpulkan menjadi sebuah buku istimewa. Pensyarah menyebut renungan Pak Rektor sebagai “Ta’ammulat Ramadhaniyah” yang berkarakter kuat, padat dan “bergizi”. Jadi sangat menarik menyelami kedalaman buku ini yang isinya adalah kumpulan hikmah. Seperti istilah Kang Ulil Absar Abdalla dalam prolognya, "Hikmah Tulungagung-iyyah”.

 

 

 

 

 

Rabu, 21 April 2021

Ramadhan “Bulan Sedekah”



Sedekah atau shadaqah adalah mengamalkan atau menginfakkan kebaikan di jalan Allah. Sedekah bukan hanya semata-mata menginfakan harta atau menyisihkan sebagian uang pada fakir miskin, tetapi sedekah juga mencakup segala macam dzikir (tasbih, tahmid, dan tahlil) dan segala macam perbuatan baik lainnya.

Makna sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak terbatas urusan mengeluarkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal perbuatan baik. Bahkan ketika bersua dengan saudara kita kemudian tersenyum, itupun bagian dari sedekah. Senyum yang dimaksud adalah senyum yang didasarkan pada ketulusan hati. Yang dilakukan dengan tujuan kebaikan tanpa memiliki maksud buruk. Bukankah kita akan senang jika bertemu dengan orang yang ramah. Tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqotun (“Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu“) - HR. Tirmidzi.

Banyak hikmah dari sedekah yang dilakukan dengan keikhlasan hati. Sebagian di antaranya ialah: Menyembuhkan penyakit, mengabulkan hajat, menjauhkan bencana, memperbanyak rezeki dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah. Terlebih di bulan Ramadhan, sedekah menjadi amalan yang diutamakan oleh kaum muslimin. Ramadhan menjadi bulan istimewa untuk “berlomba-lomba” mengeluarkan sedekah. Karena setiap amal akan mendapat balasan dari Allah hingga berlipat kali.

Keutamaan sedekah di bulan Ramadan juga datang dari sedekah makanan. Berdasarkan hadist shahih dan riwayat al-Tirmidzi, dijelaskan bahwa sedekah berupa makanan yang ditasharufkan (dipergunakan) untuk berbuka puasa merupakan amalan yang dapat mendatangkan banyak pahala. Bahkan orang yang memberi makanan orang berpuasa bisa mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa. “Siapa yang memberi makanan orang yang sedang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut,” (Hadits Shahih, riwayat al-Tirmidzi).

Meskipun sedekah di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang besar, bukan berarti kita hanya fokus bersedekah dalam satu bulan saja dalam setahun. Setiap waktu dan setiap saat kita bisa bersedekah. Ketika dalam kesempitan harta kita bisa bersedekah dengan tenaga. Di saat tidak bisa memberikan bantuan tenaga, perkataan yang baik dan doa pun tetap menjadi sedekah.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...