Minggu, 02 Mei 2021

“EUFORIA” IBADAH



Ramadhan akan selalu “meriah” dan berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Lihat saja musholla dan masjid yang selalu lebih ramai dari hari-hari biasa. Tidak hanya kegiatan shalat tarawih yang padat dengan jama’ah. Shalat magrib di masjid pun biasanya akan penuh dengan jamaah, terutama masjid yang meyediakan buka puasa gratis untuk jamaahnya. Malam hari pun masjid dan musholla tetap “hidup” dengan alunan bacaan Al-Qur’an. Bahkan mengaji menggunakan speaker masjid terkadang sampai larut malam belum.

Dari segi syiar agama tentu semua itu sangat menggembirakan. Namun bila kita lihat dari sisi lain terkadang semua terkesan berlebihan. Inilah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan menyambut Ramadhan. Kita bisa menyebutnya dengan euforia.

Tentu dalam beribadah kita harus bisa memilih atau mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Tidak salah bila shalat Tarawih maupun shalat Idulfitri jamaah berduyun-duyun menuju masjid dan musholla, tapi seharusnya shalat fardhu lima waktu berjamaah di masjid di luar ramadhan juga diutamakan.

Demikian pula tadarrus Al-Qur’an sangat bagus bila “disiarkan” dengan speker. Namun yang tidak kalah penting adalah menjaga kenyamanan bersama. Tentu akan lebih baik mengaji dengan pelan (tidak menggunakan speaker) di saat jam-jam istirahat. Tentu sebuah ironi, kita mengejar ridha Allah sementara tetangga kita banyak yang terganggu. Padahal memuliakan tetangga sangat ditekankan bagi orang yang mengaku beriman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Gembira menyambut Ramadhan bagus, semangat beribadah juga penting. Tapi di atas semua itu ada yang lebih penting yaitu beribadah dengan tetap menjaga ketentraman dan menghargai orang lain. Beribadah tidak harus tampil dengan segala kemeriahannya. Justru banyak ibadah yang harus kita sembunyikan dari pandangan orang banyak. Kemuliaan ibadah tidak bergantung pada pandangan dan pujian manusia. Dan, Allah Mahatahu apa yang menjadi niat kita dalam menjalankan ibadah.

 

 

 

Sabtu, 01 Mei 2021

ZAKAT FITRAH PEMBERSIH JIWA



Bulan Ramadhan telah memasuki malam yang ke-duapuluh. Kita sudah memasuki dua pertiga Ramadhan Tahun 1442 Hijriyah. Sisa sepertiga bagian akhir yang belum kita jalani. Namun perlu diingat bagian akhir dari Ramadhan adalah puncak dari keseluruhan harinya. Karena sebagian ulama berpendapat, malam lailatul qodar turun di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.

Hal yang harus diperhatikan menjelang akhir Ramadhan adalah kewajiban kita membayar zakat fitrah. Jangan sampai terlupa tidak mengeluarkan zakat fitrah. Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia, keji dan sebagai pemberian makan bagi orang miskin. Barangsiapa yang mengerjakannya sebelum shalat (Idul Fitri), maka ia termasuk zakat yang diterima. Dan barangsiapa mengerjakannya setelah shalat (Idul Fitri), maka termasuk shadaqah biasa.” (HR. Ibnu Majah).

Zakat fitrah merupakan zakat yang diwajibkan kepada setiap Muslim sebagai santunan kepada orang-orang miskin dan kelompok lainnya yang berhak sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadan sebagai pembersih dari hal-hal yang mengotori puasa. Kewajiban membayar zakat fitrah bersamaan dengan disyariatkan puasa Ramadan, yaitu pada tahun kedua Hijriah. Kewajiban membayar zakat fitrah dibebankan kepada setiap muslim dan muslimah, baligh atau belum, kaya atau tidak, dengan ketentuan bahwa dirinya masih hidup pada malam hari raya dan memiliki kelebihan dari kebutuhan pokoknya untuk sehari.

Zakat fitrah merupakan ibadah yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai bentuk upaya umat muslim saling membantu untuk menyambungkan kehidupan umat muslim selainnya. Zakat fitrah juga memberikan sarana untuk mempererat tali silaturahim antar umat muslim. Menguatkan ikatan persaudaran antara mustahik dan muzakki. Terlebih dalam kondisi yang sulit seperti di masa pandemi sekarang ini, nilai dan hikmah zakat fitrah yang diberikan kepada mustahik akan sangat berharga. Kondisi masyarakat yang berada di ekonomi lemah sangat memerlukan bantuan dari sesama saudara Muslim.

 

 

 




 

 

 

Jumat, 30 April 2021

Puasa dan Pengekangan Hawa Nafsu



Mengutip ungkapan Jalaluddin Rumi, “Hawa nafsumu adalah induk segala berhala: berhala jasmani adalah ular, namun berhala ruhani adalah naga”.  Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Samarkand) pada tahun 604 Hijriah. keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Provinsi Rum di Anatolia tengah, yang merupakan bagian Turki sekarang. Mereka menetap di Qonya, ibu kota provinsi Rum.

Jalaluddin Rumi memiliki banyak karya tentang kehidupan dan cinta. Karyanya tentang syair-syair dan puisi yang menyentuh menjadikan Ia sebagai Sufi yang sangat terkenal. Dalam karya-karyanya yang populer Jalaluddin Rumi selalu memberikan nasihat tentang kehidupan kepada siapa saja yang ingin merasakan hidup lebih baik.

Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat buruk karena setiap jiwa punya hawa nafsu. Siapa pun dia akan dihinggapinya. Yang menjadi pembeda adalah bagaimaan dia menahan diri untuk tidak dituntut oleh keburukan tersebut. Ada orang yang hidupnya selalu menuruti hawa nafsunya. Sementara kita sebagai orang beriman harus bisa mengendalikan hawa nafsu dalam diri kita. Hawa nafsu kepada harta, seks, amarah, dan sejenisnya.

Mungkin kita merasa sulit mengendalikan hawa nafsu, atau bahkan sering ditundukkan oleh nafsu, tidak kuasa menahan berbagai keinginan, maka inilah saatnya untuk menang. Allah menyediakan sarana latihan untuk kita. Yakni bulan suci Ramadan. Ramadan adalah bulan untuk melatih menundukkan hawa nafsu, mengekang syahwat, mengontrol keinginan-keinginan, membangun kebiasaan ibadah-ibadah sunah, dan membersihkan jiwa dari segala penyakitnya. Inilah kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Dalam puasa kita ditempa mengendalikan diri sesuatu yang sebenarnya halal. Ini adalah pengekangan hawa nafsu. Ketaatan mutlak kepada Allah mengharuskan menahan nafsu yang serba ingin diturutkan. Karena sumber bencana kehidupan adalah menurutkan nafsu. Siapa pun bisa saja menjadi korban hawa nafsunya. Tak peduli betapa tinggi dan dalam ilmu agamanya, posisinya terhormat dalam masyarakat, atau namanya dikenal banyak orang. Kalau pertahanan iman dan jiwa lemah, ia akan ditaklukkan hawa nafsu.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...