Kamis, 13 Mei 2021

Merayakan Apa?



Idulfitri bagi umat Islam adalah hari raya atau hari besar. Maknanya hari yang dirayakan untuk memperingati sesuatu yang penting. Lazimnya kita merayakan Idulfitri dengan ucapan memberi selamat. Dan pasti ada tambahan mohon maaf lahir dan batin.

Bila kita renungkan sebenarnya apa yang layak kita rayakan setiap menyambut Idulfitri. Apakah merayakan karena telah selesai menjalankan ibadah puasa?. Atau merayakan telah habis kewajiban berat yang harus kita kerjakan?. Biasanya kita sering mendengar ungkapan, menang melawan hawa nafsu. Apakah itu yang dirayakan?

Dalam sebuah hadits disebutkan. (Seperti diceritakan Aisyah): Abu Bakar masuk setelah aku dan ada dua gadis Ansar bersamaku sedang bernyanyi tentang Hari Bu'ath. Aisyah berkata, "Mereka bukan penyanyi." Abu Bakar kemudian berkata, "Ada alat setan di rumah Rasulullah SAW?" Saat itu adalah Idulfitri dan Rasulullah SAW berkata, "Ya Abu Bakar, tiap orang punya festival dan ini adalah perayaan kita." (HR Ibnu Majah).

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa merayakan Idulfitri sebenarnya boleh bila dirayakan dalam kadar dan cara yang tidak berlebihan. Seperti apa yang ditradisikan masyarakat kita dalam merayakan Idulfitri. Merias atau merapikan rumah, membeli baju baru dan menyiapkan hidangan untuk tamu yang akan berkunjung.

Yang mungkin tidak relevan adalah merayakan Idulfitri dengan cara hura-hura dan berlebihan. Kita ambil contoh, merayakan Idulfitri dengan pesta kembang api atau main petasan. Jelas dua hal itu adalah perbuatan mubadzir yang tidak memiliki manfaat sedikitpun.

 

 

 

Rabu, 12 Mei 2021

“MENIKMATI” LEBARAN SEPI



 

Sudah dua tahun kita menjalani hari raya Idulfitri (Lebaran) yang “sepi”. Terasa ada yang aneh dalam perasaan. Karena selama ini kita terbiasa menjalani lebaran dengan suasana yang “meriah”. Hari raya sudah identik dengan suasana yang ramai. Ramai saling berkunjung ke sanak famili, guru, teman sejawat maupun tetangga-tetangga kita. Dan semua itu tidak bisa kita laksanakan, demi mendukung himbauan pemerintah demi terciptanya keamanan dan kenyamanan bersama.

Sebenarnya budaya saling berkunjung saat momen lebaran katanya hanya ada di negeri kita. Konon ceritanya di negeri yang mayoritas Islam lainnya tidak memiliki budaya yang sama dengan kita. Misalnya saja Arab Saudi, mereka tidak biasa merayakan Idulfitri. Selepas shalat Ied, semua berjalan seperti biasa. Tidak ada tradisi sungkeman, saling silaturrahim, apalagi ketupat sayur, sudah pasti tidak akan pernah ada. Justru perayaan terjadi pada saat pergantian tahun baru Hijriyah.

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Lain negara tentu juga akan lain pula tradisi yang dianutnya. Tentu tradisi sungkeman dan saling berkunjung pada saat lebaran sangat bagus dan sesuai dengan ajaran agama kita. Namun bukan berarti semua itu hanya berlaku pada saat lebaran. Silaturrahim tidak ada larangan bila dilakukan di waktu yang lain. Sama halnya meminta maaf tentunya tidak harus menunggu lebaran tiba.

Pandemi menambah pengalaman kita. Bagaimana rasanya “menikmati” lebaran sepi tanpa meriahnya tradisi yang sudah kita pegang puluhan tahun. Kelak semua akan menjadi cerita yang menarik. Bahwa kita pernah berlebaran dengan cara yang berbeda, lebaran yang hanya dirayakan dengan ramainya silaturrahim via media sosial.

 

Selasa, 11 Mei 2021

Menjaga “Semangat Ramadhan” #2

 



Semangat itu bisa turun dan bisa pula naik. Tidak ada yang berjalan stabil dalam jangka waktu yang lama. Sudah pasti dinamika menurun maupun melonjak itu hal yang biasa terjadi. Dan sepertinya ini berlaku dalam semua aspek kehidupan kita, tak terkecuali dalam hal ibadah.

Ramadhan menjadi momentum meningkatkan semua aktivitas ibadah kaum muslimin. Bisa diibaratkan rumadhan bulan ibadah. Semua memiliki semangat yang besar mengisi ramadhan dengan berbagai amalan sunah.

Tugas beratnya adalah menjaga ritme dan irama ibadah tetap terjaga selepas Ramadhan berlalu. Ibadah adalah kebutuhan sepanjang waktu kita. Ibadah tidak mengenal musim dan batasan waktu. Selama masih ada nafas dalam diri kita, selama itu pula kita tetap senantiasa mengabdi sepenuhnya (beribadah) kepada sang Khalik pemilik semesta alam.

Anggap saja seluruh hari adalah Ramadhan. Sehingga kita tetap memiliki semangat yang besar mengisinya dengan amalan ibadah. Karena memang hakikatnya tidak ada beda antara Ramadhan dengan waktu yang lainnya. Waktu yang diberikan pada kita adalah ladang amal seluruhnya. Selayaknya selagi diberi kesempatan waktu, kita bisa mengisinya dengan menanam kebajikan.

Detik-detik yang dirangkai, semakin lama semakin membawa kita pada titik akhir yaang pasti. Sekecil apapun kebaikan yang kita kerjakan, akan menjadi tabungan yang kelak menjadi harapan kebahagiaan yang abadi. Jadi, jaga semangat Ramadhan, dan abadikan dalam keseluruhan hari yang kita jalani.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...