Senin, 07 Juni 2021

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK



Banyak orang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik. Mampu menarik perhatian ketika sedang berbicara di depan publik. Begitu pula ketika sedang berada di tengah-tengah komunitasnya. Berbicara adalah bagian dari komunikasi yang merupakan kunci terpenting dalam membangun hubungan baik antar setiap individu. Komunikasi yang efektif sangat bergantung pada keterampilan seseorang dalam berbicara maupun mendengar. Namun, masalah yang paling sederhana dan sering muncul itu dikarenakan adalah kurangnya keterampilan mendengarkan dalam berkomunikasi.

Kemampuan berbicara yang baik memang sangat penting untuk dikuasai. Tapi yang tidak kalah penting adalah kemampuan mendengar yang baik. Jangan berpikir bahwa mendengar itu kegiatan yang pasif, tapi mendengar justru bagian dari kegiatan aktif layaknya berbicara. Bukan rahasia lagi bahwa menjadi pendengar yang baik jauh lebih sulit dari menjadi pembicara yang luar biasa.

Pendengar yang baik selalu menunggu orang lain selesai bicara sebelum merespon. Dia tidak akan memotong pembicaraan orang lain, karena dia selalu respek dengan orang yang mengajak berkomunikasi dengannya. Begitu pula bahasa tubuh atau gestur yang positif. Dia tidak akan mendengar orang yang berbicara sembari melihat HP atau terus membaca koran yang dipegannya. Karena itu indikasi kurang menghargai lawan bicaranya.

Pendengar yang baik menunjukkan bila dia tidak egois. Dia menghargai apapun yang dia dengarkan. Tentu sangat berbeda dengan seseorang yang selalu memonopoli pembicaraan. Karena hampir pasti isi pembicaraan seseorang temanya tentang dirinya sendiri.

Menjadi pendengar yang baik sudah pasti akan menjadi teman yang baik untuk diajak berdiskusi. Menjadi tujuan berkeluh kesah tentang segala permasalahan. Dalam bahasa anak sekarang sebagai tempat curhat yang baik. Tapi, masih ada satu manfaat penting dari kemampuan mendengar yang baik, yaitu memiliki kemampuan menulis yang relatif baik pul

 

 

 

Minggu, 06 Juni 2021

MENG-“CANCEL” DOA



Seorang Ustadz bertanya kepada muridnya yang masih duduk di kelas 6 MI. “Anakku, seberapa besar keimananmu kepada Allah?”. “Apakah kamu bisa percaya kepada Allah seratus persen?”. Dengan penuh percaya diri, sang murid menjawab. “Saya percaya kepada Allah seratus persen Ustadz!”. Kemudian Ustadznya berkata kembali. “Kalau kau percaya kepada Allah, mintalah kepada Allah uang satu Miliar….!”. “Bila kamu percaya kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkan doamu”.

Dalam hati sang murid merasa kebingungan. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan doanya. Sementara dia hanya anak kecil yang belum bisa bekerja. Semua kebutuhan hidupnya masih menjadi tanggungan kedua orang tuanya. Dari jalan mana Allah akan mewujudkan permintaannya. Semua seakan menjadi hal yang mustahil terjadi. Hatinya penuh keraguan meskipun mulutnya selalu memohon setiap hari.

Satu minggu kemudian, Ustadz bertanya kepada muridnya. “Bagaimana doamu, apa sudah dikabulkan Allah?”. Dengan muka lesu sang murid menjawab. “Belum dikabulkan Ustadz”. Kemudian Ustadz bertanya lagi; “Mengapa tidak dikabulkan, bukankah Allah Maha pemurah dan Maha mengabulkan doa hamba-Nya”. Sang murid terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan gurunya.

“Sebenarnya doamu tidak dikabulkan oleh Allah karena kamu sendiri yang membatalkannya”. “Kamu ragu dengan kekuasaan Allah, dalam hatimu tidak ada keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan semua doa”. “Bagaimana Allah mengabulkannya, sementara kamu tidak memiliki kepercayaan Allah mampu mengabulkan semua permintaan hamba-Nya”.

Dialog antara guru dan murid diatas, sebenarnya adalah pengalaman nyata seorang pengusaha yang kini telah sukses. Ia membagikan pengalaman masa kecilnya yang luar biasa. Di saat anak seusianya masih asyik bermain-main, dia sudah mendapat pelajaran penting tentang keyakinan kepada Allah. Bahwa keyakinan kepada Allah tidak boleh berkurang sedikitpun dalam segala situasi. Tidak boleh ada keraguan tentang keuasaan-Nya. Hal ini dicontohkan ketika berdoa, harus selalu yakin seratus persen bahwa semua doanya akan dikabulkan.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...