Rabu, 16 Juni 2021

“Puskas Arena”, Gairah Sepak Bola New Era



Gelaran kompetisi Euro 2020 yang sempat tertunda akhirnya bisa bergulir (berjalan) di benua biru Eropa. Kompetisi sepak bola yang katanya memiliki level nomor dua setelah piala dunia yang biasanya berlangsung meriah, kini kurang bergema karena dunia masih dalam cengkeraman pandemi corona. Format Euro kali ini juga berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Euro dimainkan di beberapa negara Eropa yang ikut berpartisipasi di dalamnya.

Ada pemandangan yang menarik ketika Hungaria menjamu Portugal di laga perdana Grup F Piala Eropa 2020. Puskas Arena terlihat penuh sesak dengan puluhan ribu penonton. Para pendukung tuan rumah sepertinya tak ingin melewatkan kesempatan setelah mendapat izin untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion. Ini menjadi pemandangan yang sangat berbeda. Karena dalam beberapa bulan sebelumnya, stadion terlihat lengang tanpa penonton saat sebuah pertandingan sepak bola berlangsung.

Menurut laporan, ada sekitar 60.000 lebih penonton yang datang langsung ke stadion Puskas Arena. Hanya warga lokal yang memiliki "Kartu Imunitas Hungaria" yang diperbolehkan menyaksikan pertandingan secara langsung. Sementara bagi yang belum memiliki kartu tersebut bisa menyerahkan bukti tes negatif PCR sebagai pengganti.

Tentu ini menjadi tontonan yang menarik bagi penggemar bola yang hanya bisa menikmati jalannya pertandingan melalui siaran langsung dari televisi. Sepak bola kembali memiliki auranya. Tidak lagi seperti tim yang sedang latihan. Ada semangat yang mengalir dari teriakan ribuan penonton di tribun stadion. Atau ikut larut dalam kesedihan ketika ribuan penonton terdiam saatnya tim kesayangannya gagal meraih kemenangan.

Menurut sumber yang terpercaya, Hungaria saat ini telah berhasil memberikan vaksin kepada penduduk negerinya lebih dari 50% dari total seluruh warga. Artinya, pemerintah setempat tetap membuat aturan yang ketat terkait protokol kesehatan. Meriahnya stadion Puskas kemarin, benar-benar telah melalui prosedur ketat sehingga hal tersebut bukan indikasi bahwa pemerintah Hungaria abai dengan kesehatan masyarakatnya.

 

 

 

 

Selasa, 15 Juni 2021

PARANORMAL MODERN



Ada hal yang menggelitik hati ketika membaca sebuah iklan di sebuah media online; “Dukun Pesugihan Tanpa Tumbal, cara cepat kaya raya aman tanpa tumbal lewat pesugihan uang gaib asli”. Karena penasaran saya membuka iklan yang menurut saya “nyleneh” dan unik itu. Dan ternyata, memang benar-benar iklan praktek jasa paranormal. Sebenarnya sama saja istilah dukun maupun paranormal. Kesan yang ditampilkan dari istilah paranormal seakan lebih keren dan tidak terkesan kampungan. Paranormal adalah istilah untuk orang yang mempunyai kemampuan dalam memahami, mengetahui, dan mempercayai hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Sebenarnya beriklan di media internet menjadi hal yang lumrah. Namun ketika konten iklannya tentang hal yang tidak lazim, ini menjadi sesuatu yang aneh. Apakah ini bukan bagian dari penyebaran berita bohong. Meski dalam iklan tersebut ada beberapa testimoni dari ”pelanggan” yang katanya telah sukses kaya. Entah sudah berapa kali kita menyimak berita penipuan bermodus penggandaan uang. Eh, ternyata masih ada saja sebagian masyarakat kita percaya dengan semua itu.

Era modern telah menjadikan para dukun “berevolusi” menyesuaikan zaman. Dulu dukun biasanya tinggal di tempat yang terpencil dan susah dicari. Kini dukun sering praktik di hotel bintang lima dan tempat-tempat yang mewah. Dukun zaman dulu penampilannya lusuh dengan wajah yang sangar. Sekarang penampilannya rapi dengan wajah “good looking” dan menggunakan gadget yang canggih.

Dukun atau paranormal adalah bagian budaya masyarakat kita yang tidak mungkin dihapus atau dihilangkan. Perkembangan zaman yang semakin maju tidak serta-merta menjadikan masyarakat meninggalkan perdukunan sepenuhnya. Dan faktanya para pejabat di negeri kita juga masih menggunakan jasa paranormal. Ini adalah rahasia yang sudah menjadi pengetahuan secara umum. Di depan banyak yang tidak percaya dengan segala yang berbau irasional. Namun di belakang layar hakikatnya mereka masih sangat percaya.

Dikatakan masyarakat modern, pasti malu bila masih percaya perkataan dukun. Akhirnya untuk menghaluskan sebutan dukun agar tidak dibilang norak, para pejabat dan pengusaha biasanya menyebut paranormal dengan penasihat spiritual. Toh, pada intinya semua sama saja. Akan dikemas dengan bungkus sebagus apapun, bila isinya masih barang yang sama, tentu tidak akan  merubah esensinya.

 

 

Senin, 14 Juni 2021

BILA WAKTUNYA TELAH TIBA



Bila waktunya telah tiba, kita tidak bisa minta tambahan waktu walau sesaat. Sebaliknya bila belum masanya tidak pula bisa dipercepat. Itulah rahasia maut. Tak akan ada yang tahu kepastian datangnya. “Syarat” kematian tidak pasti karena sakit, tidak pula menunggu bila sudah lanjut usia. Sudah banyak contoh di sekitar kita. Mereka yang sehat bugar dan masih muda, mendadak meninggal dunia.

Yang berani menghadapi mati akan tetap mati juga, dan mereka yang takut sekali dengan datangnya kematian juga tetap akan mengalaminya. Karena maut bukan urusan takut atau berani, tapi sejauh mana persiapan yang akan dibawanya. Percuma saja berani mati bila dia tidak menyiapkan bekal dengan sungguh-sungguh.

Akhir-akhir ini kita mendapat pelajaran penting tentang kematian. Olahragawan yang hidupnya begitu disiplin dan selalu menjaga kesehatan mendadak meninggal dunia tanpa gejala sakit sebelumnya. Inilah bukti bahwa maut itu begitu dekat dengan kehidupan. Seperti nasihat orang tua dulu. Kematian itu seperti buah kelapa. Yang kecil bisa jatuh, yang tua pun begitu pula. Terkadang yang masih muda gugur terlebih dahulu dari yang tua. Artinya usia tidak bisa dijadikan patokan kepastian datangnya kematian.

Tiga hari yang lalu kami juga mendapat kisah nyata yang penuh ibrah. Tetangga kami yang sudah begitu lanjut usia meninggal dunia. Beliau meninggal di saat usia sudah mendekati seratus tahun. Satu hal yang membuat saya merenung adalah “kerinduannya” dengan kematian. Mengapa saya menyebut sebagai kerinduan, karena seakan ia sudah lama menanti kematiannya. Beliau sudah menyiapkan kain kafannya sendiri sudah sejak lama. Bahkan kainnya sudah berganti berkali-kali karena sudah rusak.

Setiap kain kafan yang dibeli dan disimpan mulai lapuk, beliau membuangnya dan membeli yang baru. Begitu terus berulang-ulang. Mungkin saja kematian dalam pandangannya terlihat lebih indah daripada kehidupan. Kehidupan yang telah merenggut kekuatan fisiknya hingga tinggal tulang dan balutan kulit. Kehidupan yang dirasanya sangat sepi karena tidak ada orang yang bisa memahaminya lagi. Tidak ada orang yang bisa diajaknya bicara untuk sekadar mengenal kisah hidupnya.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...