Senin, 12 Juli 2021

SAATNYA BANGKIT


Piala Eropa (Euro2020) baru saja usai dini hari tadi. Italia keluar sebagai penguasa baru di benua biru menggantikan Portugal yang tersingkir pada 16 besar. Italia menjadi juara dengan catatan rekor pertandingan yang luar biasa. Tidak terkalahkan dalam 33 pertandingan. Selain itu juga sering tampil ofensif dengan permainan umpan pendek yang cepat. Kesan sebagai tim yang solid bertahan dengan gaya “catenaccio” sedikit terlupakan oleh publik penggemar bola.

Ada pelajaran penting dari turnamen empat tahunan di eropa yang baru saja usai digelar “Kebangkitan” dari keterpurukan. Siapa sangka Italia mampu meraih juara dengan cara yang mengesankan, padahal tiga tahun yang lalu mereka tidak mampu lolos piala dunia 2018. Sepak bola Italia mengalami penurunan prestasi besar-besaran.

Langkah Federasi sepak bola Italia yang menunjuk Roberto Mancini membuahkan hasil yang manis. Tangan dinginnya terbukti mampu membangkitkan prestasi Italia di kancah internasional. Bahkan Italia mampu menjuarai Euro2020 tanpa bintang besar dalam tim mereka. Ini menunjukkan sepak bola mereka adalah sepak bola kolektif, sepak bola yang menekankan kerja sama tim, bukan menonjolkan peran pemain bintang.

Pelajaran kedua adalah bangkit dan memenangkan perang melawan Covid-19. Final Euro2020 yang dihelat di stadion Wembley seakan mengabarkan pada kita semua, bahwa Eropa sudah memenangkan perang melawan pandemi. Tidak ada lagi physical distancing dan masker. Penonton dapat hadir langsung, berjubel puluhan ribu (lebih dari 60.000) di tribun stadion kebanggaan negeri ratu Elizabeth tersebut.

Ini merupakan pesan dan khabar gembira bagi seluruh bangsa yang masih berjuang keluar dari jerat hantu Corona.  Italia seperti memenangkan dua pertandingan sekaligus. Berhasil memasuki fase baru dalam menghadapi pandemi virus corona dengan dihilangkannya aturan bebas masker di banyak wilayah sejak bulan kemarin, dan kini sepak bola mereka bangkit lagi dan menjadi jawara baru Eropa.

 

Minggu, 11 Juli 2021

DZULHIJJAH BULAN HAJI



Selain bulan Ramadhan, terdapat satu bulan yang juga istimewa bagi umat muslim yaitu bulan Dzulhijjah. Menurut riwayat dinamakan Dzulhijjah karena pada bulan tersebut orang-orang Arab melakukan ibadah haji. Ibadah haji merupakan (syariat) pelaksanaan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim serta kebiasaan yang sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad.

Awal bulan Dzulhijjah 1441 Hijriyah telah masuk penanggalan pada hari Ahad tanggal 11 Juli 2021 kemarin. Dzulhijjah dalam masyarakat kita sering disebut bulan haji. Karena umat Islam diwajibkan menunaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah. Dzulhijjah berasal dari dua kata, yaitu Dzul yang artinya pemilik dan Al-Hijjah yang artinya adalah haji.

Satu hal yang menyedihkan, sudah dipastikan tahun ini umat Islam Indonesia tidak melaksanakan ibadah haji. Dan ini merupakan tahun kedua. Bila tahun pertama musim pandemi (tahun 2020) ibadah haji hanya diperuntukkan bagi warga Saudi, sebenarnya tahun ini sudah dibuka kesempatan bagi negara luar Saudi untuk melaksanakan ibadah haji. Meski jatah yang diberikan hanya sedikit.

Sesuai informasi ada 60.000 jama’ah yang bisa melaksanakan ibadah haji tahun ini. Perinciannya, 15.000 jatah untuk warga lokal, dan sisanya dibagi untuk umat muslim seluruh dunia. Memang bila dibandingkan dengan jumlah jama’ah haji di waktu normal, tentu jumlah ini sangatlah sedikit. Namun mengingat situasi masih belum kondusif seperti sekarang, semua ketentuan ini tentu amatlah wajar.

Kita tentu terus berharap situasi segera normal kembali. Dan nanti di saat masuk kembali di bulan Dzulhijjah, kuota haji bisa kembali seperti semula. Tidak terbayang bila situasi berlarut-larut seperti ini. Betapa semakin sedih hati mereka yang sudah lama merindukan untuk bisa pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji.

 

Sabtu, 10 Juli 2021

PERNAK PERNIK EURO #8



Sepak bola dengan klenik. Apa hubungan permainan sepak bola dengan perdukunan atau klenik. Mungkin banyak orang mengira bila di zaman modern yang serba canggih seperti saat ini orang sudah tidak percaya lagi dengan klenik. Klenik adalah perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang.

Dalam sepak bola modern pun sebenarnya tidak bisa lepas dari campur tangan dunia klenik. Di benua Afrika biasa disebut Voodoo, dan hingga kini banyak ritual klenik di sana yang dilakukan sebelum bermain bola. Namun ini tidak hanya berlaku di Asia maupun Afrika, kepercayaan terhadap perdukunan dan tahayul juga masih banyak ditemukan di negara Eropa. Misalnya saja nomor “kutukan” 13. Banyak pemain yang enggan memilih nomor punggung 13 karena mereka takut nomor tersebut membawa sial.

Dalam gelaran Euro 20 kali ini, kita juga mencium “aroma” perdukunan. Mengutip sebuah media online, seorang penggemar sepak bola tidak hanya memprediksi skor Timnas Italia 3-0 Turki, mereka juga memilih pencetak gol yang tepat, termasuk menyebutkan pemain Turki yang akan mencetak gol bunuh diri 10 jam sebelum kick-off.

Aneh memang. Siapapun yang mencoba untuk memilih skor dan pencetak gol tahu itu pada dasarnya nyaris tidak mungkin. Jadi dengan fakta bahwa akan ada gol bunuh diri dan menyebutkan nama pemain yang akan mencetak gol membuat banyak orang menyimpulkan bahwa penggemar ini pada dasarnya adalah seorang penyihir.

Dan ramalan-ramalan skor juga begitu banyaknya di seputar kompetisi tertinggi negara-negara eropa tahun ini. Ternyata kemajuan zaman tidak serta-merta mampu menghapus tahayul dalam dunia bola.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...