Rabu, 28 Juli 2021

MANUSIA BIASA



 Badai belum berlalu. Kita masih dalam situasi yang sulit. Benar, secara umum kondisi kita hari tidak sedang dalam situasi "yang baik-baik saja". Kita memahami segala upaya telah dilakukan dengan mengerahkan segenap potensi yang ada. Tapi hingga kini, kita belum melihat ada tanda semua krisis akan berakhir.

Jangan terlalu mengandalkan kemampuanmu, karena sebenarnya kemampuanmu itu tidak seberapa. Jangan bergantung pada kepandaianmu, karena kepandaianmu itu sangat terbatas. Panca indera kita, mata, telinga, pendengaran dan yang lainnya juga sering salah merespon terhadap obyek. Nyatanya memang tidak ada manusia yang super di dunia ini, kalaupun ada itu hanya cerita fiksi untuk hiburan saja.

Lalu, bila kita manusia biasa mengapa kita sering merasa serba-bisa. Segala hal berusaha kita tangani dengan mengandalkan kemampuan yang merasa dimiliki. Kita sering lupa bahwa ada kekuatan yang “Maha” segalanya. Namun sering kita tidak mengingta-Nya, di saat kita sudah mengalami kebuntuan jalan keluar, barulah meminta pertolongan-Nya.

Katanya kita negara Pancasila dan seharusnya itu bukan slogan belaka. Sila kesatu adalah ketuhanan yang maha esa. Tentu dalam praktik kehidupan sehari-hari, seharusnya kita meletakkan Tuhan di atas segalanya. Namun dalam kenyataan tuhan jarang kita libatkan dalam segala urusan. Tuhan hanya bersemayam di tempat-tempat ibadah. Tuhan seolah hanya mantra-mantra suci yang tidak boleh terlibat dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan politik. Tuhan dianggap sebatas urusan pribadi.

Kita merindukan para pemimpin kita sadar dengan sepenuhnya. Kita adalah bangsa bertuhan, namun kita sering mengabaikan ajaran agama. Sebagai rakyat kita tidak menuntut melebihi kewajaran, karena kita juga sadar mereka juga manusia biasa. Hanya satu hal, memimpinlah dengan jujur. Jangan kau hianati amanah yang kami titipkan.

 

 

Selasa, 27 Juli 2021

MUSIBAH DAN SEDEKAH



Dilema, ini merupakan situasi yang sulit dan rumit. Satu sisi pemerintah ingin menjaga masyarakat tetap sehat dan terbebas dari virus, namun di sisi yang lain juga menginginkan kegiatan ekonomi tetap bisa berjalan dengan baik. Keduanya, baik kesehatan dan ekonomi masyarakat diharap tidak terganggu. Tapi ternyata amat sulit untuk menjaga kelangsungan keduanya.

Ketika menginginkan keselamatan masyarakat dari bahaya (virus) pandemi, jalan yang paling tepat adalah membatasi aktivitas masyarakat. Dan pasti ini sama saja dengan menahan laju pergerakan ekonomi masyarakat. Pasar keramaiannya dibatasi, pedagang-pedagang kecil pun dibatasi sebagaimana pusat-pusat ekonomi lainnya. Jika langkah ini menjadi prioritas, sudah pasti rakyat ekonomi lemah akan menjerit.

Di saat situasi seperti ini, banyak lapisan masyarakat bawah membutuhkan uluran tangan. Mereka membutuhkan bantuan sekadar untuk “survive” di masa pandemi. Sementara kemampuan pemerintah juga terbatas menjangkau keseluruhan “prototipe” masyarakat tersebut. Makanya kita bisa memahami seruan yang menggemakan saling tolong-menolong dalam masyarakat. Saatnya bagi mereka yang memiliki kelebihan harta untuk bersedekah. Kapan lagi waktunya kalau tidak sekarang. Tangan-tangan dermawan yang penuh kasih sayang akan mengembalikan harapan dan keceriaan mereka yang hilang.

Semoga akan lahir dermawan-dermawan yang berjiwa mulia. Para hartawan yang rela berkorban demi meringankan beban berat saudaranya. Merekalah yang akan menjadi pahlawan yang sebenarnya. Bukan orang kaya yang kesuksesannya hanya dinikmati oleh diri dan keluarganya semata.

 

 

Senin, 26 Juli 2021

DALAM PUSARAN BADAI



Kapal sedang menghadapi badai besar. Ombak yang menggunung siap menelan bulat-bulat dan melumat kapal beserta seluruh muatannya. Semua panik. Kapten harus mengambil langkah-langkah cepat untuk menyelamatkan kapal dan seluruh penumpang.

Saat ini yang dibutuhkan adalah kebersamaan. Bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan sesama penumpang. Apalagi marah terhadap badai yang menyerang, itu sangat konyol. Kita harus mencari keselamatan bersama, bukan justru mencari selamat sendiri-sendiri. Nahkoda perahu harus tampil dengan gagah perwira. Tunjukkan keberanian dan keterampilanmu memimpin. Sementara seluruh penumpang harus siap mendukung semua komando sang Nahkoda.

Begitulah kira-kira gambaran situasi negeri kita hari ini. Dan, sebenarnya bukan kita saja yang mengalami situasi sulit. Seluruh negara mengalami situasi yang tidak berbeda. Kita dalam kapal yang beda namun dalam badai yang sama.

Memang kita melihat sekarang ini beberapa negara sudah di ambang kemenangan dalam perang menghadapi pandemi. Satu persatu kapal besar mereka sudah keluar dari pusaran badai dan bersiap berlayar menuju pulau penuh harapan. Badai mengajarkan kesabaran dan kekuatan untuk bertahan. Nahkoda hebat juga pasti mereka yang sering berlayar di tengah terjangan badai. Bukan mereka yang hanya menyusur indahnya pantai.

Musibah besar (pandemi) seharusnya menyatukan semangat dan kebersamaan kita sebagai bangsa. Ada empati dan kesadaran berbagi. Namun kenyataannya, tetap saja ada pihak yang mengambil keuntungan di atas penderitaan orang banyak. Bukankah itu merobek dan melukai rasa keadilan.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...