Selasa, 10 Agustus 2021

JANGAN BERLEBIHAN…



Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan (wajar), berlebih-lebihan itu tidak baik. Bahkan dalam urusan  atau perkara yang semestinya boleh, namun karena dilakukan dengan cara berlebih-lebihan akhirnya menjadi haram. Misalnya saja dalam hal makan dan minum. “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al-A’raf: 31].

Baru-baru ini di media sosial viral, gegara seorang selebgram makan mie instan. Makan mie instan tentu bukan hal yang aneh di negeri kita. Meski alam kita tidak menghasilkan gandum, nyatanya masyarakat kita termasuk tinggi konsumsi makanan berbahan baku tepung terigu. Yang membuat heboh adalah bahan pelengkap (toping) mie instannya. Dengan santai dalam video yang viral tersebut, dia mengatakan makan mie instan 16 juta…

Apa saja yang membuat mie instannya mahal?. Lobster seharga dua juta, daging Wagyu A5 dari Jepang seharga empat juta, Bafun Uni dan Murasaki Uni seharga empat juta, Caviar (makanan berupa telur ikan ini berasal dari ikan sturgeon), hati angsa dan jamur Truffle seharga dua juta lima ratus ribu. Dengan uang sebanyak itu untuk sekali makan pasti sudah masuk dalam katagori terlalu mewah dan berlebih-lebihan.

Mungkin ukuran mewah beda antara dia dengan kebanyakan orang yang menonton videonya. Baginya makan jenis makanan seperti itu sudah biasa. Tapi pandangan secara umum sudah pasti itu sangat berlebih-lebihan dan terkesan kurang empati. Di saat kondisi sulit, mereka yang memiliki harta berlimpah justru tampil dengan penuh kemewahan.

Entahlah, kita tidak tahu apa motivasinya dalam membuat video seperti itu. Apakah untuk menunjukkan bahwa dia orang yang berkelas, memiliki harta yang tiada limitnya, atau alasan lainnya. Meskipun juga sah-sah saja orang berbuat, setidaknya itu uang miliknya sendiri. Tapi  seandainya orang-orang yang memiliki kelebihan harta rela berbagi dengan mereka yang lemah, tentu hartanya akan lebih bermanfaat.

 

 

 

 

Senin, 09 Agustus 2021

PEMIMPIN DAN DUNIA MENULIS



Soekarno sejak kecil dikenal sebagai anak yang rajin membaca buku. Tak salah bila dia disebut sebagai kutu buku. Ketika remaja beliau sudah aktif menulis. Bisa dibayangkan menulis pada masa itu, tentu amat berbeda dengan saat ini. Menulis masih menggunakan alat sederhana tanpa menggunakan alat bantu yang memadai. Jangankan komputer, mungkin mesin ketik saja masih langka. Namun semua itu tidak menjadi penghalang bagi Soekarno muda untuk menulis.

Presiden Soekarno selain dikenal sebagai pemimpin besar juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Banyak karya yang telah beliau hasilkan, di antaranya; Pertama, Indonesia Menggugat (Imperialisme dan Kapitalisme, Imperialisme di Indonesia, Pergerakan di Indonesia, Partai Nasional Indonesia) adalah pidato pembelaan yang dibacakan oleh Bung Karno pada persidangan di Landraad, Bandung (1930).

Kedua, Dibawah Bendera Revolusi. Ini mungkin buku yang paling terkenal dan komplit. Buku ini disebut-sebut terdiri dari 4 jilid, namun yang sering kita dapatkan hanya 2 jilid. Isinya 20 pidato peringatan 17 Agustus Presiden Soekarno selama 20 tahun, tahun 1946 hingga 1964.

Ketiga, Mencapai Indonesia Merdeka. Buku ini ditulis sebagai respon atas tulisan Profesor Veth “Bahwa Indonesia tidak pernah merdeka, dari zaman purbakala sampai sekarang. Indonesia akan tetap menjadi negara jajahan, yang semula jajahan Hindia lalu dijajah Belanda”. Buku singkat namun padat ini membawa kita pada tahun 1920-1933

Keempat, Sarinah. Buku ini tebalnya 329 halaman. Berisi kumpulan materi kursus wanita dalam berjuang dan berpolitik (1963), wanita bukan berarti harus selalu berada di belakang. Sebagaimana kita ketahui, di zaman penjajahan dahulu wanita perannya terbatas hanya dalam lingkungan rumah saja.

Bagaimana dengan para pemimpin saat ini?. Dengan sumber daya manusia yang mungkin lebih terdidik dan fasilitas yang serba modern ternyata tidak serta-merta menjadikan para pemimpin menjadi produktif menulis. Ketika Presiden Soekarno telah wafat, karya-karyanya masih hidup di tengah-tengah kita. Menulis menjadikan penulisnya panjang umur dan akan dikenang oleh orang dalam masa yang panjang.

 

Minggu, 08 Agustus 2021

MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIYAH



Saat ini kita telah berada di penghujung tahun 1442 Hijriyah. Tiba waktunya bersiap-siap menyongsong terbitnya matahari baru tahun 1443 Hijriyah. Pergantian tahun baru Hiriyah memang kurang mendapat perhatian dari masyarakat kita. Sebenarnya ini konsekuensi yang logis karena biasa menggunakan kalender masehi dalam keseharian kita. Tentu sangat kontras dengan pergantian tahun baru masehi. Sudah menjadi tradisi banyak yang gembira dan merayakannya. Pesta kembang api, membunyikan terompet hingga acara bakar-bakar ikan.

Bila kita memahami sejarah dengan benar, seharusnya kita lebih senang dan antusias menyambut datangnya tahun baru hijriyah. Karena dibalik tahun hijriyah ada kegemilangan dakwah Nabi Muhammad. Ada peristiwa besar yang sangat penting untuk selalu diingat dan dijadikan teladan kehidupan kita.

Peristiwa hijrah adalah momentum kemenangan Islam. Bisa dikatakan hijrah adalah pintu gerbang menuju tersebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia. Pada awalnya Islam yang sulit untuk berkembang, menjadi besar dan mencapai kejayaan. Inilah yang mendasari Khalifah Umar menjadikan hijrah sebagai awal penentuan tahun Islam. Tidak mengambil peristiwa lahirnya nabi Muhammad atau ketika awal nubuat Rasulullah (wahyu pertama).

Hijrah adalah perjuangan lahir dan batin yang berat. Meninggalkan negeri tercinta demi sempurnanya dakwah. Hijrah memisahkan saudara dengan saudara, anak dengan orang tua, ataupun hamba dengan harta kekayaannya. Semua harus direlakan demi tegaknya iman dan keyakinan.

Peristiwa hijrah adalah ujian iman bagi sahabat nabi. Sehingga kelihatan dengan terang mereka memang memiliki keimanan sejati. Bagai api yang memurnikan emas dari balutan tanah dan bebatuan. Sahabat mulia yang secara jumlah memang sedikit tapi secara kualitas, mereka adalah golongan umat pilihan. Maka tak heran, merekalah yang menjadi penerus kepemimpinan yang akhirnya membawa kejayaan agama Islam.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...