Senin, 16 Agustus 2021

DIRGAHAYU NEGERIKU



 

Menikmati kemerdekaan itu nikmat yang agung. Dengan kemerdekaan kita bisa membangun tanah air, belajar dan beribadah dengan bebas. Tanpa kemerdekaan mustahil kita bisa melakukan semua itu.

Memiliki kemerdekaan sama artinya dengan memiliki harga diri dan kemuliaan sebagai bangsa. Kita sejajar dengan bangsa lain di dunia. Sebagai bangsa usia kita lebih tua dari usia kemerdekaan yang telah menginjak 76 tahun. Dan kita adalah bangsa yang memiliki sejarah besar.

Pedih rasanya bagi mereka; Rohingya, Suku Kurdi dan Orang Gipsi yang terusir dari negerinya atau terasing karena tidak memiliki tanah air. Ini membuktikan betapa memiliki negeri yang merdeka adalah nikmat yang besar.

Merdeka bukan berarti titik akhir perjuangan. Merdeka adalah gerbang baru menuju perjuangan berikutnya. Secara lahiriah kita memang sudah merdeka, namun sering jati diri bangsa kita masih terbelenggu. Kita bergantung dari asing, menurut dan tidak memiliki kedaulatan penuh. Ini adalah penjajahan dengan wajah baru.

Saatnya kembali mengukir sejarah dan membangun kembali kejayaan bangsa. Bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan bangga dengan keluhuran nilai budaya. Bukan bangsa yang merasa kecil dan rendah di hadapan bangsa lai. Merdeka…..Dirgahayu negeriku tercinta, Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 15 Agustus 2021

MELAWAN LELAH



Ayo, terus menulis jangan berhenti. Jangan hiraukan apa yang kau tulis, yang penting tetap menulis, menulis dan menulis. Mungkin itulah bahasa hati saya ketika semangat menulis mulai menurun. 

Tak bisa dihindari, semangat untuk menulis kadang turun dan kadang naik. Di saat sedang turun yang bisa saya lakukan adalah menghibur diri sendiri. Menulis saja, jangan kau risaukan apa yang kamu dapatkan dari menulis.

Hanya Penulis amatir yang tidak memiliki keahlian tertentu karena keterbatasan bahan bacaan dan ilmu. Tidak mampu mengartikulasi ide dengan baik dan segudang kelemahan-kelemahan lain. Mungkin itulah gambaran jujur tentang diri sendiri. Tapi karena alasan itu saya tidak akan berhenti menulis.

Setidaknya masih ada harapan untuk selalu memperbaiki diri. Entah sejauh mana langkah kaki berjalan. Setiap langkah adalah pengalaman, setiap langkah adalah keindahan yang menarik untuk dihayati dan dikenang.

Inilah jalan menjadi penulis. Jalan yang sulit namun penuh dengan tantangan. Terus melawan lelah, melawan kejenuhan dan memupuk semangat dalam diri. Jangan banyak berharap, tapi banyak berbuat. Jangan hanya berpikir mendapat keuntungan, tapi berusaha berbagi kebaikan.

 

 

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

SERIBU KATA SATU BERMAKNA



Sudah tabiat manusia, selalu banyak kata banyak bicara. Di masa media sosial muncul sebagai panggung yang gemerlap, banyak muncul bintang-bintang yang tampil dengan memukau. Mereka tampil dengan kata-kata yang luar biasa. Tak hanya itu, penampilan pun tampak menarik dan berkelas. Namun hakikatnya semua hanya topeng belaka.

Dalam kehidupan nyata mereka tak sebaik dengan apa yang dikatakannya. Mereka adalah orang-orang yang bermulut manis dan pandai mencari simpati. Kata dan lakunya sebenarnya jauh berbeda. Apa yang di mulut dengan apa yang dilakukan jauh panggang daripada api. Dan inilah fakta yang sedang kita hadapi.

Banyak serigala yang berbulu domba. Banyak orang yang sebenarnya hatinya jahat, namun penampilan dipoles sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah pribadi yang sempurna. Mereka lebih jahat dari penjahat yang sebenarnya. Seorang penjahat terkadang masih punya kejujuran, mereka jahat tapi mereka mengakui kejahatannya. Sedangkan para serigala berbulu domba, mereka jahat tapi selalu merasa menjadi orang yang baik, inilah kepalsuan.

Seorang yang mengambil harta orang lain dengan cara memaksa adalah tindakan keji. Itu adalah perampokan. Namun seorang pejabat yang disumpah dengan nama tuhannya, namun masih tega korupsi itu lebih keji. Korbannya bukan cuma satu orang, namun ribuan atau bahkan lebih. Ini bukan cerita atau dongeng belaka. Berapa banyak pejabat yang tidak amanah dengan kewenangan yang dimilikinya. Yang lebih memprihatinkan mereka tega mengambil hak orang-orang lemah di saat kondisi sulit.

Jangan mudah terpesona dengan indahnya kata. Tapi lihat kesesuain dengan tindak lakunya. Kata-kata sering meluncur tanpa rasa, tanpa kejujuran dan tanpa makna. Seribu kata satu bermakna.  

 

Jumat, 13 Agustus 2021

PANGGILAN HATI



Usianya memang sudah tua, sebut saja namanya Mbah Dullah (bukan nama sebenarnya). Sudah bertahun-tahun Mbah Dullah rutin berjama’ah di masjid. Dulu sebelum istri beliau wafat, bila berjamaah selalu bersama istrinya. Berjalan kaki dari rumahnya yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter saja dari masjid.

Mbah Dullah selalu shalat di shaf depan bagian kanan. Beliau selalu datang sebelum muazin mengumandangkan adzan. Biasanya Mbah Dullah duduk bersila menunggu waktu shalat tiba. Akhir-akhir ini saya sering melihat Mbah Dullah shalat berjamaah sambil duduk. Mungkin karena kondisinya yang semakin tua, sehingga untuk berdiri saja beliau sudah tidak kuasa. Berjalan pun kini selalu memakai tongkat, namun setiap kali ditawari untuk naik motor diantar pulang, beliau selalu menolak dengan sopan.

Mbah Dullah adalah sosok yang harus ditiru. Istiqomahnya dalam berjamaah mengalahkan segala keterbatasan fisiknya. Bila ibadah sudah menjadi panggilan hati, semua menjadi serba mudah. Mudah melangkahkan kaki menuju masjid meski fisik sudah tidak kuat lagi. Hari-hari di masjid selalu bersua dengan beliau, meski kami jarang bercakap-cakap. Memang beliau jarang berbicara, hanya sesekali menjawab bila ditanya.

Ternyata, tidak perlu ilmu tinggi untuk mengamalkan jamaah shalat di masjid. Tidak perlu banyak biaya untuk meraih kemuliaan ibadah di masjid. Meski kenyataannya banyak yang tidak mampu istiqomah seperti Mbah Dullah. Banyak rumahnya yang dekat dengan masjid tapi hatinya terasa jauh. Telinganya selalu mendengar adzan tapi hatinya tidak terpanggil untuk memenuhi undangan-Nya.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...