Selasa, 04 Januari 2022

Disiplin, Atau Disingkirkan



Publik pecinta sepak bola tanah air tentu masih kecewa dengan pencapaian timnas Indonesia pada piala AFF 2020 yang telah berakhir pekan kemarin. Timnas harus pulang ke tanah air dengan predikat runner up (juara kedua), dan ini sudah yang ke-enam kalinya. Namun di balik kegagalan ada harapan besar yang bisa kita “gantungkan” pada garuda-garuda muda kita. Ya, mereka tampil dengan permainan yang luar biasa.

Di balik gaya bermain yang menawan, ada sosok yang tidak bisa kita abaikan yakni pelatih timnas Indonesia Shin Tae Yong. Pelatih berdarah Korea Selatan ini sukses membuat perubahan yang signifikan yaitu sepak bola ala menyerang yang cepat. Tentu sebagai pelatih berkelas dia punya segudang pengalaman dalam dunia kepelatihan. Satu yang selalu diingat oleh penggemr bola Shin Tae Yong pernah melatih timns Korsel di pentas piala dunia.

Ada sukses pasti ada kerja keras dan disiplin. Dan begitu pula yang diterapkan Coach Shin Tae Yong dalam menangani timnas Indonesia. Dia dikenal sosok keras tanpa ampun terhadap pemain yang tidak disiplin. Sudah banyak pemain yang menjadi “korban” ketegasannya. Ketika pemain tidak disiplin dia tidak segan-segan mencoret dari daftar pemain timnas. Tidak peduli apakah sang pemain memiliki skill yang bagus, karena yang terpenting pemain harus memiliki attitude dan disiplin yang baik.

Jadi jangan coba-coba melanggar aturan pelatih, karena akibatnya pemain pasti akan disingkirkan. Dan kita bisa memahami apa yang diterapkan pelatih timnas saat ini. Bagaimana mungkin kita mengharap timnas meraih gelar bergengsi apabila mereka tidak memiliki disiplin yang tinggi.

Sebuah kutipan mengatakan, “Ada dua jenis rasa sakit yang akan kamu alami dalam hidup; rasa sakit karena disiplin dan rasa sakit karena penyesalan. Disiplin itu beratnya ons, sedangkan penyesalan beratnya berton-ton". Disiplin memang berat, tapi buahnya amat manis untuk dinikmati. Tak diragukan lagi disiplin merupakan bagian dari proses meraih prestasi.

 

Senin, 03 Januari 2022

ASAL TERKENAL




Peribahasa Arab mengatakan "Bul 'alaa zamzam Fatu'raf”, artinya; kencingi sumur Zamzam maka engkau akan terkenal. Seandainya memang ada orang yang nekad melakukan itu pasti dia akan mendadak terkenal. Bagaimana tidak terkenal, sudah pasti ia akan menjadi berita besar yang menggemparkan dunia. Tapi terkenal bukan dalam hal yang baik, terkenal karena kedunguan dan kegilaannya.

Rupanya peribahasa Arab tadi saat ini sudah banyak yang melakukannya. Bukan makna yang tersurat tapi lebih ke makna yang tersirat. Memang faktanya belum ada orang yang berani mengencingi sumur Zamzam, tapi banyak orang yang bertindak konyol sama halnya dengan mengencingi Zamzam.

Untuk menjadi terkenal orang rela membuat “drama” sisi kelam dalam hidupnya sendiri. Tujuannya agar banyak media menyoroti, sehingga ia menjadi trending pemberitaan media massa, singkatnya menjadi viral. Aneh bukan, banyak tidak malu tapi justru menikmati semuanya. Karena terkenal, ia bisa mendapatkan materi yang berlimpah. Tidak apa-apa moral dikorbankan yang penting terkenal dan kaya.

Perselingkuhan, perceraian dan rebutan warisan pun bisa menjadi alat untuk terkenal. Urusan keluarga yang seharusnya menjadi hal tabu untuk diungkapkan, kini seakan menjadi bahan berita yang mengasyikkan untuk diperbincangkan. Masalah yang seharusnya ranah pribadi menjadi bahan gunjingan publik. Tapi lagi-lagi banyak yang tidak merasa risih, karena ujung-ujungnya ingin terkenal.

Dunia modern memang sudah jauh menyimpang dari norma kesopanan dan kepantasan. Saat ini kita punya pilihan untuk menjadi biasa saja atau terkenal. Sebenarnya tidak ada juga yang melarang menjadi orang terkenal, tapi janganlah terkenal karena perbuatan yang buruk. Hal yang buruk harusnya disimpan dan menjadi bahan refleksi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

Minggu, 02 Januari 2022

SUDAH WAKTUNYA LEBIH BANYAK MERENUNG



Pergantian tahun terasa begitu cepatnya. Seperti belum lama memasuki tahun baru, kini kita sudah meninggalkannya. Tahun 2021 sudah tutup buku dan tahun 2022 siap dengan catatan-catatan sejarah kehidupan yang baru. Mau tidak mau, siap atau tidak siap kita harus menjalaninya.

Pergantian masa seharusnya menjadikan kita dewasa dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya dewasa karena umur yang semakin menua. Tapi dewasa dengan jiwa yang semakin matang. Bila bertambahnya tahun hanya menjadikan tambah usia semua orang juga akan mengalaminya.

Sudah waktunya untuk banyak muhasabah. Kapan lagi bila tidak saat ini. Apa perlu menunggu saat semua terlambat, karena semua ada masanya. Senyampang masih banyak kesempatan mengapa kita selalu menundanya.

Tanyakan pada diri kita sendiri. Kapan kita berhenti melakukan maksiat?. Begitu kuatnya nafsu membelenggu akal sehat sehingga terus saja kita terjerumus melakukan dosa-dosa yang terus berulang. Tanyakan pada nuranimu. Kapan sujudmu bisa membekas dalam laku hidup sehari-hari. Sehingga terasa taatmu benar-benar murni dan mampu menjaga diri.

Kalau tidak ada yang menasihatimu lagi, bertanyalah pada hatimu. Karena hati nurani selalu jujur. Lagi-lagi nafsu yang mengajak kita menghianati hati nurani. Cepatlah bertaubat wahai hamba yang bergelimang salah dan dosa. Karena perbuatan dosa-dosa akan semakin menjauhkan dirimu dari cahaya hidayah-Nya. Jujur kawan, ini adalah nasihat pada diri saya sendiri.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...