Saat
ini, kita telah menapak tanggal 24 Rajab tahun 1443 Hijriyah. Pada bulan Rajab umat Islam di
Indonesia selalu melaksanakan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Tentu
ini merujuk pendapat Al-Alamah Al-Manshurfury. Beliau berpendapat bahwa
peristiwa Isra terjadi pada malam tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh dari
nubuwah.
Sebenarnya
ada ulama yang berpendapat Isra terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada
bulan Muharram tahun ke-13 dari nubuwah. Ada pula yang berpendapat Isra terjadi
setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-13 nubuwah. Dari
beberapa pendapat tersebut, ada titik persamaan bahwa peristiwa hijrah terjadi
pada masa-masa akhir periode Makah, yakni sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke
Madinah.
Pada
bulan Rajab tahun kesepuluh nubuwah Paman Nabi Muhammad Abu Thalib meninggal
dunia. Tentu ini menjadi kedukaan yang besar, karena Abu Thalib menjadi benteng
perlindungan yang ikut menjaga dakwah Islam dari serangan orang-orang kafir
Quraisy. Kira-kira dua atau tiga bulan dari meninggalnya paman beliau, Ummul
Mukminin Khadijah Al-Kubra wafat pula. Dua peristiwa ini terjadi dalam waktu
yang terpaut lama, sehingga menorehkan duka dan lara di hati Rasulullah SAW.
Di
saat beliau mendapat gangguan yang semakin keras dan berani dari kaum kafir,
Rasulullah memutuskan untuk pergi ke Thaif yang jaraknya 60 mil (sekitar 100
km) dari Makah dengan berjalan kaki. Beliau berangkat ditemani Zaid Bin
Haritsah dengan setitik harapan penduduk Thaif berkenan menerima dakwah atau
melindungi dan memberi pertolongan dalam menghadapi kaum beliau.
Ternyata
tak satupun kabilah di Thaif yang menerima dakwah Nabi. Bahkan ketika
Rasulullah hendak pergi, orang yang jahat di antara mereka dan para hamba
sahaya membuntuti beliau, sambil mencaci-maki dan berteriak terhadap beliau.
Bahkan mereka juga melempari Nabi dengan batu hingga terumpah beliau basah oleh
lelehan darah.
Apa
yang dialami Nabi pada tahun kesepuluh adalah duka yang bertumpuk-tumpuk,
hingga beliau menyebutnya sebagai “Amul Huzni” (tahun berduka cita), dan
julukan ini pun terkenal dalam sejarah.
Pasca tahun duka cita, tak berselang
jauh terjadilah peristiwa Isra. Menurut riwayat yang sahih. Rasulullah di-Isra’kan
dengan jasadnya. Perjalanan dimulai dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis.
Pada malam itu pula, dari Baitul Maqdis beliau naik ke langit dunia beserta
Jibril.
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Pada langit pertama beliau bertemu
dengan Nabi Adam bapak sekalian manusia. Di langit kedua beliau bertemu Nabi Yahya
Bin Zakaria dan Isa Bin Maryam. Di langit ketiga beliau bertemu dengan Nabi
Yusuf. Kemudian naik ke langit ke-empat dan bertemu Nabi Idris. Ketika naik ke
langit kelima beliau bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam beliau bertemu
Nabi Musa Bin Imran, dan di langit ketujuh beliau bertemu Nabi Ibrahim. Kemudian
beliau naik ke Sidratul Muntaha, lalu dibawa lagi ke Baitul Makmur untuk menerima
perintah shalat.
Dalam perjalanan Isra’ dan Miraj
banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya. Beliau ditawari susu dan khamer,
lalu beliau memilih susu. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Engkau telah
dianugerahi fitrah, jika engkau mengambil khamer berarti engkau menyesatkan
umatmu”.
Beliau melihat orang-orang yang
mengambil harta anak yatim secara sewenang-wenang mempunyai bibir seperti bibir
unta. Mereka mengambil sepotong api neraka langsung dengan bibirnya, dan
selanjutnya api itu keluar dari duburnya.
Nabi juga diperlihatkan para pezina
yang membawa daging berminyak yang baik di tangannya dan di sebelahnya ada
daging jelek dan busuk. Tapi mereka justru mengambil daging yang busuk dan
memakannya serta membiarkan daging yang baik.
Hikmah
paling besar dari perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW sebagaimana
difirmankan Allah dalam surat Al-Isra ayat kesatu adalah; agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.