Selasa, 07 Juni 2022

Mobil Listrik, Kendaraan Masa Depan



Bersiaplah menghadapi era transportasi baru. Begitu mungkin pesan yang bisa kita terima dari event balap mobil Formula E di Jakarta. Ke depan mobil listrik akan menjadi pengganti mobil berbahan bakar minyak. Mobil listrik pastinya lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi.

Mobil listrik saat ini memang harganya masih terbilang tinggi. Rata-rata mobil listrik di Indonesia saat ini harganya di atas Rp 500 juta, bahkan mencapai miliaran rupiah. Namun, khabarnya mobil listrik dengan banderol murah meriah seharga Rp 90 jutaan sudah mulai masuk ke Indonesia.

Di tengah polemik “berbau” politik kontestasi pemilu 2024, akhirnya balap formula E berhasil dilaksanakan. Terlepas dari motif politik, balapan mobil listrik (Formula E) di Jakarta seolah menyampaikan pesan ke seluruh dunia bahwa masa keemasan transportasi berbahan bakar fosil sudah hampir lewat. Sumber minyak dunia semakin menipis dan pada waktunya akan benar-benar habis.

Kejuaraan Formula E pertama kali digagas pada tahun 2011 di Paris oleh presiden FIA Jean Todt Olahraga yang berkembang pesat ini menampilkan mobil balap bertenaga listrik yang mirip dengan mobil Formula Satu. Balapan berlangsung di sirkuit jalan raya yang panjangnya 1,9 hingga 3,4 km. Sejak saat itu, Formula E telah berkembang menjadi merek hiburan global dengan motorsport sebagai jantungnya. Sesuai misinya, mobil balap Formula E tidak hanya dirancang agar bisa melaju cepat.

Dilansir dari situs resmi FIA Formula E, berat minimun sebuah unit mobil Formula E mencapai 903 kilogram (kg), sudah termasuk pebalap dan baterai seberat 385 kg yang posisinya di belakang driver. Untuk akselerasinya mobil balap generasi terkini Formula E mampu mencapai top speed 280 km/jam. Dengan tenaga maksimal sebesar 250 kW atau setara 335 daya kuda, mobil tersebut mampu berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam waktu hanya 2,8 detik. Luar biasa, sangat pantas mobil listrik menjadi kendaraan favorit masa depan.



 

 

Senin, 06 Juni 2022

Sujiwo Tedjo Sang Maestro



Dalam beberapa hari terasa sulit menulis. Entahlah, apa yang terjadi. Sudah bolak-balik saya berburu inspirasi dengan membaca karya-karya sang maestro presiden Jancukers, Sujiwo Tedjo, masih saja belum dapat ide menulis. Salah satu cara menumbuhkan ide kembali adalah dengan banyak membaca. Dan semua penulis pasti sepakat dengan cara ini.

Banyak penulis bagus di negeri kita. Beberapa penulis besar karyanya menjadi favorit saya. Dari dulu Cak Nun sudah saya kagumi. Kini Sujiwo Tedjo menjadi penulis kedua yang karyanya sering saya baca. Tulisannya memang “nyleneh” dari penulis pada umumnya. Tapi justru itulah daya tariknya, menurut saya.

Dalam menulis Sujiwo Tedjo sering menggunakan diksi yang menggelitik. Yang khas dari dia adalah pengetahuan budaya Jawa-nya yang begitu luas. Dunia pewayangan dan seluk-beluknya juga dikuasai. Maklum, selain seorang penulis Sujiwo Tedjo juga seorang dalang. Penulis yang sekaligus dalang, atau dalang yang sekaligus penulis.

Sebagai penulis Sujiwo Tedjo memiliki ide yang selalu segar dan tidak ketinggalan isu yang aktual. Jangan heran bila tema tulisannya sebenarnya adalah kritik yang tajam, tapi disampaikan dengan gaya guyonan. Itu sama artinya menampar dengan penuh “kelembutan”. Bahasanya sebenarnya tidak kasar, meski terkadang karakter jawa timurannya yang keras tampak nyata dalam tulisan-tulisannya.

Itulah Sujiwo Tedjo dalam pandangan saya. Satu yang paling menarik, dia adalah orang yang berdaulat. Dia bukan tipe orang yang suka berpura-pura, selalu tampil dengan apa adanya. Tentunya ini berbeda dengan kebanyakan orang. Umumnya orang sekarang akan tampil dengan penuh pencitraan. Lihat saja media sosial saat ini, setengahnya hanya tentang pamer, dan setengah berikutnya adalah menonjolkan kelebihan sendiri.

 

 

 

Minggu, 05 Juni 2022

Bukan Banyaknya Materi, Tapi Banyaknya Syukur



Kekayaan dunia sebenarnya tidak akan pernah membuat orang puas. Sudah tabiat manusia selalu ingin lebih. Seandainya dia sudah punya satu, maka ia menginginkan yang kedua, ketiga dan sererusnya. Memang benar, tidak kenyang perut manusia dari harta benda hingga mulutnya tersumpal oleh tanah.

Kecintaan terhadap harta benda yang berlebihan sebenarnya merusak. Ini seperti yang disabdakan Rasulullah. Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”

Harta yang banyak tak akan pernah membuat hati manusia puas bila ia tidak mau bersyukur. Jadi yang penting bukan banyaknya tapi kemauannya bersyukur. Bila bersyukur, yang sedikitpun akan terasa cukup dan memuaskan hatinya.

Seandainya ditanyakan kepada orang-orang yang terkaya di dunia. Apakah mereka sudah merasa kaya dan cukup apa yang telah dimilikinya, pasti jawabannya belum. Buktinya semakin kaya maka semakin banyak keinginannya. Semakin bertumpuk hartanya maka semakin cinta dengan dunia.

Orang kaya yang sejati adalah mereka yang sedikit keinginannya. Hidupnya sudah merasa serba cukup. Nikmat dari Allah selalu ia syukuri, sehingga ia lupa meminta nikmat yang lainnya. Semakin bersyukur, maka ia semakin lapang hatinya.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...