Selasa, 11 Oktober 2022

Gegara Salah Jual Jadi Menderita



Sejak kompetisi liga Inggris bergulir bulan Agustus tahun ini, Liverpool belum mampu menunjukkan kekuatannya sebagai salah sati kandidat juara. Hasil pertandingan pekan ini Liverpool dipaksa menelan kekalahan saat bertamu ke markas Arsenal di pekan ke-10 Premier League 2022/2023 di Emirates Stadium dengan skor 3-2.

Liverpool ketiban apes, dalam tempo semenit setelah kickoff, mereka kebobolan melalui gol Gabriel Martinelli. Liverpool memang bisa menyamakan skor melalui Darwin Nunez. Tapi Arsenal bisa kembali unggul melalui gol Bukayo Saka. Roberto Firmino bisa membuat Liverpool menyamakan skor menjadi 2-2. Namun Saka lagi-lagi membuat Arsenal kembali dalam posisi unggul, dan akhirnya Liverpool menyudahi pertandingan dengan kekalahan.

Ini adalah kekalahan kedua bagi Liverpool, di saat kompetisi baru merampungkan pekan ke 8. Di klasemen posisi mereka juga terlempar dari empat besar dan kini hanya menduduki peringkat kesepuluh. Apabila kita bandingkan dengan pesaing utama mereka, Manchester City Liverpool kini sudah tertinggal 13 poin.

Ada yang tidak beres dengan Liverpool. Dan banyak analis berpendapat semua terjadi karena Liverpool “tega” menjual Mane ke Bayern Minich. Duet Salah dan Mane selama ini terbukti sangat tajam, buktinya ketika mereka dipisahkan Liverpool kini menderita. Meskipun mereka berhasil mendatangkan pengganti Mane (Darwin Nunez), nyatanya hingga kini belum mampu memberi dampak yang besar.

Tidak mudah memadukan pemain baru ke dalam tim juara. Semua membutuhkan proses penyesuaian, begitu pula Darwin Nunez. Tak ada yang meragukan skill yang dimiliki Nunez, tapi ia tetap harus diberi kesempatan untuk menyatu dengan tim barunya. Celakanya, di saat Liverpool harus bersabar dengan pemain barunya, City justru semakin moncer dengan pembelian anyarnya Erling Haaland. Benar-benar situasi yang membuat Liverpool kian menderita.

 

 

 

Senin, 10 Oktober 2022

Menulis Itu yang Dirasakan, Bukan yang Dipikirkan



Sudah berpuluh kali saya membuat artikel tentang menulis. Bahkan satu buku tentang menulis sudah saya terbitkan. Tetap saja saya belum puas dengan apa yang saya tulis. Saya merasa belum menguasai teknik menulis dengan baik.

Entah sejauh mana progres dalam praktik menulis selama ini. Sering kali saya memahami teori menulis, tapi kenyataannya tetap saja menulis itu tidak mudah. Mudah bila menulis yang kita lakukan asal saja, tapi ketika kita infin menghasilkan karya yang bagus dan layak dibaca kita sering kesulitan.

Menulislah apa yang kau rasakan, kata mereka yang sudah mumpuni dalam dunia menulis. Jangan menulis apa yang kau pikirkan. Perasaan itu luas tak bertepi, sedangkan masalah yang kita pikirkan terkadang rumit dan menemui jalan buntu.

Apa yang kita rasakan adalah imajinasi kita. Dia adalah dunia yang tidak nyata dalam kehidupan tapi sejatinya ada. Imajinasi tidak bisa dibatasi atau dikekang. Ia bebas dan merdeka.

Jangan membatasi diri dalam menulis. Tulis apa saja, dan apa yang kau rasakan akan terus menjadi inspirasi yang tidak akan pernah kering. Bagai mata air yang mengalir, semakin diambil maka semakin deras mengalir. Semakin digunakan maka akan semakin jernih airnya.

Penulis tak akan pernah kehabisan tinta dan gagasan. Panca inderanya menjadi radar yang mengikat ide dan menjabarkannya dalam untaian kata. Penulis tidak akan pernah berhenti. Karena sekali berhenti akan keruh sumber air jernih dalam jiwanya, dalam rasanya, dan dalam samudera imajinasinya.

 

 

Minggu, 09 Oktober 2022

Tambah Umur, Jangan Tambah Dosa

 



9 Oktober 2022, hari ini usia tepat di angka 44 tahun. Tidak bisa dikatakan masih muda lagi. Dulu sewaktu masih sekolah di tingkat tsanawiyah, banyak guru kami yang usianya lebih dari 40 tahun. Saya menganggap pada waktu itu, usia mereka sudah cukup tua. Memang itu wajar, karena saya membandingkan dengan usia kami yang masih belasan tahun.

Kini tanpa terasa, usia sudah semakin mendekati setengah abad. Lagi-lagi perasaan tidak merasa tambah tua meski usia terus bertambah. Benar kata orang, kita sering lupa dengan usia karena jiwa tetap merasa masih muda. Tahu-tahu ketika di toko, pasar, atau dalam acara banyak yang memanggil “Bapak”. Kalau dulu masih dipanggil “Mas”, kini semakin sedikit yang menggunakan panggilan itu.

Bersyukur tiada henti karena Allah telah menganugerahkan panjang usia. Berapa banyak yang usianya kurang dari 40 tahun sudah dipanggil menghadap oleh-Nya. Atau bahkan di saat usia mereka masih muda dan sedang menjalani masa indah remaja.

Semoga hari ini dan seterusnya bisa terus berbuat baik. Mungkin ini harapan yang sederhana namun hakikatnya berat untuk dilaksanakan. Umumnya orang terlena dengan kesehatan tubuhnya, terlena oleh usia mudanya, terlena oleh nikmat-nikmat yang sebenarnya hanya sementara saja.

Engkau Mahatahu apa yang akan terjadi nanti Ya Rabb. Sedangkan hamba hanya makhluk-Mu yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan-Mu. Hamba selalu belajar menjadi manusia yang baik. Tunjukkan selalu jalan yang benar, dan mudahkan hamba melewatinya.

Sabtu, 08 Oktober 2022

Tidak Bergantung Pada Manusia



Karena kekurangan yang ada pada diri sendiri, terkadang menjadikan seseorang bergantung pada yang lain. Seorang pelayan bergantung dari gaji majikannya, yang miskin bergantung dari pemberian orang kaya, ataupun yang lemah bergantung pada mereka yang dianggap punya kekuasaan.

Manusia sering lupa bahwa mereka yang dijadikan sandaran tak lebih hanya manusia yang juga banyak kelemahan. Bergantung pada yang punya jabatan, padahal mereka akan berhenti pada waktunya. Bergantung pada orang kaya, sedangkan mereka bisa jatuh miskin dalam waktu yang cepat. Atau bergantung pada kebaikan orang, sangat mungkin mereka lupa membantu.

Hidup mandiri dan punya kedaulatan itu lebih nikmat daripada hidup dalam kemudahan namun dalam bayangan orang lain. Dalam dunia usaha, memiliki  usaha sendiri walau kecil itu lebih baik daripada menjadi karyawan di perusahaan yang besar. Atau ibaratnya, menjadi kepala kucing tidak apa-apa dibanding hanya menjadi ekor harimau.

Bagi mereka yang memulai berumah tangga tentu bisa merasakan. Tinggal di rumah kontrakan akan terasa lebih nyaman dibanding tinggal bersama mertua. Mungkin secara fasilitas di kontrakan serba terbatas, tapi jiwa merdeka.

Sama halnya rasanya menaiki motor butut tapi milik sendiri, terasa lebih nyaman dibanding naik mobil bagus tapi sekadar numpang. Rasa nyaman itu tidak terbatas pada santainya fisik. Tapi lebih dari itu, kenyamanan hati.

 

 

Jumat, 07 Oktober 2022

"Makelar" Madrasah

 



Pelatihan Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah Angkatan I yang dilaksanakan sejak tanggal 3 hingga 9 Oktober di Kantor Kemenag Tulungagung, benar-benar saya gunakan untuk “ngangsu kawruh”. Beruntung sekali dalam sepekan ini saya disatukan dalam ruang dan waktu yang sama dengan orang-orang yang luar biasa.

Para instruktur dari Balai Diklat Keagamaan Surabaya sudah barang tentu tidak perlu dibahas, mereka pasti orang-orang yang “expert” di bidangnya. Namun kolega kami, para Kepala Madrasah yang menjadi peserta pelatihan juga punya pengalaman banyak yang perlu diserap sebagai wawasan penting untuk mengembangkan madrasah.

Di sela waktu istirahat atau menunggu materi disampaikan, sering saya gunakan untuk “wawancara” dengan teman-teman Kepala Madrasah. Tentu hanya ngobrol santai tapi berisi. Umumnya mereka memiliki cerita yang menarik bagaimana berjuang membangun madrasah dari bawah. Kiat-kiat bagaimana mengelola madrasah dengan sumber daya terbatas tapi mampu bersaing dan mendapat kepercayaan masyarakat.

Dari segi pengalaman bisa dikatakan saya tergolong masih minim. Dan, bila dilihat dari jumlah siswa, banyak Kepala Madrasah di kelas pelatihan kami yang kuantitas siswanya dua sampai tiga kali lipat dari jumlah siswa kami. Kalau bisa diibaratkan, umpama kambing yang sedang berada di antara kumpulan gajah.

Ada semangat baru yang terasa menggebu. Saya yakin ini adalah efek beberapa hari menjalani pelatihan dan “bergesekan” dengan teman-teman kami yang hebat. Mereka "Makelar" madrasah yang mampu “menjual” madrasah di tengah masyarakat yang semakin terbuka pikirannya. Mereka adalah para pejuang madrasah yang sudah teruji dan terbukti komitmennya. Terima kasih teman-teman……



Kamis, 06 Oktober 2022

Stop Haaland…!

 



Erling Haaland kembali membuat sensasi saat Manchester City menjamu Copenhagen pada laga lanjutan penyisihan Grup G Liga Champions 2022-2023 di Stadion Etihad, Kamis (6/10/2022) dini hari tadi. Pemain Manchester City itu berhasil menambah perbendaharaan golnya di kompetisi antarklub Eropa setelah mencetak dua gol.

Mengerikan. Seakan Haaland bermain sepak bola hanya untuk bersenang-senang saja. Tak cukup sebiji gol yang dia buat, sudah beberapa kali dia membuat brace (dua gol) dan bahkan hatrick (tiga gol). Ditunjang dengan postur tubuh yang sangat ideal, yakni memiliki tinggi 191 cm, Haaland menjadi tipe penyerang yang sangat lengkap dan sulit dibendung aksinya.

Predator baru di jagad bola kini benar-benar telah hadir. Era kejayaan Messi dan Ronaldo kini sudah akan berakhir. Semua ada masanya, tiba waktunya pecinta bola perhatiannya tertuju pada bintang-bintang muda yang semakin bersinar. Dan di antara superstar yang paling terang sinarnya sudah pasti Erling Haaland.

Tahun ini ketajaman Haaland semakin meningkat. Semua tidak terlepas dari peran pelatihnya, Guardiola. Di tangan Guardiola “kebuasan” pemain asli Norwegia tersebut semakin tidak terbendung. Mungkin ini yang dinamakan jodih dalam dunia sepak bola. Pelatih bagus bertemu dengan pemain yang bagus pula. Sepertinya gelar liga champion eropa sudah sangat pantas diraih City di kompetisi tahun ini.

Guardiola telah menemukan “puzzle” yang belum lengkap selama ini. Secara tim Manchester City asuhan dia sudah bagus. Namun secara individu pemain memang belum ada yang menonjol. Bisa dikatakan city yang kemarin lebih mengandalkan kolektivitas, tapi kini City sudah benar-benar lengkap dengan kehadiran Haaland.

Rabu, 05 Oktober 2022

Jatuh Bangun Menaikkan Citra

 



Belum pulih kepercayaan masyarakat terhadap Polri akibat kasus polisi tembak polisi di rumah polisi, kini mereka dihadapkan lagi dengan urusan yang tidak kalah besarnya yakni tragedi Stadion Kanjuruhan.

Satu kasus besar belum selesai, kini Polri harus dihadapkan dengan kejadian luar biasa. Bagai ujian yang tiada putus-putusnya. Ibarat orang yang baru bangkit dari jatuh, kini harus terjatuh untuk yang kedua kalinya.

Ada dugaan salah prosedur dalam pengamanan pertandingan tersebut, sehingga timbul korban jiwa. Nyatanya, sudah ada tersangka dari pihak polisi dan ada unsur pimpinan Polri yang telah diberhentikan dari jabatannya. Ini mengindikasikan memang ada kelalaian aparat dalam menjalankan tugasnya.

Memang kita tidak bisa lagi menyalahkan siapapun dari peristiwa pilu tersebut. Saling menimpakan kesalahan akan semakin menjadikan hati kita semua terluka dan semakin perih. Tidak elok kita saling bertengkar dan menuduh siapa yang pantas disalahkan, sementara semua sudah terjadi dan tidak bisa lagi dirubah. Kita semua berduka, suporter, polisi, masyarakat Malang dan seluruh Indonesia juga sedih dengan apa yang telah terjadi.

Tim yang dibentuk untuk investigasi peristiwa Kanjuruhan, kita yakini tidak sekadar dimaksudkan untuk mencari siapa yang bersalah. Semua harus dilakukan untuk mencari fakta secara obyektif dan untuk sepak bola yang lebih baik. Ini menjadi bukti pemerintah serius menangani tragedi di Malang. Hasil investigasi nantinya akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh jalannya liga sepak bola di Indonesia. Dan harapannya, kelak tidak akan pernah lagi terulang kejadian itu.

 

 

Selasa, 04 Oktober 2022

Jadikan Pelajaran, Jangan Sia-siakan Nyawa Mereka

 



Tragedi di stadion Kanjuruhan menjadi tragedi terbesar kedua dalam dunia sepak bola. Tragedi sepak bola yang memakan korban jiwa terbesar dalam sejarah terjadi pada tahun 1964, di kota Lima Peru, yang menewaskan 328.

Penyesalan tidak cukup untuk semua yang telah terjadi. Tapi yang paling penting ini harus menjadi titik awal perubahan sepak bola di negeri kita. Manajemen klub harus lebih profesional, sarana harus berstandar FIFA dan yang tidak kalah penting, suporter kita harus lebih dewasa.

Cinta dengan klub pujaan itu wajar. Tapi cinta yang membabi-buta itu bisa membahayakan. Ketika tim kesayangannya kalah, mereka bisa berbuat anarkis. Ini tentu menjadi sesuatu yang aneh, karena tindakan anarkis hanya akan merugikan diri sendiri.

Lihatlah suporter klub sepak bola di eropa yang sudah dewasa. Mereka totalitas dalam mendukung klub ketika bermain. Tapi ketika pertandingan telah berakhir, mereka sportif meski tim yang didukung menderita kekalahan.

Sepak bola bukan segalanya, kehidupan ini jauh lebih berharga. Tak sebanding apabila nyawa ditukar dengan fanatisme dan kecintaan yang berlebih terhadap klub kesayangan. Jangan sia-siakan korban yang telah berjatuhan. Rubah wajah sepak bola kita menjadi olah raga berprestasi yang menyenangkan dan jauh dari tindak anarkis.

Senin, 03 Oktober 2022

Menanti Keputusan FIFA

 



Di saat perkembangan sepak bola nasional mulai menggembirakan, kita dikejutkan dengan tragedi pilu di Stadion Kanjuruhan. Apa yang terjadi di Malang sudah pasti akan berimbas ke sepak bola nasional kita. Masyarakat pecinta bola mesti bersiap-siap menunggu sanksi apa yang dikeluarkan oleh FIFA sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam dunia sepak bola.

Sanksi dari FIFA tentu juga sesuai kadar kelalaian kita dalam menegakkan statuta FIFA. Terlebih peristiwa di Kanjuruhan tergolong kejadian yang luar biasa karena memakan korban jiwa yang begitu banyak. Bisa saja, FIFA akan menjatuhkan hukuman yang berat kepada PSSI, dan tentu itu akan merugikan timnas kita.

Ada beberapa even sepak bola yang berskala regional bahkan dunia yang sedianya akan dilaksanakan di Indonesia. Pada akhir tahun kita akan mengikuti piala AFF. Kemudian tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah piala dunia U-20. Bagaimana bila FIFA melarang Indonesia menyelenggarakan kompetisi sepak bola yang melibatkan banyak negara tersebut, sudah pasti sepak bola kita akan mengalami kemunduran kembali.

Sangat mungkin FIFA membatalkan pelaksanaan piala dunia U-20 di Indonesia karena tidak terjaminnya keamanan bagi para penonton. Kita akan dinilai ceroboh dalam masalah pengamanan. Dalam masalah keamanan sudah pasti FIFA tidak akan mengambil risiko, karena keamanan pasti menjadi syarat yang diletakkan pada urutan teratas.

Masih segar dalam ingatan kita. Pada tahun 2015 kita mendapat sanksi karena dinilai melanggar statuta. FIFA mencabut keanggotaan PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia. FIFA juga melarang timnas mapun klub Indonesia mengikuti kompetisi internasional di bawah naungan FIFA dan AFC. Kemudian setiap anggota dan ofisial PSSI tidak bisa mengikuti program pengembangan, kursus, atau latihan dari FIFA dan AFC selama sanksi belum dicabut. Bila sanksi seperti itu terulang lagi, sudah tentu prestasi sepak bola kita akan semakin terpuruk.

Minggu, 02 Oktober 2022

Fanatisme Berujung Tragedi



Tak patut dan tidak sepadan, gegara pertandingan sepak bola memakan koban jiwa bahkan hingga lebih seratus nyawa. Ini tragedi memilukan yang tidak boleh terulang lagi. Sepak bola hanya pertandingan olah raga, tidak perlu fanatisme berlebihan. Seharusnya suporter datang ke stadion dengan riang, dan pulang semua aman. Menang dan kalah itu hal yang biasa, karena ini hanya permainan.

Sebagai penggemar sepak bola, pikiran saya tidak bisa lagi mencerna mengapa bisa terjadi peristiwa yang begitu memilukan di Stadion Kanjuruhan Malang. Satu nyawa saja tidak pantas melayang karena kecintaan terhadap sebuah klub sepak bola. Wahai para suporter, sepak bola bukan perang yang harus saling menghancurkan. Apa yang terjadi di lapangan bola selama 90 menit, menjadi hasil final yang harus diterima oleh kedua pihak. Senang atau kecewa, harus diterima dengan sportif.

Kecintaan berlebihan terhadap tim atau klub sepak bola sering merugikan diri sendiri dan juga klub yang dipuja. Apa yang terjadi di Kanjuruhan jelas menjadi kerugian besar bahkan menjadi tragedi kemanusiaan. Ibarat nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi dan tidak bisa lagi dirubah, tapi ini harus menjadi pelajaran berharga bagi insan bola di Indonesia.

Rivalitas antara dua klub sepak bola memang sudah biasa. Kita mengetahui di luar sana juga demikian. Dalam setiap kompetisi pasti akan terjadi persaingan dan usaha saling mengalahkan. Ini yang menjadikan sebuah pertandingan sepak bola menarik. Tapi dalam sepak bola profesional, tidak ada lawan abadi. Seorang pemain bisa saja pindah dari klub satu ke klub lainnya. Ini yang harus disadari oleh penggemar, sepak bola tidak harus dibela sampai mati.

Semua berharap ke depan para penggemar sepak bola lebih dewasa. Bagi kita pecinta bola, sepak bola tak lebih hanya menjadi hiburan dan kebanggaan. Di saat dunia orang kecil dan masyarakat pinggiran penat karena beratnya himpitan hidup, ada waktu sejenak untuk melupakan segala beban itu yakni menonton bola meski hanya lewat televisi. Lalu, kalau pertandingan sepak bola kini sering menjadi ajang keributan yang mengerikan, ke mana lagi kita mencari hiburan.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...