Selasa, 18 April 2023

Duka (musibah) di Awal Ramadan 1444 Hijriyah


  


Ramadan tahun 1444 Hijriyah ini akan selalu kami kenang, karena terselip peristiwa sedih di keluarga kami. Pada hari keenam puasa, ayah tercinta meninggalkan kami untuk selamanya. Ini menjadi Ramadan terakhir dengan ayah kami. Semua orang tentunya pasti pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang disayangi. Meski kita sadar betul dengan kepastian maut, tetap saja semua terasa berat dan menjadi duka yang mendalam.

Kalau sudah tiada, semua baru terasa. Ramadan yang selama ini menjadi momen berkumpulnya seluruh keluarga, kini terasa berbeda. Ada yang hilang dari pandangan kami. Senyum Bapak yang cerah bahagia, di saat melihat anak-anak dan cucunya berkumpul menikmati hidangan buka puasa bersama.

Semua sudah menjadi kehendak dan di bawah kuasa-Nya. Di bulan yang mulia, beliau kembali ke menghadap kepada sang Pemilik kehidupan. Baru saya mengerti apa makna pesan Bapak kami beberapa hari sebelumnya, beliau minta diantar pulang. Dan saya telah memenuhi permintaannya yang terakhir. Mengantar beliau hingga membaringkannya di liang lahat serta menghadapkan wajahnya ke kiblat. Dan malam itu, saya orang terakhir yang meninggalkan pusara beliau. Ya Rabb, ampunilah beliau dan berikan tempat yang mulia di sana.

Ramadan ya Ramadan… Sepanjang tahun kami menunggu kedatanganmu. Sekuat mungkin kami berusaha menggapai keberkahan bulan suci Ramadan. Ya Allah, izinkan kami berjumpa Ramadan di tahun yang akan datang. Dan bimbing kami agar menjadi hamba-hamba yang bertakwa.

 

 

Minggu, 16 April 2023

Ramadan Tempo Dulu



Momen kedatangan bulan Ramadan selalu terasa istimewa bagi saya. Dan itu sudah saya rasakan sejak kecil sebelum mengerti banyak tentang makna puasa. Masih jelas dalam ingatan, ketika bulan Ramadan malam hari kampung kami yang suasananya sunyi karena belum ada penerangan listrik berubah semarak dengan banyaknya oncor (obor) yang dipasang di tepi jalan desa kami.

Musholla kecil di pinggir sawah tempat saya belajar mengaji juga ramai dengan jamaahnya, meski shalat tarawih hanya dengan penerangan lampu petromak. Setelah shalat tarawih dilanjutkan dengan tadarrus al-Quran, dan itu menjadikan denyut kehidupan spiritual musholla kami semakin terasa. Sewaktu Ramadan kami lebih banyak menghabiskan waktu di musholla. Karena di musholla selalu banyak teman bermain, sementara di rumah kami tidak memiliki kegiatan yang menyenangkan.

Kesan-kesan indah itu begitu kuat melekat dalam ingatan sehingga mustahil akan terlupakan. Ada kerinduan yang mendalam menjalani ibadah puasa layaknya masa kecil dulu di kampung halaman. Rindu tidur ramai-ramai di musholla dan ketika waktu sahur kami ronda keliling kampung. Rindu berebut takjil dan berkat. Dan juga rindu bisa makan (buka) bersama dengan kedua orang tua beserta kakak dan adik saya.

Menjalani puasa dalam suasana seperti itulah yang selalu saya ingat. Ada kedamaian Ramadan yang berpendar dalam ruang musholla yang sempit dan temaram. Kami rasakan kesejukan dan ketenangan hati di sepanjang lorong-lorong redup jalan kampung kami. Ramadan serasa nyata hadir dalam setiap hembusan nafas kami, orang-orang desa yang katanya orang pinggiran.

Tapi, semua pasti akan berubah tergerus arus zaman. Begitu pula kampung tempat tinggal masa kecil saya dulu. Musholla yang dahulu ramai kini sekarang menjadi sepi. Tidak ada lagi gerombolan anak-anak yang bermarkas dan bermain di sana. Ya, karena anak-anak saat ini pasti lebih suka bermain dengan gadget dan enggan bersosialisai dengan teman mereka.

 

Selasa, 11 April 2023

Puasa, Laku Tirakat dan Mereset Tubuh



Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, puasa merupakan ibadah yang sudah dilaksanakan oleh umat-umat jauh sebelum periode Nabi Muhammad. Hanya saja, waktu pelaksanaan dan ketentuan puasa umat zaman dahulu berbeda dengan kita (muslimin) saat ini.

Dalam tradisi orang Jawa, sudah sangat lama puasa menjadi salah satu laku tirakat yang umum dikerjakan oleh seseorang yang ingin mencapai kemampuan tertentu. Sudah lazim apabila murid berguru pada tokoh yang memiliki kelebihan, syaratnya selalu disuruh tirakat dengan melakukan puasa.

Bahkan, puasa sebenarnya tidak hanya dikerjakan oleh manusia, akan tetapi beberapa hewan juga punya kebiasaan “puasa”. Ketika induk ayam mengerami telurnya, ia tidak akan makan dalam beberapa hari. Kepompong juga melakukan hal yang demikian di saat ia bermetamorfosis menjadi kuku-kupu. Masih ada beberapa hewan yang ternyata melakukan proses “tirakat puasa” di saat momen yang tertentu.

Puasa merupakan jalan menuju perubahan. Umat muslim menjalankan puasa Ramadan dengan harapan akan meraih derajat taqwa. Dan perubahan yang diharapkan itu akan menjadi nyata bila puasa yang dikerjakan benar-benar dijalankan dengan ikhlas semata karena mengharap rida Allah.

Di akhir Ramadan nanti akan lahir kembali insan-insan yang kembali pada fitrah atau suci. Puasa telah membersihkan semua dosa-dosanya sehingga tak tertinggal lagi sama sekali. Bukan hanya ruhani yang kembali bersih, tapi jasmani atau tubuhnya juga telah direset kembali menjadi lebih sehat dan segar.

 

 

Jumat, 24 Maret 2023

Fasting Therapy



Sesuai hadis Nabi, puasa itu menyehatkan. Dan apa yang disampaikan Rasulullah jauh sebelum dunia kedokteran maju seperti saat ini ternyata memang terbukti benar.

Dunia kesehatan telah banyak melakukan penelitian, yang kesimpulannya menyatakan bahwa menahan diri untuk tidak makan dalam periode tertentu (Intermittent fasting) memberi dampak yang bagus bagi kesehatan.

Intermittent fasting adalah metode diet yang dilakukan dengan cara berpuasa selama beberapa waktu tertentu. Diet puasa ini memiliki manfaat lebih dari sekadar menurunkan berat badan. Pembatasan waktu makan bisa membantu memperlambat tanda-tanda penuaan, menurunkan risiko penyakit jantung, serta meningkatkan kualitas tidur.

Karena begitu besar manfaat puasa bagi kesehatan, faktanya sekarang ini banyak kalangan di luar Islam ikut melakukan puasa. Tentu tujuan mereka berpuasa sekadar ingin memperoleh kesehatan bukan karena menjalankan kewajiban agama.

Di saat banyak kalangan yang menjadikan puasa hanya sebagai terapi kesehatan atau fasting therapy, semestinya semakin menggugah kesadaran dan menambah keimanan kita sebagai seorang muslim. Bahwa apa yang diperintahkan Allah kepada kita sudah pasti membawa hikmah dan kebaikan bagi kita yang taat melaksanakannya.

 

Jumat, 17 Maret 2023

Amal Ikhlas



Nilai emas selalu diukur dari kadar keasliannya. Emas yang bercampur dengan logam lain atau kerak akan dihargai rendah. Namun bila emas kandungannya benar-benar telah murni bersih, maka pasti akan dinilai tinggi.

Perumpamaan amal manusia yang ikhlas adalah seperti emas. Tidak ada unsur lain dalam amalnya, semua hanyalah karena Allah semata. Beramal bukan karena ingin dilihat orang. Bukan pula karena berharap mendapat status mulia di depan manusia.

Atau ikhlas itu seperti air bening. Ketika dia berada di wadahnya tak menampakkan warna apapun. Sama halnya seseorang, ketika dia melakukan sesuatu dilandasi keikhlasan dia tidak terpengaruh dengan apapun. Karena yang terpenting adalah keridaan Allah, perhatian manusia sudah tidak dianggap penting.

Pujian tidak akan menjadikan orang yang ikhlas besar kepala. Cacian atau bahkan umpatan orang tidak pula menjadikan orang ikhlas semangatnya menjadi lemah. Semua itu tidak akan merubah apapun. Hatinya sudah tegak lurus dan tidak mungkin lagi berpaling dari selain Allah. Hatinya telah mendapat ketenangan dan tidak akan ada keraguan lagi.

Memiliki hati yang ikhlas berarti dia telah merdeka. Akan sangat melelahkan bila hidup kita hanya menuruti kemauan dan kesenangan manusia. Ujung-ujungnya pasti akan membuat hati kecewa.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...