Jumat, 08 Januari 2021

JEDA MENULIS


Semua membutuhkan istirahat. Jangankan kita manusia, mesin yang merupakan benda mati pun membutuhkan istirahat. Dengan jeda sebentar, energi akan kembali segar, akan pulih kembali semangat yang surut. Dengan mengambil istirahat yang cukup akan tetap terjaga kesehatan fisik dan jiwa seseorang. Hidup itu begitu singkat, begitu indah. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan. Nikmatilah hidup Anda, begitu kata Jack Ma.

Aktivitas menulis juga membutuhkan jeda. Rutinitas yang terus-menerus pasti akan mengalami kejenuhan juga. Tentu bila sudah dalam keadaan jenuh, ide yang akan disusun akan sedikit terhambat. Pilihan jeda sebentar dapat memicu munculnya pikiran dan ide kreatif kembali. Dalam jeda kita mengumpulkan tenaga, untuk kembali membuat lompatan  yang lebih jauh. Dengan memilih jeda pikiran kita kembali jernih sehingga dapat lebih teliti untuk memperbaiki tulisan, termasuk dapat memunculkan inspirasi baru bagi tulisan Anda

Hidup tidak selamanya tentang menulis, atau perihal pekerjaan kita sehari-hari. Ada waktunya juga kita melakukan hal-hal remeh yang menyenangkan hati. Dan jikalau mau mengambil jeda menulis idealnya memang dengan membaca. Membaca seakan mengisi kembali gelas yang kita minum. Memulihkan dan menyegarkan kembali pikiran yang penat. Rasakan betapa spirit terisi penuh lagi dan produktifitas menulis akan lebih meningkat.

Jeda menulis sangat penting tapi tetap seperlunya. Mengambil jeda yang terlalu panjang justru tidak efektif. Semangat menulis sebaiknya dijaga dengan jeda sebentar kemudian menulis lagi. Ritme menulis yang mulai teratur harus dikawal terus secara sinambung.

Dalam jeda menulis manfaat terbesar yang didapat adalah kesempatan refleksi. Melihat kembali tulisan-tulisan kita yang berserak-serak. Perenungan diri atas apa yang telah ditulis selama ini, tafakur tentang semua hal yang kita anggap baik maupun tidak.

 

 

 

Kamis, 07 Januari 2021

RESOLUSI HIDUP BAHAGIA



Kalau tahun lalu ada yang menyebut sebagai tahun musibah, tahun kesedihan atau tahun bencana, mungkin saja ada sisi benarnya. Faktanya pandemi telah menginfeksi jutaan manusia dan korban jiwa yang begitu banyak. Menurut sebuah perhitungan, jumlah orang yang meninggal karena Covid-19 setara dengan korban perang dunia pertama dan kedua. Secara dampak sosial, pandemi juga menyebar ke seluruh pelosok dunia, lebih luas dari dampak perang dunia.

Kalau direnungkan, tidak pernah Allah menciptakan segala sesuatu sia-sia belaka. Selalu ada pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa. Pandemi telah mengajarkan kita tentang kesetaraan. Antara orang kaya dengan yang miskin tidak memiliki perbedaan, sama-sama memiliki risiko terinfeksi. Begitu pula antara yang memiliki jabatan tinggi dengan rakyat jelata, sama-sama tidak aman dari tertular virus.

Pandemi mengajarkan kita pula untuk selalu dekat dengan sang pencipta. Karena tidak ada tempat berlindung yang paling aman selain perlindungan-Nya. Semua tahu bila Corona mampu menembus gedung-gedung bertingkat yang kokoh. Mampu masuk dalam lingkungan mewah yang paling aman sekalipun. Bahkan dia bisa menyelinap masuk ke istana megah tanpa satupun penjaga yang bisa mencegahnya.

Percuma saja kita takut, meski kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Dia (Corona) adalah makhluk biasa ciptaan Allah juga. Contoh kecil yang menjadi bukti, bahwa kepandaian manusia tidak berdaya menghadapinya. Harusnya manusia segera sadar akan semua kesombongan dan keserakahan selama ini.

Tahun ini kita harus punya resolusi, “resolusi hidup bahagia”. Berusaha menjaga nikmat kesehatan dengan banyak bersyukur, olahraga, memilih makan yang halal dan baik, dan lebih peduli dengan penderitaan saudara kita. Bukankah salah satu hikmah dari musibah adalah mengingatkan kita untuk segera kembali ke jalan-Nya. Musibah menjadikan yang selama ini lupa ingat kembali. Membuat yang tinggi hati segera sujud kembali. Sujud yang dalam seraya berserah diri murni hanya kepada Dzat yang menguasai hidup kita.

 

Rabu, 06 Januari 2021

REFLEKSI LAGI



Bagai sebuah peribahasa, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Umumnya orang mudah menilai kelemahan orang lain, namun cenderung menutup mata dengan kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Akan sangat mudah meneliti, kemudian mengkritik orang. Padahal diri sendiri banyak hal yang harus diperbaiki.

Sebenarnya ini adalah kritik untuk diri sendiri. Atau apalah, evaluasi, refleksi, yang penting dimaksudkan untuk memperbaiki diri. Orang bilang, jadilah manusia yang bisa merasa, bukan merasa bisa. Bisa merasa tentu dia mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, nasihat orang, dan peka terhadap sekelilingnya. Sedangkan merasa bisa cenderung akan menjadi manusia takabur.

Menulis harus terus berjalan, tetapi membaca juga jangan ditinggalkan. Ternyata melakukan dua hal secara simultan rutin sehari-hari tidaklah mudah. Ketika asyik sedang membaca, kadang tidak sempat untuk menulis. Sebaliknya bila sedang berusaha menulis, kegiatan membaca juga sering ditinggalkan.

Semakin lama koleksi buku bertambah, tetapi minat membaca begitu-begitu saja, stagnan tidak ada peningkatan. Beberapa buku baru bahkan belum “tersentuh” dan masih berjajar di rak. Maunya sebenarnya bisa seperti orang-orang yang disiplin membaca dan menulis. Tapi rupanya semua itu tidaklah mudah.

Semakin bertambah usia seharusnya semakin bijaksana. Bijaksana dalam mengatur waktu, tertib dengan komitmen yang telah dibuat sendiri, atau disiplin dengan skedul harian yang telah disusun. Lagi-lagi semua sering keluar dari track yang seharusnya dilalui. Entahlah, semua belum bisa ajeg, masih angin-anginan. Tergantung ke mana arah angin, seringnya yang terjadi semangat runtuh karena “masuk angin”.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...