Minggu, 10 Januari 2021

RENUNGAN MALAM


Salah satu quote Umar Kayam, “Seorang pengembara tidak boleh terlalu lama berhenti di satu persinggahan. Satu-satunya hal yang harus terus memesona pengembara ialah alam bebas yang luas. Gunung-gunung, sawah-sawah, kali-kali, dan orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan itu”. Umar Kayam adalah seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1988-1997).

Yang menarik bagi seorang pendidik adalah selalu berada di tengah-tengah muridnya, menyampaikan ilmu dan mendidik serta membangun karakter yang mulia. Bagi pelukis yang memikat minatnya adalah kanvas dan lat-alat lukisnya. Kemudian mampu mengekspresikan imajinasi dan idenya. Dan bagi penulis tentunya yang memukau adalah perangkat menulisnya. Dan dengan peranti tadi dia mampu menyalurkan segenap gagasannya. Penulis yang memiliki kesempatan menulis seperti ikan yang berada dalam air, situasi yang ideal yang diharapkan.

Kita dibekali potensi oleh Allah semenjak kita lahir di muka bumi ini. Kita terus berproses sebagai pribadi dan mengembangkan potensi-potensi. Tentu tak ada yang ingin menjalani kehidupan yang sia-sia tanpa diisi oleh kegiatan yang bermakna. Kita ingin berkarya dan melakukan sesuatu. Menghasilkan sesuatu atau melakukan sesuatu yang dapat kita harapkan buahnya kelak di kehidupan yang abadi. 

Saat ini masyarakat kita disuapi dengan budaya instan. Banyak yang memiliki pandangan bahwa tujuan hidup adalah meraih kekayaan dan kesenangan. Hidup ini seakan-akan tentang mencari dan mengejar kesenangan dan kekayaan belaka. Padahal kekayaan bukan tujuan hidup. Orang kaya bukan semata mereka yang memiliki banyak harta, begitu nasihat para bijaksana. Orang kaya hakikatnya adalah orang yang tidak banyak keinginannya. Ketika seseorang masih memiliki banyak keinginan, sebenarnya dia masih banyak memiliki ketergantungan.

Ada yang lebih penting dalam hidup ini, selain mengejar segala kesenangan. Karena segala kesenangan dunia hanya senda gurau belaka. Jalanilah peran dalam kehidupan di dunia ini sepenuhnya. Apa yang kita lakukan adalah panggilan hidup, apapun itu. Menjadi pendidik berusaha menjadi pendidik yang terbaik. Menjadi profesi apa saja tetap berusaha menjadi yang terbaik. Hidup kita di dunia adalah menanam kebaikan. Apa yang kita tanam, kelak itulah yang kita dapatkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 09 Januari 2021

DUA KARYA INSPIRATIF



Ini hari yang menyenangkan. Bertambah dua buku baru karya dari teman-teman di Grup Ma’arif Menulis. Dua karya hebat yang pasti menambah semangat menulis saya. “Melukis Mimpi di Masa Pandemi, Pengalaman Hidup, Gagasan, Refleksi dan Nasihat Diri” karya Bapak Nur Hadi dan “Membangun Pembelajaran INSPIRATIF” buah karya Bapak Muhammad Ansorie. Secara personal saya memang belum begitu mengenal dekat beliau berdua (penulis), hanya lebih sering berkomunikasi melalui "udara". Namun tulisan mereka sudah sangat saya kenal. Bisa dikatakan hampir setiap mereka mengaploud tulisan di blog, saya selalu berkesempatan untuk membacanya.

Pasti ada kerja serius dibalik terbitnya sebuah buku. Ada usaha yang menguras tenaga, pikiran bahkan sampai kerja keras melebihi batas waktu. Tapi semua akan terbayar dengan lahirnya karya tulis ini. Kelegaan hati dan kebahagiaan yang tentunya tidak ternilai. Meskipun saya belum membaca dua buku keren ini, saya tidak ragu untuk mengatakan bila isinya pasti bagus dan menginspirasi.

Tentu satu tahun yang lalu semua belum pernah berpikir akan mampu membuat karya sebuah buku. Tapi hari ini mimpi itu telah terwujud. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Semua berangkat dari keberanian menulis. Dan yang jelas, selalu ada "tangan dingin" dibalik karya-karya yang lahir dari rahim "Ma'arif Menulis". Siapa lagi kalau bukan pembimbing kami Doktor Ngainun Naim. Motivasi beliau sejauh ini mampu memberi suntikan spirit kami dalam menulis. Sudah beberapa karya antologi maupun mandiri terbit karena peran beliau.

Selamat Pak Nur, Pak Ansorie... saya ikut bangga dengan karya yang telah terbit. Dan, yakin ini baru langkah awal dari rangkaian karya berikutnya. Karya yang akan semakin mendorong untuk terus menulis dan menulis lagi. Karena akan ada semangat yang lebih besar ketika sudah mampu melahirkan karya tulis.

 

Jumat, 08 Januari 2021

JEDA MENULIS


Semua membutuhkan istirahat. Jangankan kita manusia, mesin yang merupakan benda mati pun membutuhkan istirahat. Dengan jeda sebentar, energi akan kembali segar, akan pulih kembali semangat yang surut. Dengan mengambil istirahat yang cukup akan tetap terjaga kesehatan fisik dan jiwa seseorang. Hidup itu begitu singkat, begitu indah. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan. Nikmatilah hidup Anda, begitu kata Jack Ma.

Aktivitas menulis juga membutuhkan jeda. Rutinitas yang terus-menerus pasti akan mengalami kejenuhan juga. Tentu bila sudah dalam keadaan jenuh, ide yang akan disusun akan sedikit terhambat. Pilihan jeda sebentar dapat memicu munculnya pikiran dan ide kreatif kembali. Dalam jeda kita mengumpulkan tenaga, untuk kembali membuat lompatan  yang lebih jauh. Dengan memilih jeda pikiran kita kembali jernih sehingga dapat lebih teliti untuk memperbaiki tulisan, termasuk dapat memunculkan inspirasi baru bagi tulisan Anda

Hidup tidak selamanya tentang menulis, atau perihal pekerjaan kita sehari-hari. Ada waktunya juga kita melakukan hal-hal remeh yang menyenangkan hati. Dan jikalau mau mengambil jeda menulis idealnya memang dengan membaca. Membaca seakan mengisi kembali gelas yang kita minum. Memulihkan dan menyegarkan kembali pikiran yang penat. Rasakan betapa spirit terisi penuh lagi dan produktifitas menulis akan lebih meningkat.

Jeda menulis sangat penting tapi tetap seperlunya. Mengambil jeda yang terlalu panjang justru tidak efektif. Semangat menulis sebaiknya dijaga dengan jeda sebentar kemudian menulis lagi. Ritme menulis yang mulai teratur harus dikawal terus secara sinambung.

Dalam jeda menulis manfaat terbesar yang didapat adalah kesempatan refleksi. Melihat kembali tulisan-tulisan kita yang berserak-serak. Perenungan diri atas apa yang telah ditulis selama ini, tafakur tentang semua hal yang kita anggap baik maupun tidak.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...