Rabu, 10 Maret 2021

Man Jadda Wajada



Ketika seseorang mencoba untuk sungguh-sungguh melakukan sesuatu, maka pasti akan ada jalan yang terbuka. Di mana ada kemauan, pasti akan ada cara atau metode melakukannya. Kadang dengan berbekal tekad yang kuat, seseorang mampu melakukan pekerjaan yang di mata orang amatlah berat. Seperti ungkapan yang cukup populer, yaitu man jadda wajada, kalau diartikan siapa yang bersungguh maka ia akan menemukan atau siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat.

Seorang kakek berusia 81 tahun, Darmiyanto adalah contoh sosok yang memiliki tekad dan kesungguhan usaha yang luar biasa. Seperti yang dikutip dari detiknews.com, setiap hari kakek Darmiyanto berlari dari rumahnya di Jalan Raya Salatiga-Dadapayan Km 10 Gang Atlit No 52 RT 20 Ngemplak Tugel, Kelurahan Krandon Lor, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, menuju tempat pangkalan becak di Kota Salatiga. Jarak keduanya sekitar 11 kilometer. Darmiyanto juga berlari dari pangkalan becak untuk pulang ke rumahnya. Ia mampu melampaui batas-batas kelaziman manusia. Usia yang sudah tua ternyata tidak menjadi penghalang kuatnya niat dan usahanya.

Kekuatan niat sudah kita buktikan dalam banyak hal. Biasanya untuk mencoba bangun malam guna melaksanakan Tahajjud bagi sebagian orang tidak mudah. Tapi bila sudah ada niat yang kuat, bangun malam tidak menjadi aktivitas yang berat lagi. Buktinya ketika kita hendak mempunyai agenda bepergian jauh biasanya tidak berat untuk bangun pada jam berapapun. Karena sudah ada niat yang kuat dan menjadi penggerak dalam alam bawah sadar kita.

Niat merupakan pondasi utama untuk membentuk komitmen dalam mewujudkan banyak hal yang akan dicapai. Bagi sebuah gedung, pondasi adalah bagian pertama yang dibangun. Meski tidak tampak, namun pondasi menjadi titik penentu kuat atau tidaknya bangunan. Begitu pula niat yang kuat, akan menjadi pendorong keseriusan meraih segala mimpi kita.

Tidak ada parameter untuk mengukur kesungguhan niat dalam hati. Tentu diri sendiri yang mengetahui besar kecilnya niat dan kesungguhan. Dalam setiap urusan yang hendak kita raih pasti memerlukan perjuangan. Jelas semua mimpi harus diraih dengan kuatnya niat dan kesungguhan usaha. Dan itulah kesempurnaan ikhtiar, selanjutnya kita serahkan kepada Allah segalanya.

 

Selasa, 09 Maret 2021

MENJAGA TRADISI LUHUR #2



Mengapa Bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa nasional. Padahal pengguna Bahasa Jawa terbesar di Indonesia. Menurut data kependudukan, suku Jawa jumlahnya lebih 40% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Menurut para ahli bahasa alasan mengapa Bahasa Jawa tidak dipilih sebagai bahasa nasional karena bersifat strata (bertingkat). Karena Bahasa Jawa terlalu rumit akhirnya yang dipilih sebagai bahasa nasional adalah Bahasa Melayu (Riau) yang lebih egaliter.

Khazanah Bahasa Jawa sebagai budaya lelulur memang luar biasa. Bahasa Jawa amat kaya nama dan terperinci bila dibanding dengan bahasa yang lain. Misalnya saja, daun-daun tumbuhan memiiki nama, kembangnya pun demikian juga. Anak-anak hewan pun memiliki nama tersendiri yang beda dengan induknya. Sebut saja, meri, pedet cempe dan seterusnya. Satu contoh lagi, untuk menyebut silsilah keluarga, hanya orang Jawa yang memiliki nama (penyebutan) untuk leluhurnya. Dimulai dari Anak, Keturunan ke-1. Keturunan ke-2 Putu, Keturunan ke-3 disebut Buyut. Keturunan ke-4 dinamakan Canggah, Keturunan ke-5 Wareng, Keturunan ke-6 Udhek-Udhek dan Keturunan ke-7. Gantung Siwur. Bahasa di dunia mana yang begitu kaya seperti Bahasa Jawa.

Bahasa Jawa juga banyak sinonimnya dan sifatnya mendetail. Untuk menyebut kepala saja bisa dengan beberapa istilah; sirah, mustaka dan endas. Kemudian beberapa sinonim yang sebenarnya memiliki perbedaan makna yang unik. Kata jatuh dalam bahasa Jawa bisa dibagi menjadi beberapa istilah. Jungkel, maknanya adalah jatuh ke depan. Sedangkan untuk jatuh ke belakang disebut nggeblak. Lain lagi untuk jatuh tersungkur yang disebut dlosor.

Dalam Bahasa Indonesia jumlah hari hanya tujuh, Ahad sampai Sabtu. Namun dalam Bahasa Jawa jumlah hari bisa lebih dari itu. Dikarenakan orang Jawa memadukan 7 hari dalam seminggu dengan hari pasaran yang jumlahnya lima yaitu, Paing, Pon, Wage, Kliwon dan Legi. Sehingga satu putarannya berjumlah 35 hari yang sering disebut selapan dino.

Simpulannya, Bahasa Jawa bisa dikatakan bahasa yang paripurna karena begitu lengkapnya, bahkan telah memiliki huruf aksara jawa tersendiri. Kemudian Sastra Jawa yang elok seperti wayang kulit, tembang Jawa dan keragaman seni yang lain semakin menjadikan istimewa kekayaan budaya Jawa. Bagaimana kita tidak bangga dengan semua itu. Tugas kita hanya “nguri-nguri” warisan leluhur kita. Dimulai dari mencintai dan menghargai, selanjutnya juga mewariskan pada generasi yang akan datang.

 

 

 

Senin, 08 Maret 2021

MENJAGA TRADISI LUHUR



"Kami tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Jawa. Orang tua saya bicara bahasa Jawa. Anak-anak saya dalam pendidikannya menggunakan bahasa Belanda, namun di rumah kami berbahasa Jawa”. Itulah pernyataan seorang calon presiden di Suriname, Raymond Sapoen yang diketahui berdarah Banyumas, Jawa Tengah. Hal itu diakui langsung oleh Raymond yang pernah menjadi menteri Suriname. "Saya adalah generasi ketiga. Saya punya catatan tentang leluhur saya, namun yang pasti adalah mereka berasal dari Banyumas," ujar Raymond dalam percakapan telepon dari Paramaribo, Suriname.  Dikutip Liputan6.com dari BBC, Sabtu (7/2/2015).

Ini tentu pernyataan sangat menarik, terutama bagi kita orang Jawa. Seorang menteri dan calon presiden di sebuah negara nun jauh di sana (Suriname), masih menjaga tradisi leluhurnya. Dia bangga terlahir sebagai orang yang berdarah Jawa, sehingga hingga kini masih melestarikan Bahasa Jawa. Tentu Bahasa Jawa versinya sudah tidak sama dengan Bahasa Jawa kita saat ini. Itu hal yang wajar karena nenek moyang mereka (Orang Jawa) tiba di Suriname sudah lebih dari 100 tahun yang lalu.

Sementara orang “asing” bangga dengan Bahasa Jawa, justru banyak orang Jawa yang hilang Jawanya. Seperti ungkapan para sesepuh, “Wong jowo ilang jawane”. Orang Jawa banyak yang kehilangan jati dirinya. Kehilangan adab tata kramanya, tidak mengerti bahkan membuang ajaran atau kaweruh leluhurnya.

Sudah banyak bukti yang menunjukkan, bahwa kita di ambang kehilangan jati diri sebagai Orang Jawa. Generasi muda banyak yang tidak mengerti Bahasa Jawa halus (kromo inggil) yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Karena sejak kecil banyak anak yang dibiasakan menggunakan Bahasa Indonesia (atau bahkan Bahasa Inggris). Padahal tanpa diajarkan Bahasa Indonesia pun, sudah pasti dia nanti akan mengerti juga, karena ketika sekolah menggunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia.

Budaya adalah jatidiri, jatidiri adalah identitas, kehilangan identitas akan melahirkan krisis kemanusiaan. Bahasa Jawa adalah budaya kita, bahasa ibu kita, dan kita harus melestarikannya karena itu adalah bagian dari identitas kita. Kita bangga bila anak-anak muda generasi harapan kita menguasai berbagai bahasa asing. Namun kita lebih bangga bila mereka tetap menjaga jati diri dan tradisi luhur orang tua. Jangan sampai orang Jawa lupa identitas dan meninggalkan Jawa-nya.

Selamat Istirahat.

 

 

Piala Dunia 2026 dan Hilangnya Netralitas Sepak Bola

Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan politik, agama, maupun ideo...