Senin, 17 Mei 2021

Membaca dan Aktivitas Menulis



Semua sepakat bila membaca sangat penting untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita. Terlebih bagi yang punya kebiasaan menulis, membaca adalah bagian dari penggalian inspirasi. Membaca istilahnya bagai “kulakan” barang yang akan dijual pedagang. Jadi sepertinya akan sulit menjadi penulis yang baik sementara tidak memiliki kebiasaan membaca yang baik pula.

Sebenarnya sejak kecil saya sudah memiliki “embrio” membaca yang lumayan baik. Namun karena pada waktu kecil amat sulit menemukan buku bacaan, kegemaran membaca yang sebenarnya sudah ada dan mulai tumbuh, tidak bisa berkembang dengan baik.

Ketika menginjak bangku Madrasah Aliyah, minat membaca bisa dikatakan masih tinggi. Meski bahan bacaan tidak melimpah seperti saat ini. Yang masih (selalu) saya ingat, salah seorang Pak De saya adalah seorang perangkat desa. Setiap hari beliau berlangganan koran Jawa Pos. Jadi hampir setiap hari saya selalu bermain ke rumahnya untuk sekadar “nunut” membaca koran.

Ketika sempat mengecap dunia perkuliahan, kebiasaan membaca tetap berlanjut. Pada waktu itu saya lebih intens membaca. Fasilitas perpustakaan saya manfaatkan untuk sebanyak-banyaknya membaca. Mungkin pada periode inilah saya memiliki jam membaca lebih baik dari waktu sebelumnya.

Bertahun-tahun setelah itu, saya vakum membaca buku. Koleksi buku-buku sudah jarang disentuh apalagi dibaca. Serasa terlena dengan pesatnya dunia internet. Bahan bacaan dan artikel di internet berjibun. Bagai toko serba yang ada yang menyediakan apa saja yang kita cari.

Kini, disaat memiliki kegemaran menulis, aktivitas membaca mulai dirintis kembali. Saya menyadari ada yang tidak bisa terganti dari membaca buku. Mungkin kita bisa banyak membaca dari portal media online, tapi tetap beda dengan membaca buku. Buku akan tetap eksis di hati para penggemar membaca.

 

 

 

Minggu, 16 Mei 2021

Menulis, Melawan Sunyi



Terkadang aktivitas menulis saya rasakan sebagai sebuah “pelarian”. Di saat denyut kehidupan terasa sunyi, menulis menjadi pilihan di antara pilihan-pilihan yang baik. Manusia memang makhluk sosial, tak bisa hidup tanpa orang lain, tapi terkadang kesendirian itu perlu, perlu untuk menyendiri. Kita sesekali perlu “dialog” dengan diri sendiri di dalam suasana yang sepi. Dan dialog itu dengan cara menulis.

Entah mengapa hati terkadang diliputi kesepian yang mencekam. Tidak selamanya bersama dengan banyak orang menjadikan kesepian itu hilang. Terkadang rasa sunyi semakin menjadi walau secara fisik di dalam keramaian.

Menulis melawan sepi. Dengan menulis terkikis rasa sunyi dalam hati ini. Menulis bagai obat yang menghilangkan rasa perih dan pedihnya luka. Menulislah, dan rasakan semua menjadi lebih baik. Segala kegundahan dan datang menghimpit perasaan akan segera menghilang.

Menulis menguatkan hati yang rapuh dan rentan karena kegetiran sunyi. Jangan biarkan hati tersiksa dalam kegelisahan. Lupakan semua itu dengan menggerakkan jari-jemari dalam susunan kata dan bahasa. Dan biarkan semua mengalir bagai arus sungai yang mengalir dengan deras.

 

 

Sabtu, 15 Mei 2021

BERLOMBA MENGUMBAR AIB



Media sosial kian hari semakin menjadi. Begitu kejam kata-kata terucap, seperti tidak pernah dipikir sebelumnya. Padahal semua akan kita pertanggungjawabkan. Saling menghujat dan merendahkan, menjadikan kita ngeri melihat dunia medsos yang begitu “brutal”. Jari-jari seakan “berbicara” tanpa perasaan dan simpati, benar-benar kejam.

Belum lama ini seorang tokoh agama (ulama) yang cukup terkenal meninggal dunia. Reaksi dunia media sosial riuhrendah. Ada banyak kalangan yang merasa ikut berduka cita dengan kepergian sang tokoh. Namun yang mengherankan, masih ada saja kelompok yang tidak punya hati dengan “menyerang” sang tokoh yang telah meninggal dunia. Kemana akhlaq para pengguna media sosial tersebut?.

Ketika seseorang telah meninggal dunia kita dilarang membuka aib atau kesalahan-kesalahannya. Apalagi sekadar klaim kesalahan yang sebenarnya belum terbukti kebenarannya. Apakah bangsa kita sedemikian tega dengan sesama anak bangsa sendiri, bahkan terhadap saudara yang seiman.

Bukankah Rasulullah telah bersabda: Dari Abu Rafi' raḍiyallāhu 'anhu secara marfu', “Siapa yang memandikan mayat lalu ia menyembunyikan (aib)nya maka Allah akan mengampuninya sebanyak 40 kali. Orang yang melihat kekurangan pada mayat itu ada dua macam. Pertama, yang berkaitan dengan kondisinya. Misalnya jika ia melihat perubahan wajah yang menghitam dan menjadi jelek pada mayat, maka ini bisa jadi merupakan tanda su’ul khatimah kita mohon kepada Allah keselamatan darinya. Kedua, yang berkaitan dengan tubuhnya, seperti jika ia melihat cacat di tubuh mayat yang selama hidupnya ia tutupi dari orang lain. Maka orang yang menutupinya (saat kematiannya) mendapatkan pahala ampunan yang besar sebanyak 40 kali.

Betapa kita dituntut memiliki adab terhadap saudara kita. Jangankan terhadap yang masih hidup, terhadap jenazah pun kita wajib memiliki akhlaq terhadapnya. Dan hari ini kita menyaksikan, dunia medsos kita sudah sangat terlalu. Kalaulah terhadap orang yang sudah meninggal saja tetap tega mengumbar aibnya, apalagi terhadap pengguna medsos yag lain.

 

 

 

 

Piala Dunia 2026 dan Hilangnya Netralitas Sepak Bola

Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan politik, agama, maupun ideo...