Sabtu, 14 Agustus 2021

SERIBU KATA SATU BERMAKNA



Sudah tabiat manusia, selalu banyak kata banyak bicara. Di masa media sosial muncul sebagai panggung yang gemerlap, banyak muncul bintang-bintang yang tampil dengan memukau. Mereka tampil dengan kata-kata yang luar biasa. Tak hanya itu, penampilan pun tampak menarik dan berkelas. Namun hakikatnya semua hanya topeng belaka.

Dalam kehidupan nyata mereka tak sebaik dengan apa yang dikatakannya. Mereka adalah orang-orang yang bermulut manis dan pandai mencari simpati. Kata dan lakunya sebenarnya jauh berbeda. Apa yang di mulut dengan apa yang dilakukan jauh panggang daripada api. Dan inilah fakta yang sedang kita hadapi.

Banyak serigala yang berbulu domba. Banyak orang yang sebenarnya hatinya jahat, namun penampilan dipoles sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah pribadi yang sempurna. Mereka lebih jahat dari penjahat yang sebenarnya. Seorang penjahat terkadang masih punya kejujuran, mereka jahat tapi mereka mengakui kejahatannya. Sedangkan para serigala berbulu domba, mereka jahat tapi selalu merasa menjadi orang yang baik, inilah kepalsuan.

Seorang yang mengambil harta orang lain dengan cara memaksa adalah tindakan keji. Itu adalah perampokan. Namun seorang pejabat yang disumpah dengan nama tuhannya, namun masih tega korupsi itu lebih keji. Korbannya bukan cuma satu orang, namun ribuan atau bahkan lebih. Ini bukan cerita atau dongeng belaka. Berapa banyak pejabat yang tidak amanah dengan kewenangan yang dimilikinya. Yang lebih memprihatinkan mereka tega mengambil hak orang-orang lemah di saat kondisi sulit.

Jangan mudah terpesona dengan indahnya kata. Tapi lihat kesesuain dengan tindak lakunya. Kata-kata sering meluncur tanpa rasa, tanpa kejujuran dan tanpa makna. Seribu kata satu bermakna.  

 

Jumat, 13 Agustus 2021

PANGGILAN HATI



Usianya memang sudah tua, sebut saja namanya Mbah Dullah (bukan nama sebenarnya). Sudah bertahun-tahun Mbah Dullah rutin berjama’ah di masjid. Dulu sebelum istri beliau wafat, bila berjamaah selalu bersama istrinya. Berjalan kaki dari rumahnya yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter saja dari masjid.

Mbah Dullah selalu shalat di shaf depan bagian kanan. Beliau selalu datang sebelum muazin mengumandangkan adzan. Biasanya Mbah Dullah duduk bersila menunggu waktu shalat tiba. Akhir-akhir ini saya sering melihat Mbah Dullah shalat berjamaah sambil duduk. Mungkin karena kondisinya yang semakin tua, sehingga untuk berdiri saja beliau sudah tidak kuasa. Berjalan pun kini selalu memakai tongkat, namun setiap kali ditawari untuk naik motor diantar pulang, beliau selalu menolak dengan sopan.

Mbah Dullah adalah sosok yang harus ditiru. Istiqomahnya dalam berjamaah mengalahkan segala keterbatasan fisiknya. Bila ibadah sudah menjadi panggilan hati, semua menjadi serba mudah. Mudah melangkahkan kaki menuju masjid meski fisik sudah tidak kuat lagi. Hari-hari di masjid selalu bersua dengan beliau, meski kami jarang bercakap-cakap. Memang beliau jarang berbicara, hanya sesekali menjawab bila ditanya.

Ternyata, tidak perlu ilmu tinggi untuk mengamalkan jamaah shalat di masjid. Tidak perlu banyak biaya untuk meraih kemuliaan ibadah di masjid. Meski kenyataannya banyak yang tidak mampu istiqomah seperti Mbah Dullah. Banyak rumahnya yang dekat dengan masjid tapi hatinya terasa jauh. Telinganya selalu mendengar adzan tapi hatinya tidak terpanggil untuk memenuhi undangan-Nya.

 

 

Kamis, 12 Agustus 2021

NIKMAT TIDUR



Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (Q.S. Al-Furqaan : 47)

 

Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, salah satunya adalah nikmat mengantuk kemudian tidur. Tidur merupakan suatu aktivitas yang dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh. Tidur berpengaruh terhadap produktivitas, kestabilan emosi, kesehatan otak, menjaga kesehatan jantung, fungsi imun tubuh, kreativitas, vitalitas, hingga menjaga berat badan stabil. Kurang tidur maupun berlebihan dapat memberikan dampak yang kurang baik.

 

Menurut  riset kesehatan, saat tidur otak bekerja mempersiapkan tubuh untuk hari esok. Oleh karena itu, kurang waktu istirahat akan membuat seseorang kesulitan bekerja, belajar, berkarya, konsentrasi dan berkomunikasi dengan orang lain keesokan harinya. Dengan pola tidur yang proporsional tubuh akan kembali segar dan sehat.

 

Secara kodrati tidur tentu yang terbaik adalah di malam hari. Sepanjang siang hari waktu digunakan untuk segala aktivitas seperti kerja dan hubungan sosial kemasyarakatan, kemudian pada malam harinya menjadi waktu yang terbaik untuk istirahat dan tidur. Meski juga banyak orang yang terpaksa bekerja sepanjang malam dan tidak bisa tidur. Kemudian di saat siang hari baru ia bisa istirahat untuk tidur.

 

Alhamdulillah, sekali lagi kita mesti banyak bersyukur kita masih bisa tidur dengan lelap dan bangun tubuh kembali segar. Banyak orang yang memiliki gangguan tidur, baik itu tidak bisa atau sulit tidur, maupun keinginan tidur yang berlebihan. Tentu amat tersiksa bagi orang yang mengalami gangguan tidur. Tubuh tidak bisa melalukan “recovery” dengan baik. Akibatnya secara lanngsung fisik maupun kejiwaan akan mengalami gangguan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...