Jumat, 20 Agustus 2021

HARUS DIPAKSA SEBELUM TERBIASA



Menulis itu dilarang untuk ragu. Kata penulis, keraguan itu hanya membuang waktu dan justru menghambat tingkat kreativitas dalam menulis. Agar menulis bisa produktif, kita harus mendorong diri untuk lebih semangat dalam menyelesaikan target menulis. Walau sedang buntu, kering ide pun terus menulis.

Sebenarnya menulis itu urusan membiasakan diri. Awalnya dipaksa, lama kelamaan akan menjadi terbiasa. Inilah realitasnya terjun dalam dunia menulis. Sekali masuk dalam kebiasaan menulis, kita dituntut untuk mampu konsisten.

Sebagai ekspresi kebebasan berpikir, menulis itu dinamis. Tidak ada alasan untuk mengatakan telah habis ide untuk ditulis. Ide akan selalu ada. Entah muncul setelah kita membaca buku, bercakap-cakap dengan orang maupun setelah menonton.

Menulis adalah aktivitas anti pensiun. Semakin banyak hal yang ditulis seharusnya akan semakin banyak gagasan baru. Bagai mata air sumur, semakin ditimba akan semakin jernih air mengalir. Kebalikannya, bila menulis belum mampu menjadi sebuah habituasi akan sulit membuat karya yang lebih bagus.

Untuk menjadi “expert” pada bidangnya kita butuh waktu. Semua punya kesempatan bila mampu mengalahkan lelahnya, melawan rasa bosannya dan bertahan di saat yang lain mulai berhenti.

 

Kamis, 19 Agustus 2021

KREATIVITAS TANPA BATAS

 



Mural lagi viral di negeri kita. Apa itu mural?. Secara luas pengertian mural adalah menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau media luas lainnya yang bersifat permanen. Mural kini menjadi salah satu media kritik terhadap kebijakan pemerintah. Sebenarnya mural termasuk karya seni yang kreatif. Kritik dengan membuat mural dirasa lebih “sopan” dibanding ungkapan kasar melalui media-media sosial.

Mural menjadi ungkapan ekspresi masyarakat. Mungkin dalam masyarakat banyak orang yang ingin menyampaikan kritik, namun karena keterbasan kemampuan dan kurangnya keberanian alkhirnya semua tersumbat. Dan di saat banyak muncul mural yang bernada protes, seakan itu semua menjadi saluran aspirasi.

Kritik melalui mural bukan kritik yang biasa. Ini memerlukan kreativitas seni dan biaya. Tentu beda dengan mereka yang hanya berteriak lantang dari corong media sosialnya. Mural juga menjadikan perjalanan para pengguna jalan raya menjdi penuh warna dan tidak membosankan. Dan ini akan menjadi salah satu sumber inspirasi bagi orang lain.

Dengan seni hidup menjadi indah. Dengan mural kritik yang keras pun bisa disampaikan dengan elegan. Bila luapan aspirasi dan suara rakyat tidak memiliki saluran yang memadai, yang terjadi adalah letupan amarah dan protes dengan cara lebih keras.

Namun semua tetap bergantung dari sudut pandang membaca mural. Bila para pemilik “kuasa” menganggap mural sebagai ujaran kebencian dan hasutan, maka siap-siap saja berurusan dengan hukum. Bila yang terjadi memang demikian, dengan cara apa lagi rakyat bebas bersuara…

 

Rabu, 18 Agustus 2021

MENDUSTAKAN AGAMA



Alangkah banyaknya orang yang mengaku Muslim, tetapi ucapan, gerak-gerik, tingkah laku, dan amal perbuatannya jauh dari tuntunan Islam. Ada pula golongan yang mengaku beragama, mereka shalat, membaca Al-Quran bahkan telah beribadah haji, tetapi semua yang telah dia kerjakan itu berdusta. Shalatnya dusta, mengajinya dusta, hajinya juga dusta, karena mereka kelompok yang tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan faqir miskin.

tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1), Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2), dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. (3) -Surat al-Maun 1-3-

Jadi dikatakan mendustakan agama adalah mereka yang tidak punya perhatian kepada sesama, yang tidak mau membantu orang yang membutuhkan pertolongan, yang tidak iba dan tidak tergerak perasaannya untuk menolong. Jangankan memberikan perhatian, orang yang mendustakan agama malah menghardik, bersikap kasar, dan menelantarkan anak yatim.

Bukankah Nabi Muhammad telah bersabda, "Aku dan orang yang mengasuh yatim akan seperti ini (sembari menyandingkan jari telunjuk dan tengahnya) di dalam surga." (HR al-Bukhari). Tidak cukup dikatakan shaleh bagi mereka yang hanya mementingkan ibadah mahdhah saja, tapi juga mereka yang memiliki kepedulian sosial.

Di setiap bulan Muharram, masyarakat kita sudah terbiasa dengan pelaksanaan santunan anak yatim dan piatu. Tentu ini hal yang sangat baik. Tapi kita tidak boleh melupakan bahwa itu belum cukup. Ada sebelas bulan yang lain di mana mereka memerlukan segala kebutuhan hidunya. Memiliki perhatian terhadap anak yatim dan faqir miskin tidak terbatas pada momen tertentu saja, namun hendaknya kepedulian sepanjang waktu.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...