Sabtu, 09 Oktober 2021

MENJAGA LISAN



Tidak semua yang kita ketahui bisa dikatakan atau ditulis. Terkadang sesuatu yang benar menjadi salah ketika diucapkan. Ada sisi kepantasan, menjaga kebaikan diri sendiri dan orang lain serta pertimbangan kebijaksanaan.

Jujur dalam berkata tidak bisa dimaknai selalu mengatakan apa yang diketahui dan dialami. Karena bila seseorang selalu berkata tentang apa yang dilihat, didengar ataupun dirasa itu menandakan kepribadian yang ceroboh.

Kerendahan seseorang diketahui melalui dua hal, banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna, dan bercerita padahal tidak ditanya. Begitu kata filsuf kenamaan Plato.

Banyak berkata banyak salahnya, banyak salahnya akan menjerumuskan pada dosa. Pun demikian dalam berkata-kata. Menjaga lisan tidak lebih mudah dari menjaga kekang kuda. Kuda yang berlari kencang masih bisa dikendalikan dengan menarik talinya. Akan tetapi lidah yang berbicara bebas tak akan bisa ditarik lagi semua yang dikatakannya.

Selamatnya insan karena lisan yang terjaga. Sebaliknya celakanya manusia sering akibat lisannya yang tidak terjaga. Beratnya menjaga lisan. Buktinya sudah berapa orang yang telah masuk bui karena lisannya yang tajam. Dan kiranya tak perlu lahir UU ITE bila lidah dan jari kita terjaga.

 

Jumat, 08 Oktober 2021

HIDUP, SEBUAH PERJALANAN



Kemana harus mengadukan semua permasalahan hidup yang mendera. Kepada saudara, teman atau orang-orang terdekat kita?. Padahal mereka sama seperti kita. Memiliki beban hidup yang harus ditanggung.

Bila Anda memiliki seratus masalah, saya memiliki seribu masalah. Bila Anda merasakan kesedihan, saya pun tak ada bedanya. Kesedihan dan kebahagiaan selalu melekat dalam kehidupan manusia. Tak peduli apa atribut yang disandangnya, tinggi atau rendah pangkat yang diembannya serta miskin atau kaya statusnya.

Tak perlu lari dari segala beban yang menimpa. Hidup ini bukan pelarian tapi perjalanan. Dan memang tak akan mungkin bisa lari dari semuanya itu. Tak mungkin kita bisa menghindar dari kesedihan. Telan semua pil pahit kesedihan itu, dan berharap selalu di depan sana ada kebahagiaan yang membentang.

Tak ada masanya di dunia ini kita merdeka dari permasalahan hidup. Karena sejatinya masalah datang dan pergi seiring dan sejalan dengan langkah kita. Senyum akan berganti tangis, dan tangis akan pergi dengan kehadiran sebuah kebahagiaan.

Lelah memang. Menanggung beban yang menghimpit punggung. Tapi bila kita berserah sepenuhnya beban itu akan ringan. Kita lemah, tapi Dia menguatkan. Kita dalam kegelapan dan tak tahu arah, tapi Dia memberi penerang jalan dan petunjuk kebenaran.

 

Kamis, 07 Oktober 2021

TIDAK EGOIS



Dalam harta kita ada hak orang lain. Tentu sebagian orang akan menganggap hasil yang diperoleh dari kerja kerasnya adalah mutlak miliknya. Tidak ada urusan dengan orang lain. Mari kita pikirkan dengan mendalam. Apakah orang yang bekerja dengan cara halal dan tidak mengambil milik orang lain hartanya masih belum bersih juga.

Ilustrasinya seperti ini; Ada pedagang memiliki toko yang sangat laris. Keuntungannya berlipat-lipat bila dibanding dengan pemilik toko di sekitarnya. Dia jujur dan tidak pernah curang dalam berjualan. Sepintas memang dia tidak memiliki salah sama sekali, bersih. Pada kenyataannya, karena tokonya mendapatkan keuntungan begitu besar maka toko orang lain pun terkena dampaknya, tak banyak pembeli. Bahkan bisa jadi harus ditutup karena kerugian terus-menerus.

Begitu kaidah kehidupan, orang baik saja tetap ada salahnya. Apalagi orang yang memang perilakunya buruk. Pelajarannya adalah, kita tidak boleh egois. Bagaimana kita bisa mementingkan urusan sendiri, sementara kita hidup berbagi tempat dengan orang lain.

Tak ada yang mutlak menjadi milik kita. Kita semua bagaikan tamu yang hanya singgah sebentar, kemudian bergegas melanjutkan perjalanan panjangnya. Akan menjadi lucu kalau tamu bertindak seakan-akan menjadi tuan rumah. Demikian pula orang yang merasa memiliki dan menguasai titipan Allah yang diberikan kepadanya.

Semua hanya titipan yang dimaksudkan untuk memberi kemanfaatan yang sebesarnya dalam kehidupan. Berbuat baik kepada orang lain hakikatnya berbuat baik pada diri sendiri. Maka dari itu jangan pernah egois

 

Rabu, 06 Oktober 2021

ORANG BAIK



Orang pintar belum tentu benar. Banyak orang yang diberi kemampuan kecerdasan akal dan keluasan pandangan (pengetahuan) namun di sisi lain hatinya culas. Sementara ada yang tidak termasuk orang pandai tapi memiliki kepribadian yang baik.

Pendidikan tidak hanya bertujuan menjadikan orang pintar, cerdas dan memiliki keahlian khusus. Namun pendidikan juga bertujuan menjadikan orang memiliki akhlak yang mulia. Dua aspek sekaligus, jasmani dan ruhani, lahir dan batin.

Kata orang, “Jadilah orang baik tanpa menjelekkan orang lain, jadilah orang benar tanpa menyalahkan orang lain”. Untuk menjadi baik tidak harus dengan menghina dan merendahkan yang lain.

Intan berlian tetaplah berharga meski ia berada dalam kotornya lumpur. Meski seseorang dihina tapi bila sebenarnya ia mulia, tak akan ada pengaruhnya semua hinaan yang diterima. Dengan memuji tidak menjadikan orang yang dipuji mulia. Dan begitu sebaliknya.

Parameter kebaikan seseorang bisa dilihat dari perannya di tengah masyarakat. Sebaik-baik orang adalah mereka yang memberi kemanfaatan bagi orang lain. Tak perlu mengklaim kebaikannya sendiri. Karena orang akan menilai seperti apa nilai kita.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...