Rabu, 17 November 2021

ILMU DAN HARTA



Khalifah Ali Bin Abu Thalib pernah menyampaikan nasihat kepada para sahabatnya; “Dua jenis manusia yang tak akan merasa kenyang selama-lamanya, pencari ilmu dan pencari harta. Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan".

Gila harta ujung-ujungnya menjadi manusia yang bakhil, sementara cinta ilmu maka akan menjadi alim. Pemuja harta biasanya merasa aman bila hartanya semakin banyak. Padahal harta yang banyak justru menjadikan jiwa manusia terikat. Ketenangan hidupnya terenggut, dan kepedulian sosialnya semakin berkurang.

Menumpuk harta tidak menjadikan hidup manusia kekal. Sering terjadi banyaknya harta yang ditinggalkan justru menjadi sumber petaka bagi para ahli warisnya. Seperti itulah sejarah panjang manusia mencatat. Berbeda dengan ilmu. Belum pernah ada sengketa keluarga karena rebutan ilmu yang ditinggalkan oleh para pendahulu mereka. Karena ilmu bisa “dibagi rata” oleh berapa pun jumlah manusia.

Mengejar harta tidak menjadikan ilmu serta-merta didapatkan. Sedangkan menuntut ilmu, harta sering ikut menjadi bonusnya. Seperti kisah Nabi Sulaiman yang lebih memilih Ilmu daripda harta. Pada akhirnya harta dan tahta juga dianugerahkan Allah kepadanya.

Memiliki harta tidak tercela. Tapi mencintainya melebihi kewajaran akan menjadikan manusia hina. Harta hanya sebuah sarana sebagaimana layaknya ilmu. Apakah ia mampu mendekatkan pemiliknya kepada Allah, atau justru semakin menjauhkan hamba dari rida-Nya.

 

Selasa, 16 November 2021

BERKAH HUJAN



Mendung seakan tak ada habisnya. Sudah beberapa hari hujan terus mengguyur bumi. Hujan merupakan anugerah. Meski banyak pula yang mengeluh karena hujan dianggap mengganggu bahkan menghalangi rezekinya. Seandainya memiliki kuasa, manusia tentu akan mengatur hujan. Kapan ia mau maka hujan turun, di saat ia tidak mengharapkan turunnya hujan, maka akan ditolaknya.

Siapa yang bisa membantah bila air adalah sumber kehidupan. Menjaga kelestariannya berarti menghargai kehidupan. Air adalah kebutuhan yang paling penting bagi makhluk hidup selain oksigen. Berlimpahnya air semestinya masih menjadikan kita bersyukur, daripada kita kesulitan mendapatkan air (kekeringan).

Lalu mengapa manusia banyak yang “menyalahkan” hujan ketika ia gagal panen dan banjir melanda. Padahal hujan turun menjadikan bumi yang mati (gersang) menjadi hidup kembali. Dengan hujan jutaan makhluk hidup terpenuhi kebutuhan minumnya. Dan karena hujan suhu bumi yang panas alan menjadi sejuk kembali.

Hujan bukan bencana karena hujan adalah berkah. Cuma karena terganggu mengapa hujan dianggap musibah. Bukankah musim yang sudah tidak teratur akibat ulah manusia juga. Cuaca ekstrem sangat mungkin disebabkan karena global warming, illegal logging dan kegiatan-kegiatan yang mengganggu keseimbangan lingkungan. Karena sudah hilang keseimbangan alam dan keteraturannya, musim menjelma menjadi musuh yang menakutkan.

Gembira saja bila hujan turun. Di saat hujan turun doa-doa hamba dikabulkan oleh Allah. Sebaiknya tidak banyak mengeluh, karena hujan adalah nikmat yang tidak boleh diingkari.

 

 

 

Senin, 15 November 2021

PRESTASI INSTAN



Bagai buah yang masak di pohon. Rasanya segar, manis dan aromanya juga harum. Sangat berbeda dengan buah yang masaknya karena “dipaksa”. Secara penampilan memang tetap menarik, tetapi dari segi rasa tentu beda. Itu perumpamaan dengan sebuah prestasi. Prestasi itu membutuhkan waktu, tidak bisa didapat dengan cara yang instan.

Seolah sudah menjadi kebiasaan kita mempersiapkan sesuatu dengan mendadak. Apa-apa dilakukan menjelang deadline, tak terkecuali even PORSENI tingkat MI tahun ini. Banyak lembaga yang menyiapkan kontingennya hanya sebulan dari pelaksanaan, termasuk lembaga kami. Tentu yang menjadi kambing hitam adalah pandemi.

Prestasi itu bukan sebuah kebetulan. Mengikuti sebuah kompetisi dengan minim persiapan hasilnya tentu masih jauh dari harapan. Jangan mengira juara hanya karena memiliki teknik dan kemampuan yang baik. Seorang juara pasti memiliki mental yang kuat. Ini yang tidak mungkin didapat dari cara yang instan. Karena mental juara dibina sejak dini dan melalui tempaan dan ujian panjang.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Peribahasa ini sangat tepat untuk menggambarkan jalan jenjang sang juara. Ia harus tahan “menderita” dengan kerasnya latihan. Bisa menahan sakitnya jatuh bangun digembleng.

Orang sering melihat prestasi ketika seseorang sudah memegang tropi kejuaraannya. Padahal di balik itu ada jalan terjal untuk mencapainya. Melelahkan memang, tapi prosedur menjadi yang terbaik tidak akan mungkin dilalui dengan mudah. Hanya mie yang biasa dimasak dengan cara instan. Cukup tiga menit sudah siap disajikan. Praktis cepat dan tidak merepotkan. Tapi kita semua tahu, yang serba instan itu tidak baik.

 

 

 

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...