Rabu, 24 November 2021

SALAHKAN PELATIH



Seperti seorang chef yang mengolah makanan. Ia memerlukan bahan kualitas yang bagus dan lengkap. Tidak mungkin bisa menghasilkan masakan yang lezat bila kualitas bahannya rendah terlebih tidak lengkap. Tentu bila semua yang ia perlukan sudah lengkap, tidak ada alasan lagi bila makanan yang dimasak rasanya tidak enak.

Seperti itulah gambaran tugas seorang pelatih sepak bola. Ia membutuhkan pemain-pemain yang bagus. Selain pemain yang memiliki skill bagus, ia juga membutuhkan komposisi yang lengkap. Ada striker, gelandang, back hingga kiper. Ketika semua telah ia dapatkan, tentu tidak bisa lagi dia berkelit bila tim yang diasuhnya tidak berprestasi. Dialah orang yang sangat pantas untuk disalahkan dan harus bertanggungjawab.

Kurang apa dengan skuad MU tahun ini?. Nama-nama besar dalam dunia bola berkumpul di sana. Ibaratnya tiap posisi dihuni oleh seorang bintang. Tentu aneh bila tim seperti itu harus tercecer di luar zona champion eropa. Memang kesalahan tidak sepenuhnya dari pelatih, tetapi solusi instan untuk mendongkrak performa sebuah tim memang harus mengganti pelatih.

Manchester United sedang mencari “jodoh baru” yang serasi. Semenjak ditinggalkan Sir Alex Ferguson MU belum pernah juara EPL. Mungkin Ini dampak negatif sebuah tim yang terlalu lama dilatih oleh satu pelatih saja. Ketika harus berganti kepelatihan, sulit menemukan lagi karakter yang terlanjur menjadi corak warna permainannya.

Manajemen setan merah kini sedang beradu cepat dengan kompetisi yang sedang memasuki masa krusial. Mencari pengganti yang lebih ideal dari Ole tidaklah mudah. Terlebih pelatih yang memiliki reputasi bagus bisanya tidak akan mau menangani tim di tengah kompetisi yang sedang berjalan. Akankah MU menemukan “pendamping” yang sepadan?. Kita lihat saja…

 

 

Selasa, 23 November 2021

AKHIRNYA KENA “PHK” JUGA


“Ole Out” tidak lagi sekadar tagar di dunia maya. Kini nasib Ole Gunnar Solkjaer sang manajer MU benar-benar sudah diketuk palu oleh pemilik MU untuk keluar dari Old Trafford. Nasib yang tidak jauh beda dengan pendahulunya “Special One” Jose Mourinho. Bedanya, meski sama-sama dipecat Mourinho sempat mempersembahkan tropi untuk Manchester United.

Nasib pelatih sepak bola memang tidak jauh dari pemecatan. Bukan hanya pelatih pemula, para pelatih senior sudah biasa mengalami “PHK” dari klubnya bekerja. Ukurannya satu saja, tropi atau dipecat. prestasi diukur dari banyaknya gelar yang didapatkan oleh klub, bukan hanya bagus atau solidnya permainan tim. Main bagus tapi tidak pernah juara tidak ada gunanya juga.

Ole Gunnar Solkjaer menambah panjang daftar pelatih yang dipecat oleh klubnya. Sebagai legenda hidup MU sebenarnya dia sudah diberi waktu yang relatif lama untuk membangun skuad MU dan membidik gelar EPL. Tapi rupanya tiga tahun belum cukup bagi Ole untuk meraih satu tropi untuk klubnya itu. Walhasil, tanpa ampun Owner MU tak segan untuk memacatnya.

Tidak banyak mantan pemain yang sukses melatih sebuah klub. Pemain hebat seperti Maradona pun gagal ketika terjun di dunia kepelatihan. Tentu memang beda saat menjadi pemain dengan menjadi pelatih. Menjadi pelatih lebih pada tanggung jawab pada teknis dan permainan secara tim, sedangkan menjadi pemain “hanya” ikut perintah dari sang pelatih. Makanya, ketika sebuah klub bermain jelek yang paling disalahkan adalah pelatih bukan pemainnya.

Siapa yang akan duduk di “kursi panas” pelatih MU selanjutnya?. Sangat menarik untuk ditunggu. Yang pasti saat ini tidak banyak pelatih hebat yang sedang menganggur. Yang ada hanyalah kumpulan korban PHK dari klub-klub sebelumnya. Tapi penggemar MU tidak perlu khawatir, selalu ada pelatih top yang siap menangani klub sebesar MU. Meski sebenarnya tidak ada jaminan untuk membawa banyak tropi ke Old Trafford.

 

 

Senin, 22 November 2021

MENJAGA NIKMAT SEHAT


Tidak diragukan lagi, kesehatan adalah nikmat yang sangat besar. Apa gunanya punya harta banyak bila tubuh sakit. Memiliki jabatan yang tinggi tak akan mampu menolong bila tubuh diserang penyakit. Bahkan dokter sendiri tidak bisa menjamin tubuhnya bisa selalu sehat. Karena sebenarnya dia sendiri tidak dapat mengobati dirinya.

Mengutip tulisan Dr.Terawan Agus Putranto,Sp.Rad, “Kunci sehat berada di tangan diri sendiri, Anda sesungguhnya tidak sakit, hanya punya kebiasaan ke dokter periksa penyakit, jadi sebenarnya otaknya yang berpenyakit”. Gedung Rumah Sakit dibangun semakin besar, pasien sakit makin hari makin banyak, apabila dokter benar-benar dapat menyembuhkan pasien, seharusnya pasien makin hari makin sedikit.

Penderita kanker dioperasi, radioterapi, kemoterapi, setelah dua atau tiga bulan mati, bahkan bangkrut melarat. Andai tidak masuk Rumah Sakit malah bisa hidup dua tahun, bahkan bisa lebih lama, apakah itu prestasi medis atau hal yang menyedihkan?. Karena Rumah Sakit ternyata bukannya mengobati sampai sembuh, tapi mengobati sampai mati.

Masih menurut beliau (dokter Terawan), seharusnya orang yang harus ke Rumah Sakit adalah orang yag butuh pertolongan darurat, orang yang butuh hemostasis darurat (menghentikan pendarahan), orang yang patah tulang tangan/kaki dan ibu hamil yang akan melahirkan.

Nikmat sehat yang diberikan Allah semestinya kita syukuri dengan menjaganya. Sederhana saja resep menjaga kesehatan, mengatur mentalitas hidup, berolahraga teratur, mengubah kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan tubuh, makan bernutrisi dan gizi seimbang serta perawatan dengan herbal. Semog Anda sehat selalu….

 


 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...