Minggu, 28 November 2021

Menulis Apa Hari Ini?



Katanya kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi, karena kita sendirilah yang menciptakan inspirasi. Seorang penulis seharusnya tidak bingung harus menulis apa. Karena dia bisa memulai dengan menuliskan hal-hal yang diketahui. Menulis tentang pengalaman, peristiwa dan perasaannya sendiri.

Semudah itu seharusnya menulis. Tidak perlu bingung mencari-cari tema apa yang harus ditulis. Tapi kenyataan sering tidak semudah teorinya. Setiap penulis pasti sering kebingungan mencari bahan apa yang harus ditulis. Terlebih mereka yang berusaha untuk menulis setiap hari.

Tantangan menulis setiap hari pasti terkait harus menulis apa hari ini. Tidak setiap hari kita mengalami peristiwa yang menarik untuk diceritakan dalam sebuah tulisan. Sering apa yang kita alami terlalu biasa bila disebut penting untuk dikisahkan. Meski kita bisa saja tetap “memaksakan” untuk menulisnya daripada tidak menulis.

Jangan idealis dalam menulis. Tidak perlu berharap terlalu tinggi dengan tulisan kita. Ketika kita berusaha membuat tulisan yang baik (sempurna) akibatnya kita akan kerepotan sendiri. Menulis saja apapun itu. Karena dengan menulis sebenarnya kita melatih keterampilan menyampaikan gagasan dan memberi ruang yang luas bagi pikiran kita untuk berkembang.

Dulu ketika baru memulai menulis di blog, pertanyaan saya adalah apa yang harus saya tulis. Ternyata kini ketika sudah ada ratusan artikel di blog, masih saja sering muncul pertanyaan yang sama. Artinya ketika kita menunggu ide yang bagus kita selamanya tak akan mulai menulis. Mulai saja gerakkan tangan, karena dengan bergerak semua menjadi mungkin. Mungkin ide akan keluar, hal baru muncul, semangat yang tadinya lemah menjadi berapi-api. Pastikan, jangan hanya menunggu tapi harus memulainya….

 

Sabtu, 27 November 2021

Berhati-hati Menjaga Hati



Untaian petuah mulia dari para cendekia yang mesti kita indahkan. Hati-hati dengan prasangka, hati-hati dengan kata-kata. Semua itu bisa jadi doa. Hilangkan semua prasangka buruk itu dari benak kamu. Itu sakit yang kamu ciptakan sendiri.

Ya, semua bermula dari kita sendiri. Bila menghadapi kehidupan ini dengan harapan yang baik, seolah semua akan berjalan dengan baik pula. Bila kita menganggap semua urusan serba sulit dan ruwet seakan-akan menjadi sulit semuanya. Optimistis adalah berprasangka baik terhadap Allah. Pesimistis adalah berprasangka buruk. Dan Allah menjadikan kehidupan ini sebaik prasangka kita.

Ketika hati sudah “rusak” seringkali dipertemukan dengan hal-hal yang buruk pula, walaupun di tempat yang baik. Sebaliknya niat dan hati yang baik, besar kemungkinan akan dipertemukan dengan yang baik-baik pula meski di tempat yang kurang baik.

Selalu ada sisi baik yang dilihat oleh orang yang hatinya baik. Karena yang menarik perhatiannya tentu hanya perihal yang baik saja. Semua akan kembali pada niat yang tersembunyi rapat dalam hati setiap orang.

Bagai dua orang sahabat yang berada di pantai. Yang satu mendapat dosa karena mengumbar pandangan mata dengan banyaknya aurat yang terbuka. Sementara yang satu mendapat pahala karena menjaga pandangan matanya dari yang hrm. Yang tampak di matanya hanya keagungan Allah berupa hamparan laut biru yang indah.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...