Senin, 21 Februari 2022

“Ojo Dumeh”


“Ojo Dumeh” adalah falsafah lama yang berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti jangan mentang-mentang. Tentu yang menjadi sasaran dari falsafah ini adalah mereka yang memiliki kelebihan dari orang lain. Bisa jadi karena memiliki kepandaian, harta benda ataupun kedudukan yang tinggi.

Orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari yang lain akan memiliki godaan hati untuk pamer dan bangga dengan apa yang dipunya. Bila hasrat itu tidak terkendali yang pasti akan terjadi adalah lahirnya orang-orang sombong yang merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lainnya.

Kelebihan dan kekurangan sudah menjadi "kehendak-Nya" sejak kita belum diciptakan. Karena ada kelebihan dan kekurangan, sistem kehidupan ini bisa berjalan dengan baik. Ada hubungan saling membutuhkan dan kerja sama. Kelebihan tidak sepantasnya menjadi alasan orang merasa lebih tinggi dari orang lain. Karena hakikat kemuliaan hanya Allah yang Mahatahu.

Ojo dumeh, jangan mentang-mentang karena apa yang melekat pada diri kita hanyalah titipan semata. Tak satupun yang dianggap milik kita benar-benar menjadi milik kita. Bagaimana mungkin kita menyombongkan sesuatu yang bukan milik kita sesungguhnya.

Apabila nilai-nilai falsafah yang sederhana ini dimanfaatkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka akan mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa karena nilai-nilai ini adalah ini nilai-nilai lama bangsa Indonesia, khususnya masyarakat jawa yang tidak pernah pudar.

 

Minggu, 20 Februari 2022

GUGUR GUNUNG, KONSEP SOSIAL WARISAN LELUHUR



Istilah gugur gunung menurut literatur diadopsi dari bahasa Jawa. Dalam gugur gunung yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa, mereka tidak mengenal adanya upah atau pamrih. Mereka bekerja bersama mengutamakan kebersamaan, saling membantu, silahturahmi, bahu-membahu.

Ketika tetangga di sekitar rumah memiki “kerepotan” tertentu, tanpa diminta banyak yang akan datang membantu. Mereka akan meninggalkan sementara semua urusan pribadi  untuk sekadar bisa membantu tetangganya.

Sudah adatnya, mereka merasa senang atau puas hanya dengan makan dan minum sebagai ganti lelah. Ini tidak berarti kurang menghargai kerja seseorang. Nilai fiosofi gugur gunung atau gotong-royong dalam konteks masyarakat Jawa adalah untuk membina semangat persatuan dan kesatuan.

Mungkin gugur gunung dalam peradaban modern sudah mulai memudar. Dalam pandangan masyarakat yang mengaku sebagai generasi maju, mereka menganggap waktu adalah uang. Artinya, tidak boleh ada alokasi waktu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan uang. Uang menjadi tujuan utama, adapun urusan sosial kurang mendapat perhatian.

Konsep gugur gunung mesti kita ajarkan kepada anak-anak didik kita. Mungkin benar zaman sudah berubah, tapi karakter mulia tidak boleh aus oleh perubahan. Dalam gugur gunung kita mengajarkan anak untuk kerja sama, tolong menolong dan memiliki kepedulian sosial. Dan, sebagai makhluk sosial, kita akan kehilangan jati diri kita bila meninggalkan konsep gugur gunung dalam bermasyarakat.

 

 

Sabtu, 19 Februari 2022

LUPA UNTUK MEMULAI



Seakan saya bingung harus memulai menulis lagi. Dulu sebelum aktivitas menulis lama terhenti, menulis menjadi kegiatan yang rutin dilakukan. Tapi ketika harus jeda menulis dalam tempo yang lama, kini seperti lupa untuk memulainya lagi.

Ketika fisik dalam kondisi yang kurang baik, kecerdasan berpikir juga mengalami penurunan. Tak ada ide yang mengalir, tak ada gagasan yang lahir, karena semua seakan berhenti. Lemah badan lemah pikiran. Tentu saja ini hal yang lumrah.

Semangat yang tadinya hilang, kini mulai tumbuh kembali. Tiba waktunya meretas lagi jalan panjang penulis. Ya, penulis tidak kenal berhenti. Tak ada yang boleh menghentikan seorang penulis berkarya. Karena ketika satu karya telah rampung, karya selanjutnya harus segera dirancang.

Tidak masalah bila kemarin harus berhenti, karena kita memang memiliki keterbatasan kemampuan. Tak ada orang yang mampu melawan sakit. Di saat sakit, semua pasti akan berhenti. Banyak hal penting yang sedianya harus dikerjakan, pasti akan ditinggalkan juga.

Memulai hanya membutuhkan satu tindakan. Memulai tidak harus dengan sebuah gebrakan besar. Karena yang dibutuhkan adalah konsistensi. Seorang pengelana yang menempuh ribuan kilometer hanya memulai petualangan dengan selangkah kaki. Selangkah tapi terus diiringi dengan langkah berikutnya.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...