Minggu, 17 Juli 2022

Salah Nama



Nasib olah raga sepak bola di Indonesia kurang mentereng prestasinya. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Jangankan untuk level dunia, untuk berbicara banyak di tingkat regional ASEAN saja kita kesulitan. Sebenarnya apa yang menyebabkan sepak bola kita tidak bisa maju?. Tentu faktor permasalahannya sangat banyak, akan ada daftar panjang dari A sampai Z yang mesti diuraikan dan dicarikan solusinya.

Salah satu yang menyebabkan sepak bola kita tidak bisa maju karena kita salah menyebut nama. Bagaimana bisa, tentu ini hanya terawangan para ahli gotak gatuk matuk. Mayoritas para sejarawan berpendapat bila sepak bola berasal dari Inggris. Di sana olah raga sepak bola disebut "Football". Berasal dari dua kata foot berarti kaki dan ball artinya bola. Anehnya ketika sampai di Indonesia menjadi sepak bola bukan “bola kaki” .

Bila kita menggunakan istilah sepak bola dari kata asli football semestinya memang kurang tepat. Sepak bola dalam istilah bahasa Inggris adalah “Kickball”. Istilah ini lebih dekat dengan kick boxer, olah raga tarung tinju yang sekaligus memperbolehkan menggunakan kaki untuk menyerang lawan. Jangan-jangan sering terjadi rusuh di lapangan gara-gara cara main bola seperti main kick boxer.

Kita memang sudah biasa menyebut istilah dengan tidak tepat. Seperti air bening yang kita sebut dengan air putih. Goalkeeper kalau Indonesia menjadi penjaga gawang. Padahal bila diartikan goalkeeper itu penjaga gol. Goalkeeper adalah pemain yang tugasnya menjaga jangan sampai terjadi gol. Bukan hanya gawang yang dijaga.

Yang lebih rumit, sepak bola dalam Bahasa Jawa disebut “Bal-balan”. Kita akan kesulitan mengartikan istilah yang satu ini. Apa maksud dari kata bal-balan. Asumsi kita, mungkin maksudnya “bola-bolaan” atau main bola. Tapi bisa juga diartikan “banting-bantingan”. Jadi, urusan memberi istilah atau sebutan sesuatu ternyata tidak bisa kita sederhanakan, harus sesuai makna yang dimaksudkan.

 

 

Sabtu, 16 Juli 2022

Rugi Untung, Indonesia Keluar Dari AFF



Kekecewaan penggemar timnas Indonesia akibat tersingkir dari Piala AFF U-19 rupanya cukup mendalam. Buntutnya tuntutan untuk keluar dari AFF menggema di jagat maya. Netizen menuntut PSSI mundur dari Federasi Sepak bola Asia Tenggara (AFF), dan  memilih pindah ke Federasi Sepakbola Asia Timur (EAFF).

Regulasi FIFA memang tidak melarang sebuah negara berpindah “induk” federasi. Misalnya saja Turki. Meski sebagian besar wilayahnya berada di asia, tapi mereka bergabung ke federasi sepak bola eropa UEFA. Begitu pula Australia yang bergabung ke AFC (asia).

Lalu, apakah tuntutan “pindah rumah” dari penggemar timnas akan menjadi kenyataan?. Sepertinya itu sulit terjadi. Secara geografis tentunya bergabung ke EAFF akan merugikan Indonesia. Mobilitas timnas kita akan semakin memakan biaya yang besar karena harus terbang ke ujung timur asia bila mengikuti agenda kompetisi regional.

Belum lagi di EAFF bercokol tim-tim atas asia seperti Jepang dan Korea Selatan, tentu kita akan sulit mengimbangi mereka. Bila bersaing dengan Vietnam dan Thailand saja kita sering kewalahan, bagaiman nasib kita bila berjibaku dengan tim elit asia.

Sebenarnya ide bergabung dengan EAFF memang ada untungnya juga. Tapi kita harus bersabar dahulu untuk mewujudkannya. Tunggu sampai kita merajai asia tenggara, baru kita bergabung ke asia timur. Kita bergabung sebagai pemenang yang ingin mencari tantangan dan lawan yang lebih kuat. Namun bila memaksakan diri bergabung saat ini, kesannya kita adalah pecundang yang putus asa.

 

Jumat, 15 Juli 2022

Tidak Rendah Karena Tawadhu



Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersifat sombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk surga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad).

Jangan meremehkan bibit sombong yang ada dalam hati, karena tidak bisa masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan. Jangankan hendak masuk surga, yang sudah tinggal lama di surga (Iblis) pun harus terusir karena sombong. “Orang yang meninggal dunia, dan ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula melihatnya”. (HR. Ahmad).

Orang tidak menjadi mulia karena dipuja-puja, tidak pula menjadi hina karena direndahkan. Kemuliaan seseorang tidak bergantung pada penilaian sesamanya. Karena hakikat kemuliaan terletak pada kadar ketaqwaannya.

Orang yang mulia tidak pernah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dia tetap merasa banyak kekurangan sehingga hatinya selamat dari kesombongan. Inilah sifat tawadhu, ketundukan dan rendah hati. Memiliki sifat tawadhu berarti merasa diri kita orang biasa, sekalipun memiliki banyak kelebihan.

Tapi tidak pula tawadhu hanya sekadar di lisan, padahal tinggi hati. Ini bagian dari kesombongan yang dibungkus dengan ketawadhuan. Seakan ia merendahkan dirinya, tapi maksud sebenarnya agar orang semakin menghormatinya. Karena maksud di baliknya adalah membangun citra dirinya seakan pribadi yang tawadhu.

Sifat tawadhu tidak menjadikan seseorang rendah dalam pandangan manusia. Justru karena tawadhu menjadikan seseorang terangkat derajatnya. Sebaliknya sifat sombong tidak menjadikan seseorang semakin tinggi kewibawaannya, tetapi semakin merendahkan kepribadiannya dalam pandangan orang di sekitarnya.

 

Kamis, 14 Juli 2022

Menghargai Diri Sendiri



Terkadang, kita merasa kecewa dengan diri sendiri. Merasa diri tidak mampu berbuat yang lebih baik dari yang diharap dan diangankan. Sebenarnya ini hal yang wajar terjadi pada setiap orang. Sering, kita menggunakan ukuran orang lain dan mencoba menerapkan pada diri sendiri.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang dilakukan orang mudah, kadang sulit kita kerjakan. Sebaliknya, apa yang kita kerjakan dengan mudah, menurut orang lain itu adalah hal yang sulit. Tidak perlu harus menjadi “orang lain” untuk dianggap sebagai orang sukses. Cukuplah menjadi diri sendiri dengan segala keterbatasan kita. Karena kita tidak akan dituntut melebihi apa yang kita mampu.

Menghargai diri sendiri itu mutlak diperlukan. Ketika segala upaya telah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hasil apapun harus diterima. Jangan mengukur baju dengan ukuran orang lain, pasti tidak akan presisi. Jangan memaksa diri tampil sempurna seperti orang lain, karena potensi kita memang berbeda-beda.

Menghargai diri sendiri mungkin lebih tepatnnya diartikan dengan menyukuri segala yang telah diberikan oleh Allah. Bila kita memiliki satu keranjang, tidak perlu iri dengan orang yang memiliki satu gudang. Semua sudah ditakar oleh yang Maha pencipta. Tak guna merasa bersedih karena merasa lemah dan tidak banyak memberi arti dalam kehidupan ini.

Tidak perlu menunggu besar untuk berbuat kebaikan. Kebaikan tidak diukur dari besar dan kecilnya, tapi dari kemurnian niat dan keikhlasannya. Karena, biarpun hanya seebutir biji, dalam pandangan seekor semut tentu besar.

 

Rabu, 13 Juli 2022

"Kutukan" Sepak Bola Gajah?

 



Nasib Vietnam dan Thailand ternyata tidah jauh beda dengan Indonesia. Keduanya gugur pada semifinal Piala AFF U-19. Ini sebuah kejutan. Vietnam dan Thailand sebenarnya lebih diunggulkan untuk maju ke babak final, tapi rupanya keberuntungan tidak berpihak kepada mereka.

Siapa yang menyangka Laos bisa menumbangkan Thailand. Mereka (Laos) membuat sejarah penting. Bagaikan “mission imposible” bisa menumbangkan Thailand, tapi mereka telah melakukannya dengan luar biasa dan dengan skor yang meyakinkan 2:0. Vietnam sendiri juga dibuat tidak berkutik saat bersua Malasyia, merela takluk dengan skor telak 3:0.

Hasil partai semifinal ini seakan menjadi penghibur luka bagi pecinta timnas Indonesia. Publik pecinta timnas Garuda tentu sangat kecewa ketika Thailand dan Vietnam memilih bermain aman ketika pertandingan terakhir penyisihan grup kemarin. Karena pertandingan itu menjadi penyebab tersingkirnya Indonesia. Walau secara regulasi itu bisa dibenarkan, tetapi jelas menciderai falsafah olah raga fair play.

Hasil semifinal yang diluar dugaan. Kedua tim unggulan tereliminasi oleh tim yang dipandang sebelah mata. Kini Thailand dan Vietnam merasakan sakit yang sama, kandas di saat selangkah lagi mencapai babak final. Tak heran bila masyarakat kita menghubungkan kegagalan mereka sebagai "kutukan" akibat memainkan sepak bola gajah. Tentu itu sekadar mencari pelampiasan kekecewaan semata.

Yang patut menjadi pelajaran bagi kita sebenarnya adalah sportivitas dan permainan yang adil. Kita harus mengakui kelebihan dan menghormati lawan ketika dikalahkan. Tapi di sisi lain, tidak dibenarkan pula menggunakan cara yang curang untuk mengalahkan lawan.

Selasa, 12 Juli 2022

“Kembang-Kempis” Semangat Menulis

 



Pada akhirnya waktu akan menguji sebuah komitmen menulis. Semangat menulis yang pada awalnya menyala, kini lambat laun meredup. Sebenarnya tidak ada yang salah. Itu adalah hal yang lazim dan lumrah terjadi.

Semua ada tren dan masanya. Dulu orang ramai berburu batu akik. Serba-serbi, yang tua dan muda semua mengoleksi berbagai jenis batu. Harga batu pun menanjak tajam mengikuti permintaan. Tak berselang lama, tren batu akik menurun dan terus menurun drastis. Kini batu akik hanya dikoleksi oleh mereka yang benar-benar pecinta batu sejati.

Pada saat awal pandemi kemarin, tren baru muncul. Banyak orang mendadak menjadi pecinta tanaman dan ikan hias. Berbagai jenis tanaman hias laku keras di pasaran. Bahkan tanaman-tanaman liar pun mendadak diminati. Begitu pula ikan hias. Tapi kini semua berakhir. Tanaman dan ikan hias tiba-tiba tidak diburu oleh pecintanya.

Jangan-jangan nasib dunia menulis juga demikian pula. Ada saatnya aktivitas menulis menjadi tren dan digemari, tapi selanjutnya ditinggalkan kembali. Gerakan membaca dan menulis hanya selingan diantara padatnya kegiatan utama, bukan sesuatu yang diutamakan.

Seleksi alam akan terus berlangsung. Apakah kecintaan membaca dan menulis sekadar tren atau memang sudah menjadi pasion. Bila hanya mengikuti tren, percayalah itu akan segera berakhir. Tapi bila memang ada kecintaan yang mendalam, ia akan tetap lestrai dan terjaga hingka masa yang panjang.

 

Senin, 11 Juli 2022

KORBAN REGULASI



Pahit memang. Regulasi (aturan) kompetisi piala AFF U-19 tahun ini tidak menguntungkan timnas Indonesia. Walaupun anak-anak garuda tampil luar biasa pada pertandingan terakhir dan melumat Myanmar dengan skor 5:1, tetap saja mereka tidak lolos. Karena secara bersamaan pertandingan antara Vietnam vs Laos ditutup dengan skor 1:1. Thailand dan Vietnam menjadi tim yang berhak lolos ke semifinal. Meski memiliki poin yang sama dengan Indonesia tapi mereka unggul aturan head to head.

Publik bola Indonesia jelas sangat kecewa. Tim kebanggaan kita yang tampil menjanjikan harus tersingkir karena aturan yang "aneh" ini. Bagaimana tidak dikatakan aneh, Indonesia tidak terkalahkan selama penyisihan grup dan memiliki produktivitas gol paling tinggi tapi dinyatakan tidak berhak lolos ke babak selanjutnya.

Meski menyakitkan tetapi kita harus menjunjung tinggi fair play. Aturan itu dibuat sebelum kompetisi dimulai dan sudah disepakati oleh seluruh kontestan. Artinya kita tidak boleh berdalih gagal karena peraturan yang merugikan. Meski secara resmi PSSI telah mengajukan protes resmi ke AFF. Protes ini berkaitan ada indikasi laga antara Vietnam dan Thailand terkesan tidak sungguh-sungguh pada 15 menit terakhir setelah kedudukan 1:1.

Kecurigaan dari PSSI sebenarnya wajar. Karena sesuai regulasi bila skor antara Vietnam dan Thailan berakhir 1:1 maka keduanya dipastikan akan lolos. Lalu mengapa mereka harus ngotot mencari kemenangan bila dengan posisi imbang 1:1 sudah bisa lolos.

Sisi positifnya, kita boleh berharap lebih dengan kualitas tim muda Indonesia saat ini. Mereka tampil menghibur dengan permainan sepak bola menyerang. Dan yang menggembirakan secara fisik pemain kita juga unggul. Terlebih postur mereka secara rata-rata juga ideal (tinggi). Jadi, idak mengapa kita tersingkir hari ini. Akhir tahun ini masih ada kualifikasi U-20 piala AFC. Tahun depan juga masih ada agenda besar piala dunia U-20, dan Indonesia yang akan menjadi tuan rumahnya.

 

Jepang Membawa Asia Naik Kelas

Tim Nasional Jepang kembali menunjukkan kualitasnya di Piala Dunia 2026. Setelah berhasil menahan imbang Belanda dengan skor 2-2, Jepang...