Bahaya
Takabbur
Mengapa Iblis dikeluarkan
dari surga oleh Allah. Karena dia sombong. Merasa dirinya lebih baik dari Adam.
Iblis diciptakan dari api sedangkan Adam dicipta dari tanah. Karena asal mula
kejadian inilah Iblis merasa dirinya lebih mulia dari Adam sehingga menolak
bersujud kepada Adam.
Allah berfirman: "Apakah yang
menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api
sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al-A’raf: 12)
Dosa tertua (pertama) yang
dilakukan oleh makhluk Allah adalah kesombongan, bukan dosa maksiat yang
lainnya. Maknanya sombong itu lebih berbahaya dari dosa-dosa besar yang
lainnya. Barang siapa dalam hatinya ada kesobongan, maka dia tidak bisa masuk
ke surga. Jangankan hendak masuk, yang sudah ada di dalamnya (Iblis) saja bisa
keluar karena sombong.
Sombong adalah penyakit hati
yang bisa menjangkiti siapapun. Tidak terbatas hanya orang awam saja, mereka
yang memiliki ilmu tinggi juga bisa terjerumus dalam kesombongan. Dan yang
sering terjadi, orang sombong tidak merasa bila dirinya sombong. Sebenarnya
sedang sakit tapi tidak sadar bila dirinya dalam kondisi sakit.
Diriwayatkan dari Abdullah
bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda;
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di
dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang
bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang
bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong
adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)
Sombong merupakan watak dan
sifat manusia yang merasa besar atau mengagungkan dirinya sendiri serta
menganggap rendah dan kurang yang lainnya. Sifat sombong juga biasanya disertai
dengan sifat riya (pamer), karena merasa dirinya lebih dari segalanya. Padahal
dalam Islam, riya masuk dalam musyrik kecil.
Lalu mengapa manusia bisa
sombong. Mungkin karena bangga dengan ilmunya, hartanya atau kedudukan tinggi
yang didapatkan. Semua status yang melekat dalam diri seseorang sebenarnya
hanya sementara saja. Dan bila ia mengingat Allah sebagai pemilik segalanya,
maka pasti ia tidak akan sombong dan riya.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri” (QS Luqman : 18).
Kesombongan ada dua macam,
yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Seperti diterangkan
oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist, “sombong adalah menolak
kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan
menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan
manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak
ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain.
Meski sifat sombong
merupakan fitrah yang sudah muncul sejak manusia lahir, akan tetapi itu sifat
tercela dan kita diajarkan tentang adab dan tata krama, serta bersikap tawadhu
(rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah
satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
“Hamba-hamba Tuhan Yang
Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah
hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Seperti filosofi padi,
semakin berisi semakin menunduk. Seharusnya ketika Allah memberikan banyak
kelebihan maka akan semakin tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total
terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Tawadhu’ terhadap manusia tercermin
dengan bersikap rendah hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda,
dan memuliakan mereka.
Semoga Allah menjauhkan
kita semua dari sikap sombong, dan Allah selalu membimbing kita menjadi hamba
yang tawadhu.