Jumat, 28 Agustus 2026

Bayang-Bayang Kapital dalam Kontestasi Kepemimpinan Modern

 



Memilih pemimpin dalam sistem demokrasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat saat ini. Proses pemilihan tersebut dapat kita jumpai dalam pelbagai tingkatan, mulai dari lingkup terkecil seperti Ketua RT dan Kepala Desa, hingga tingkat daerah dan nasional seperti Bupati, Gubernur, serta Presiden. Kehadiran mekanisme pemilihan ini pada dasarnya bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam menentukan arah kepemimpinan secara adil dan terbuka.

Namun, dalam perjalanannya, proses pemilihan pemimpin sangat jarang dapat diselesaikan melalui jalan musyawarah mufakat. Hal ini terjadi karena jumlah kandidat yang bersaing biasanya cukup banyak. Fenomena banyaknya calon yang maju ini sering kali didorong oleh keberadaan fasilitas serta keuntungan menarik yang melekat pada jabatan tersebut. Sebaliknya, ketika sebuah posisi kepemimpinan tidak menawarkan keuntungan material atau fasilitas yang menggiurkan, minat orang untuk mencalonkan diri mendadak surut.

Tren perburuan jabatan ini tidak hanya terjadi di ranah pemerintahan, tetapi juga telah merambah ke organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan. Jabatan strategis dalam ormas besar kini dipandang sebagai posisi yang sangat bernilai dan diperebutkan oleh banyak pihak. Keuntungan immaterial maupun material, seperti pengaruh sosial, jaringan politik, dan akses modal, menjadi daya tarik utama yang membuat kepemimpinan ormas kerap dijadikan batu loncatan.

Kondisi yang berfokus pada perebutan keuntungan ini melahirkan dampak buruk bagi kualitas kepemimpinan. Ketika dorongan utama menjadi pemimpin adalah fasilitas dan posisi kekuasaan, ruang bagi orang-orang berkemampuan serta berintegritas justru makin menyempit. Akibatnya, kontestasi kepemimpinan bergeser dari ajang adu gagasan menjadi arena persaingan yang mengandalkan kekuatan sumber daya semata.

Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan tanpa perbaikan, harapan untuk mendapatkan sosok pemimpin yang ideal akan makin sulit diwujudkan. Jabatan kepemimpinan pada akhirnya hanya akan dikuasai oleh mereka yang memiliki kapital besar, tanpa memedulikan tingkat kelayakan dan kapasitasnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama untuk mengembalikan hakikat kepemimpinan sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar sarana meraih keuntungan pribadi maupun kelompok.

 

 

Bayang-Bayang Kapital dalam Kontestasi Kepemimpinan Modern

  Memilih pemimpin dalam sistem demokrasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat saat ini. Proses pemilihan terse...