Sabtu, 15 Agustus 2020

PENULIS ADALAH PEMIKIR

PENULIS ADALAH PEMIKIR

 

Menulis itu penting bagi kita. Atau bahkan sangat penting. Karena dengan menulis kita mengasah kemampuan untuk selalu berpikir. Menggali ide, mencari solusi pemecahan masalah, membiasakan mengolah imajinasi, mengajak orang lain berpikir serta yang terpenting menulis adalah manifestasi syukur kita.

Banyak dalam ayat Al-Quran yang konteksnya merangsang otak kita selalu berpikir. Afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala yatadzakkarun, dan masih ada beberapa ayat yang mirip seperti itu. Allah telah memberi kita anugerah akal budi yang harusnya disyukuri dengan selalu berpikir.

Ada sebuah anekdot, katanya jika otak manusia dilelang maka yang paling mahal adalah otak orang Indonesia dan yang paling murah adalah otak orang Jerman. Lo.. ko' bisa? Ternyata alasannya otak orang Indonesia masih baru, sedangkan otak orang Jerman sudah second. (Jangan anggap serius, ini cuma intermeso).

Kenyataannya, para penemu teknologi peradaban manusia diklaim banyak yang berkebangsaan Jerman yang menetap di USA. Mereka adalah para pemikir “Thinker” yang umurnya habis hanya digunakan untuk melakukan riset ilmiah. Ada kebiasaan yang hampir sama yang dilakukan para pemikir. Mereka suka membaca, membuat catatan-catatan dan menggagas ide yang belum terpikirkan orang lain. Para ilmuwan, pemikir dan orang-orang hebat memiliki kebiasaan menulis. Mereka selalu memiliki buku catatan. Dokumen tulis itulah yang berperan penting dalam keberhasilan mereka. Mereka adalah kumpulan orang senang melakukan observasi dan sering sekali menemukan ide-ide baru, buku catatan membantu mereka untuk mendokumentasikannya. Sebagai contoh, konon Thomas Alfa Edison meninggalkan lebih dari 3.500 buku catatan (menurut sebuah artikel ilmiah).

Menulis selalu dimulai dari proses berpikir. Sesederhana apapun sebuah tulisan tidak akan terwujud tanpa sebuah perenungan. Penulis pasti seorang pemikir. Pemikir dalam arti positif, berdaya guna bukan semata orang yang terus berpikir. Karena melamun dan menghayal pun juga berpikir, sebagai akibat otak  tak pernah berhenti ketika kita sedang terjaga. Namun jelas ada perbedaan yang mendasar antara berpikir sistematis dengan sekadar berpikir. Sudah pasti, memikirkan sebuah ide kemudian menjadi sebuah narasi akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan orang yang sedang susah memikirkan hutang. Karena hutang sebenarnya tidak perlu dipikir. Namun harus segera dibayar. (sekadar contoh, hiks...).

 

 

 

Jumat, 14 Agustus 2020

SABAR DENGAN MENULIS


Kesabaran adalah kunci keberhasilan, begitu kata banyak orang. Kalau kita renungkan memang ada benarnya. Sabar memiliki hubungan sebab akibat dengan keberhasilan. Hampir sama dengan rajin pangkal pandai. Pasangannya rajin adalah pandai. Kalau dibalik, setiap orang pandai itu rajin, setiap orang berhasil pasti ia telah mengalami proses belajar dengan sabar.

Belajar menulis juga membutuhkan kesabaran. Terkadang tidak mudah menuangkan ide dalam sulaman bahasa yang indah. Banyak hambatan dan pasti semua mengalami hal ini. Disaat stagnan, mengalami kebuntuan, disaat itulah kita melatih diri untuk bersabar.

Ketika seorang penulis kehilangan kesabarannya, semua berakhir. Tulisan menjadi karya yang tidak pernah selesai. Menulis memang harus dengan perasaan. Suasana hati yang tertekan tidak akan pernah bisa menghasilkan tulisan yang baik. Itu sebenarnya bukan perkataan saya, hanya mengutip dari para pakar literasi. Kiatnya, harus selalu menyenangkan diri untuk menjaga semangat menulis dan mencoba mencapai hasil karya yang lebih baik.

Kesabaran selalu berbuah manis. Meskipun tidak selamanya kesabaran bergandengan dengan kata keberhasilan. Sama halnya dengan rajin, tidak mutlak orang rajin itu pasti pandai. Dalam parameter kebanyakan orang fase keberhasilan ukurannya kadang terlalu sempit. Umumnya orang menimbang keberhasilan dalam ekonomi adalah mereka yang memiki kekayaan berlimpah. Keberhasilan dalam dunia pendidikan adalah mereka yang pandai dan memiliki gelar “seabrek”. Dan keberhasilan dalam dunia menulis adalah mereka yang menjadi penulis terkenal. Namun, bila kita nalar dengan mendalam, keberhasilan sebenarnya memiliki makna yang lebih luas. Orang yang bekerja giat memenuhi kebutuhan hidupnya agar tidak bergantung dengan orang lain dia adalah orang yang berhasil. Demikian pula mereka yang telah mengalami proses belajar dengan sabar sebenarnya telah berhasil. Berhasil mengalahkan rasa malasnya. Dan hakikatnya tidak ada kegagalan, karena proses yang dijalani dengan keyakinan dan melibatkan sepenuh rasa adalah sebuah keberhasilan.

Poinnya, kesabaran dalam menulis akan menghasilkan karya tulis yang sempurna, dalam arti lengkap sesuai apa yang menjadi gagasannya. Dan proses panjang belajar menulis sadar atau tidak sadar telah membimbing jiwa kita menjadi pribadi yang sedikit lebih sabar.

 

Kamis, 13 Agustus 2020

MENULIS DI TENGAH KESIBUKAN

MENULIS DI TENGAH KESIBU

 

Dunia modern identik dengan kesibukan yang padat. Aktivitas yang bertumpuk seakan tidak pernah habis menjadikan kita sampai pada titik kejenuhan. Ketika sebuah tugas selesai dikerjakan, pekerjaan lain menyusul segera dirampungkan. Otak seakan penuh dengan perencanaan-perencanaan kerja yang harus segera dilaksanakan. Bila diumpamakan sebuah wadah kadang serasa hampir penuh otak kita. Begitulah gambaran kehidupan sehari-hari kita saat ini. Seakan tidak ada lagi orang yang memiliki banyak waktu luang. Semua dalam kesibukan, kesibukan yang tidak akan pernah ada selesainya.

Ketika masih kecil sudah sibuk dituntut belajar berbagai macam ilmu. Di waktu dewasa kita akan disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan. Dalam bayangannya banyak yang berangan-angan ketika masa tua nanti tinggal menikmati hasil kerja. Namun ternyata ketika masa tua datang kesibukan dan beban pikiran bertambah banyak. Pekerjaan memang tidak akan akan pernah ada habisnya, dan kesibukan adalah sebuah keniscayaan selama kita masih hidup, jadi jangan berpikir kita akan bebas dari kesibukan dan pekerjaan.

Membiasakan menulis setiap hari menjadi tantangan yang berat bagi mereka yang selalu bergelut dengan aktivitas sehari-hari yang begitu banyak. Kenyataannya, memiliki niat menulis tidak akan mungkin terlaksana ketika menunggu waktu luang. Menurut para penggiat literasi yang paling logis adalah menyisihkan waktu luang. Sehari lima paragraf mungkin membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit sampai satu jam. Sebagian mungkin masih saja menganggap terlalu berat. Bagaimana seandainya sehari satu paragraf?. Satu paragraf sehari yang istiqamah bila kita hitung secara akumulasi akan mendapat hasil yang lumayan. Satu paragraf yang rutin akan membuahkan sekitar enam halaman dalam satu bulan. Hanya dengan satu paragraf sehari, ternyata setelah satu tahun sudah menjadi satu buku. Ini hanya sekadar teori, namun bukan hal yang mustahil bila kita jalankan dengan konsisten. Kuncinya kesabaran dalam menjalani proses menulis.

Berapa waktu yang kita butuhkan untuk satu paragraf sehari?. Hanya sepuluh menit atau sampai lima belas menit sehari. Kita hanya berusaha menyisihkan 15 menit dari 1440 menit. Dan itu hanya 1% dari waktu kita sehari.

Pada akhirnya yang menjadi penghalang tetap diri kita sendiri. Kesibukan akan tetap sering menjadi alasan kita dalam memulai menulis. Selanjutnya komitmen akan membuktikan kesungguhan kita dalam belajar menulis. Apakah kita mampu menyisihkan waktu atau tidak.


 

Rabu, 12 Agustus 2020

BERANI “SALAH” ITU BAIK

Tidak akan ada orang yang selalu benar, kesalahan adalah bagian sifat alamiah kita sebagai manusia. Kesalahan esensinya adalah pembelajaran. Kesalahan dalam belajar akan menjadikan seseorang selalu berusaha memperbaiki diri. Orang yang takut salah sama saja dengan tidak pernah berbuat apa-apa.

Proses belajar menulis, ataupun lainnya tak akan luput dari banyak kesalahan. Terkadang ide menulis yang bagus begitu dituangkan dalam susunan kata-kata terasa hambar, ibarat masakan terasa anyep di lidah. Alur narasi tulisan kita begitu “mbulet dan njlimet” sulit dicerna. Namun begitu tidak menjadikan kita patah arang dan berhenti menulis. Bagus atau kurang bagus dari usaha yang kita upayakan tetap layak mendapat penghargaan, karena berani berbuat meski akan tampak banyak salah dan kurangnya jauh lebih baik dari pada diam dan masih menunggu.

Keberanian menulis menjadikan orang memiliki kebebasan berekspresi sesuai panggilan nuraninya. Inspirasi menulis akan menjadi sesuatu yang bermanfaat ketika sudah dikontruksikan dalam tulisan. Karena gagasan yang masih dalam lamunan akan segera bias dan menguap bila tidak segera diikat dalam catatan. Banyak menimbang berakibat ide brilian menulis tereduksi. Ada ide segera ditulis, selesai. Bila kita mengangankan menulis ketika konsep kita benar-benar matang untuk menghindari kesalahan, itu sama artinya kita takut salah.

Pengalaman diperoleh dari perbuatan kita ataupun dari tindak orang lain yang kita amati dan pelajari. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang berharga dalam kehidupan. Pun demikian dalam belajar menulis. Kenekatan dan kebulatan hati menulis meski menyadari akan banyak kesalahan itu baik. Karena kesalahan sama dengan pengalaman. Ada kepercayaan diri yang dibangun ketika seseorang berani berbuat. Yang tak kalah penting ada kesiapan menerima perbaikan dari orang lain, karena kita menyadari tanpa dukungan orang lain kita sulit berkembang.

Uniknya proses belajar tidak akan menjadikan seseorang sempurna bebas dari cacat dan salah. Selamanya kita akan terus belajar dan berlatih. Seperti banyak ungkapan, belajar sepanjang hayat.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...