Selasa, 23 Februari 2021

MENEMUKAN KEBENARAN



Orang boleh salah, karena dengan itu ia memiliki kesempatan menemukan kebenaran dari proses belajarnya sendiri. Tidak ada orang yang selalu berada dalam jalur kebenaran. Karena pada hakikatnya setiap orang memiliki potensi untuk salah, keliru dan lupa. Seandainya pun manusia telah menemukan kebenaran, kebenaran itu sering bersifat nisbi. Bukan kebenaran yang hakiki.

Salah satu instrumen menemukan kebenaran adalah dengan pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Pengaruh besar pengetahuan dalam kehidupan individual manusia terjadi pada saat pengambilan keputusan. Sudah pasti setiap keputusan yang diambil manusia selalu berdasarkan pengetahuan yang dimilkinya.

Kekhususan yang membedakan manusia sebagai ciptaan Allah dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Berpikir inilah yang menyebabkan kehidupan manusia berkembang dan dinamis dari awal penciptaannya hingga masa kini, berproses menuju kesempurnaan hidup. Dengan kemampuan berpikirnya manusia mampu menaklukkan makhluk hidup yang lain.

Dalam urusan mencari kebenaran, ketika harus senantiasa memohon petunjuk dari Allah yang Maha memberi petunjuk. Karena kepandaian dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak akan pernah menjamin dia bisa menemukan kebenaran. Bukankah dalam setiap shalat kita selalu meminta (mendapat) petunjuk-Nya. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah 6-7).

Kebenaran itu ibarat hujan dari langit, apapun bisa terkena tetesan airnya. Pohon besar, rumpun perdu liar dan rerumputan juga menerima berkah turunnya hujan. Begitu juga kebenaran. Kebenaran bisa datang dari orang yang alim, orang awam bahkan dari anak kecil. Karena kebenaran bukan mutlak hanya datang dari orang yang berilmu pengetahuan saja. Sebagaimana dawuh Syaidina Ali: ”Lihat apa yang dibicarakan (isinya), dan jangan kau lihat siapa yang berbicara”. Namun dalam kenyataannya, sangat banyak yang tidak obyektif dalam memandang kebenaran. Orang sering terjebak dalam “bungkus-bungkus” kebenaran yang sebenarnya isinya jauh dari kebenaran.

 

 

 

 

 

 

Senin, 22 Februari 2021

MENGEJAR BAHAGIA



Mau liburan keliling dunia?. Siapkan biayanya, karena mimpi keliling dunia bukan lagi hal yang mustahil. Kapal pesiar Oceania yang berbasis di Miami Amerika Serikat menawarkan berlayar keliling dunia selama 180 hari pada tahun 2023. Penumpang pelayaran 'Keliling Dunia' Oceania 2023 dapat diperpanjang dari 180 hari menjadi 218 hari. Itu tergantung destinasi yang dipilih untuk naik dan turun. Akankah berangkat pada 28 Desember 2022 dari Miami atau 15 Januari 2023 dari San Fransisco.

Nantinya pelayaran mewah ini akan mengunjungi 96 pelabuhan di 33 negara. Kemudian, tiga hari penuh berlayar di Antartika sebelum kembali ke Amerika Serikat. Lantas berapa biaya untuk plesiran panjang itu? Traveler harus merogoh kocek senilai (minimal) USD 41.599 atau sekitar Rp 581,2 juta. Dan itu masih kelas yang paling murah. Begitu dikutip dari Fox News, Sabtu (13/2/2021).

Tiket keliling dunia itu sangat diminati kendati sedang pandemi virus Corona dan masa depan perjalanan masih tanda tanya. Dan terbukti, tiket yang dilelang pada bulan Januari kemarin sudah habis tidak tersisa selembar pun. Tentu bagi para konglomerat harga tiket yang mahal bukanlah masalah besar. Atau bahkan harga tiket kapal pesiar tersebut untuk kalangan tertentu masih dirasa “murah”. Untuk mengejar kesenangan, tidak ada yang mahal, karena yang mahal adalah mendapatkan kesenangan itu sendiri.

Begitu jauhnya “harga” bahagia bagi mereka yang berharta dengan orang-orang  yang ekonominya terbatas. Banyak orang-orang yang meraih bahagia dengan sesuatu yang sederhana. Sementara untuk orang lain, bahagia akan didapat bila sudah membelanjakan uang hingga ratusan juta. Bagi orang tidak berduit jangankan mimpi naik kapal pesiar, melihat langsung pun sepertinya tidak akan pernah “keturutan”. Untuk mereka, bahagia itu cukup dengan makan nasi bungkus malam hari di emperan toko, minum kopi hangat kemudian ngobrol semalaman dengan teman-temannya.

Sebenarnya bahagia itu tidak sulit dicari, karena bahagia letaknya di hati. Seperti itu nasihat yang sering saya dengar dari orang-orang bijak. Bahagia seperti bayangan, semakin dikejar akan semakin berlari. Bahagia diperoleh bila seseorang bisa bersyukur. Semakin bersyukur maka semakin besar kebahagiaan yang akan dirasakan di hatinya.

 

 

Minggu, 21 Februari 2021

KETIKA MENULIS



Bila melatih diri menulis, ya usahakan terus menulis. Sampai pada tahap kita sudah biasa. Bagi anak yang belajar naik sepeda, yang terpenting harus berjalan. Kayuh sepeda, berjalan terus. Karena ketika berhenti justru akan jatuh. Nanti, ketika sudah pandai naik sepeda semua menjadi impulsif. Gerak kakinya sudah spontan, tangannya sudah menjadi lentur dan semua berjalan dengan reflek.

Bila sudah mahir bersepeda, dia tidak akan berpikir apapun tentang geraknya. Karena sudah menyatu semuanya. Baginya berjalan kaki dengan bersepeda sudah tidak ada bedanya. Mungkin ini yang kita harapkan. Dengan terus menulis dan menulis, suatu saat kita sudah terbiasa dan tidak merasa ada “beban” lagi.

Ketika sedang menulis, sebenarnya saya hanya menyampaikan “haknya” pengalaman, kegelisahan hati dan pemikiran yang sederhana dalam sebuah catatan. Karena dengan itu semua terasa lebih segar perasaan saya. Dan kumpulan catatan itu sebenarnya serupa lukisan yang abstrak. Makna dan maksudnya hanya pelukis yang tahu.

Menulis membuat selalu mencari dan menemukan apa yang tersimpan di ruang-ruang hati yang dalam. Semua itu telah menjadi abadi dalam ingatan. Seribu peristiwa dan kenangan yang terpedam tertumpuk menunggu untuk dikisahkan kembali. Memang tidak semua bisa dituangkan dalam susunan kata. Ada yang harus tetap tinggal dalam jiwa, maya tapi sudah menjadi bagian rasa yang tak terpisahkan.

Ada yang menemukan kedamaian dalam secangkir kopi. Ada pula yang menemukan kebahagiaan dalam alunan musik klasik. Dan saya percaya, ada juga yang jiwanya tentram setelah merakit kata, merangkai kalimat dan menyusun bahasa jiwa dalam deretan kata. Dengan menulis kita laksana melakukan pengembaraan di samudera pengetahuan, pendakian gunung wawasan dan perjalanan menempuh rimba kebijaksanaan. Lengkap sudah. Menulis adalah bagian khazanah kehidupan yang penuh arti.

  

 

 

Sabtu, 20 Februari 2021

MENGGALI HIKMAH


Dalam mitologi dikisahkan. Ketika seorang Wali melintas di sebuah sawah, dia menjumpai seekor katak yang sedang digigit ular sawah hendak dijadikan mangsa. Si Katak meronta-ronta dan meminta tolong pada sang wali. Mendengar jeritan katak Sang Wali berhenti dan diam sesaat. Selanjutnya dia berteriak keras, “Uuuu…..”. Karena kaget gigitan ular terlepas. Katak secepat mungkin meloncat, menjauh dari hadapan pemangsanya.

Setelah kejadian tersebut, suatu saat Si Katak bertemu kembali dengan Sang Wali. Si katak menyampaikan ucapan terima kasih karena merasa telah ditolong pada saat hampir dimangsa ular. Kemudian karena masih penasaran, Si Katak bertanya kepada Sang Wali, apa maksud teriakannya dulu. Sang Wali tersenyum dan berkata, maksud saya teriakan Uuu… itu “Uculo” (lepaslah). Katak merasa puas karena telah mendapat jawaban dari perkara yang selama ini masih belum ia pahami.

Dalam kesempatan yang berbeda, Sang Wali bertemu juga dengan ular. Ternyata ular juga menyimpan rasa penasaran dengan peristiwa kegagalan dia memangsa katak gegara keget dengan teriakan keras Sang Wali. Ular pun meminta klarifikasi langsung  “insiden” pahit yang menimpanya dulu. Mengapa dulu berteriak sehingga mengagetkan dan menjadikan lepas calon makan siangnya. Dan, Sang Wali dengan bijak menjawab, “Uuu..” itu maksudnya “Untalen” (telanlah). Lagi-lagi jawaban Sang Wali membuat ular merasa puas. Karena dia merasa dibela kepentingannya.

Tentu itu semua hanyalah semacam dongeng (cerita) untuk sanepan pentingnya kebijaksanaan. Apa yang dilakukan oleh Sang Wali seakan merupakan sikap yang ambigu dan tidak konsisten. Satu sisi dia terkesan dia ingin menolong katak, tapi dari sudut lain dia semacam menjadi pendukung ular. Namun kenyataan sebenarnya itu adalah sebuah keputusan yang sangat bijaksana.

Sudah sunatullah, katak diciptakan Allah menjadi makanannya ular. Itu hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak rantai makanan yang ada di semesta alam ini. Sebagaimana “nasib” kijang menjadi santapan harimau atau singa. Jelas kita tidak bisa mengatakan harimau atau singa adalah makhluk yang jahat karena “pekerjaannya” selalu membunuh kijang.

Dan pada peristiwa ular yang hendak memakan katak, Sang Wali menghadapi sebuah dilema. Andai saja secara terang-terangan menolong katak, dia dzalim karena mencegah ular mendapatkan rezekinya. Tapi bila dia diam saja mendengar permintaan tolong katak, kesannya dia kejam. Sebuah cerita yang kita bisa banyak menggali hikmah, semoga…..

 

Selamat Istirahat.

 


Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...