Senin, 19 April 2021

SERBA-SERBI TARAWIH



Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan kadang justru menjadi hidup lebih terasa indah. Sebagaimana bunga yang di taman akan terlihat semakin indah bila warnanya bermacam-macam. Demikian pula alat musik gamelan misalnya, Kendang, Bonang, Slenthem, Gambang, Gender Siter dan Gong akan menghasilkan simponi merdu yang menyejukkan hati bila dimainkan bersama. Bisa dibayangkan seandainya alat musik tadi hanya satu jenis, satu irama dan satu suara tentu akan membosankan.

Demikian halnya dalam urusan tata cara ibadah, kita tentu sudah terbiasa dengan perbedaan dalam mengerjakannya. Seperti Ramadhan tahun ini, bila kita cermati shalat tarawihnya memiliki keragaman cara melaksanakannya. Ada tarawih yang dilakukan dengan cepat sampai ada tarawih yang dikerjakan sampai menjelang sahur. Ada pula shalat tarawih yang dikerjakan pada awal malam, tapi ada juga tarawih yang dimulai pada tengah malam.

Sebuah video YouTube 'Tarawih Terlama 8 Jam Temboro' yang sudah diunggah beberapa tahun lalu viral kembali lantaran warga di Indonesia sedang melaksanakan ibadah puasa di Ramadan. Dalam video tersebut terlihat sejumlah orang yang tengah salat tarawih berjemaah. Dari keterangan yang tertulis dalam video diketahui bahwa salat tarawih 8 jam ini berlangsung di Ponpes Al Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan. Pondok pesantren Al Fatah memiliki lebih dari seribu santri yang berasal dari 16 negara di dunia, di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Somalia, Kamboja, Brunei Darussalam, Papua Nugini, Timor Leste, Bangladesh, India dan Suriname.

Inilah perbedaan yang sebenarnya rahmat bagi kita. Tak perlu merasa paling baik dan menganggap yang lain jelek. Kita tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati kita. Bila mampu tentu baik sekali bisa mengikuti tarawih yang panjang. Namun jika itu terasa berat ada pilihan lain yang lebih ringan. Simpel saja.

Sudah tidak zamannya lagi saling menyalahkan kelompok lain. Yang qunut tidak perlu menyalahkan yang tidak mau qunut, demikian sebaliknya yang tidak qunut jangan menyerang yang qunut sebagai amalan bid’ah. Yang tarawih 20 rakaat tidak perlu menganggap paling benar dan menyalahkan yang 8 rakaat. Perbaiki saja amalan masing-masing dan bersihkan niat ibadah semata-mata karena Ridha Allah, cukup.

 

 

 

Minggu, 18 April 2021

NIKMAT PUASA



Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata: Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari].

Allah telah memberikan kepada kita nikmat sangat banyak, dan kita tidak akan mungkin mampu menghitungnya. Di antara nikmat tersebut adalah anugerah sehat dan sempat (waktu luang). Tanpa nikmat sehat, kita tidak akan sempurna dalam beribadah. Begitu pun tanpa nikmat waktu luang, kita sulit menemukan kesempatan untuk beribadah terutama di bulan Ramadhan. Banyak saudara kita yang ingin beribadah seperti shalat tarawih dan witir namun terhalang oleh kewajibannya tugas di malam hari.

Di saat kita diberi tubuh yang sehat, kemudian punya kesempatan dan mampu melaksanakan perintah puasa dan ibadah sunah lainnya dengan selalu mengharap Ridha Allah, itu nikmat besar yang wajib kita syukuri. Karena balasan bagi hamba yang menjalankan puasa itu istimewa. “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, ’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka.

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya, (AL-Hadits). Berbuka menjadi nikmat luar yang biasa kita rasakan. Ketika perut dalam kondisi lapar, makan apapun terasa lezat. Benar seperti ungkapan, lapar adalah lauk yang paling nikmat. Berbuka juga bisa diartikan ketika kita sudah selesai menunaikan ibadah puasa dalam satu bulan penuh.

Masih banyak di luar sana, Muslim yang diberi kesehatan jiwa dan raga tapi tidak terpanggil melaksanakan perintah puasa, padahal tidak ada udzur yang menghalanginya. Mengapa? Karena mereka menganggap puasa adalah pengekangan. Puasa terasa berat karena dimaknai sebagai penghalang kebebasan. Padahal bila mereka mengetahui, pasti mereka akan melakukan ibadah dengan senang hati. Mereka yang bisa merasakan manisnya ibadah puasa, tidak akan mengeluh lagi karena haus dan lapar. Karena semua itu tak sebanding dengan kebahagiaan di hati dan kenikmatan menjalani ketaatan sepenuhnya.

 

 

Sabtu, 17 April 2021

INDONESIA VS MALASYIA



Secara nama kedua negara memang mirip. Dilihat dari bahasanya juga bersumber dari akar yang sama, Bahasa Melayu. Bila ditinjau dari budaya juga mirip-mirip, sebelas dua belas atau beti (beda-beda tipis) saja. Dan fakta yang penting, keduanya mayoritas berpenduduk Islam. Tapi, mengapa antara Malasyia dan Indonesia sulit untuk akur. Dari dulu sering terjadi riak konflik yang memancing sentimen nasionalisme. Bahkan dulu, tahun 1963 Presiden Soekarno pernah membuat Pernyataan resmi tentang politik konfrontasi “Ganyang Malaysia”.

Beberapa rentetan peristiwa ketegangan antara Malasyia dan Indonesia diantaranya: Konflik Sipadan dan Ligitan, pergeseran patok perbatasan, Klaim Batik, Sengketa Ambalat, dan pada Agustus 2017, masyarakat Indonesia kembali dibuat panas oleh Malaysia sebagai tuan rumah Sea Games 2017. Bendera Indonesia dicetak terbalik pada buku panduan acara Sea Games 2017. Tentu besar kemungkinan ini sebuah kesengajaan, bukan karena faktor kelalaian.

Sampai saat ini pun bila kita mengintip dunia maya, netizen Malasyia dan Indonesia statusnya masih dalam situasi “perang”. Saling ejek dan serang komentar menjadi hal lazim yang kita jumpai. Seperti musuh bebuyutan yang sulit untuk berdamai. Terlebih ketika timnas Indonesia bertanding, akan selalu membawa situasi yang “panas” di lapangan hijau ke seluruh lini media sosial kedua negara. Seperti semboyan suporter fanatik, "Kita boleh kalah dari negara lain, tapi tidak boleh kalah dari Malasyia". Dalam catatan resmi, Indonesia dan Malaysia sudah pernah saling berhadapan dalam 71 pertandingan di semua ajang. Hasilnya, tim Merah-Putih memetik kemenangan 26 kali, Malaysia menang 25 kali, dan sebanyak 20 laga lainnya selesai tanpa pemenang. Data yang sebenarnya cukup berimbang dan menunjukkan persaingan ketat.

Sepertinya penggemar bola kedua negara tidak akan mungkin bisa rukun. Tapi beda cerita dengan penggemar musik kedua negara. Pada era tahun 90-an, Malasyia dan Indonesia mengalami zaman “keemasan” musik  slow rock-nya. Di Indonesia muncul Nike Ardila, Popy Merkuri, Nicky Astria dan Inka Christie. Mereka sangat terkenal dan digemari di Malasyia. Sementara dari negeri Jiran ada Salim Iklim, Amy Search, Ella dan Shima yang juga sangat populer di Indonesia. Tapi itu cerita yang sudah lalu. Kini musik tidak lagi bisa menyatukan kedua bangsa yang serumpun. Ya, karena selera musik generasi sekarang mungkin sudah tidak sama.  

Kalau kita menganggap Malasyia sebagai negara pesaing, seharusnya prestasi yang menjadi ukuran. Katanya pertumbuhan ekonomi mereka (sebelum pandemi) sangat baik, Malaysia dinyatakan sebagai negara kedua yang berkembang pembangunannya setelah India, dan katanya lagi, Malaysia berada di antara 15 negara utama untuk tujuan investasi. Lalu apa prestasi kita?. Jangan-jangan kita hanya sibuk dan ramai di media sosial menyerang mereka, tapi dalam kenyataannya kita justru jauh tertinggal langkah dari mereka.

 

 

 

 


z

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...