Senin, 03 Mei 2021

Petasan, Tradisi Mengundang Petaka



Entah bagaimana dulu awalnya budaya petasan dikenal masyarakat kita. Yang pasti tradisi main petasan amat lekat dengan masyarakat kita ketika bulan Ramadan ataupun perayaan hari besar seperti pergantian tahun. Padahal sudah tidak terhitung lagi banyaknya korban dari main petasan. Korban ringan, berat hingga meninggal dunia sudah tak terhitung jumlahnya, namun tetap saja, banyak yang tidak jera main petasan.

Bila kita membaca literatur (Wikipedia), sejarah petasan bermula dari Tiongkok. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar. Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar, bambu tersebut akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Pada awalnya tentu petasan tidak menimbulkan bahaya karena dibuat dalam ukuran kecil yang daya ledaknya rendah. Namun dalam perkembangannya, saat kita sering menjumpai orang membuat petasan dengan ukuran jumbo yang daya ledaknya mirip bom kategori “low eksplosif”.

Mengutip dari media online. Dua orang kakak beradik di Ponorogo tewas terkena ledakan petasan, Selasa (27/4/2021) malam. Dua korban ini tewas saat sedang merakit petasan di lantai dua rumahnya. Besarnya ledakan membuat kedua korban terlempar dari lantai dua ke rumah tetangga dan pekarangan. Sementara bangunan rumah dua lantai hancur dan nyaris roboh. Sementara sebelumnya kejadian ledakan serupa terjadi di Dusun Gempol, Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, Jombang pada Kamis malam, 15 April 2021. Ledakan terjadi pada saat warga sedang menjalankan shalat tarawih. Dua orang menjadi korban ledakan petasan. Keduanya kemudian dilarikan ke RSUD Jombang menggunakan mobil pikap. Namun nahas nyawa salah satu korban tidak tertolong.

Apa sebenarnya manfaat petasan?. Kita tentu akan sulit menyebutkan, meski cuma satu saja. Apakah kita harus menyaksikan korban-korban terus berjatuhan karena sebuah kecerobohan atas nama tradisi. Padahal pihak berwenang telah tegas melarang industri petasan. Namun tetap saja masyarakat abai dan terus melestarikan tradisi petasan. Tradisi yang sebenarnya mengundang mala-petaka.

 

 

 

Minggu, 02 Mei 2021

“EUFORIA” IBADAH



Ramadhan akan selalu “meriah” dan berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Lihat saja musholla dan masjid yang selalu lebih ramai dari hari-hari biasa. Tidak hanya kegiatan shalat tarawih yang padat dengan jama’ah. Shalat magrib di masjid pun biasanya akan penuh dengan jamaah, terutama masjid yang meyediakan buka puasa gratis untuk jamaahnya. Malam hari pun masjid dan musholla tetap “hidup” dengan alunan bacaan Al-Qur’an. Bahkan mengaji menggunakan speaker masjid terkadang sampai larut malam belum.

Dari segi syiar agama tentu semua itu sangat menggembirakan. Namun bila kita lihat dari sisi lain terkadang semua terkesan berlebihan. Inilah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan menyambut Ramadhan. Kita bisa menyebutnya dengan euforia.

Tentu dalam beribadah kita harus bisa memilih atau mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Tidak salah bila shalat Tarawih maupun shalat Idulfitri jamaah berduyun-duyun menuju masjid dan musholla, tapi seharusnya shalat fardhu lima waktu berjamaah di masjid di luar ramadhan juga diutamakan.

Demikian pula tadarrus Al-Qur’an sangat bagus bila “disiarkan” dengan speker. Namun yang tidak kalah penting adalah menjaga kenyamanan bersama. Tentu akan lebih baik mengaji dengan pelan (tidak menggunakan speaker) di saat jam-jam istirahat. Tentu sebuah ironi, kita mengejar ridha Allah sementara tetangga kita banyak yang terganggu. Padahal memuliakan tetangga sangat ditekankan bagi orang yang mengaku beriman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Gembira menyambut Ramadhan bagus, semangat beribadah juga penting. Tapi di atas semua itu ada yang lebih penting yaitu beribadah dengan tetap menjaga ketentraman dan menghargai orang lain. Beribadah tidak harus tampil dengan segala kemeriahannya. Justru banyak ibadah yang harus kita sembunyikan dari pandangan orang banyak. Kemuliaan ibadah tidak bergantung pada pandangan dan pujian manusia. Dan, Allah Mahatahu apa yang menjadi niat kita dalam menjalankan ibadah.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...