Minggu, 23 Mei 2021

RAHASIA REZEKI MANUSIA



Pasti setiap orang beriman selalu berharap dan berdoa agar senantiasa mendapat rezeki yang halal dan melimpah. Namun, tak ada yang bisa mengetahui kepastian mengenai rezeki. Rezeki urusan sang pencipta. Soal kapan, di mana, dan jumlah rezeki yang akan diperoleh berada di luar batas kemampuan akal dan rasio manusia. Allah subhanahu wa ta’ala mutlak yang menjadi pengendali dan pembagi rezeki bagi umat manusia.

 

Upaya manusia untuk mengais rezeki pun sangat beragam. Sebagian orang dengan “mudah” mendapat rezeki berupa harta benda yang melimpah. Sementara yang lain begitu sulit untuk mendapat sekadar kebutuhan makan sehari-hari. Bila ukuran rezeki yang didapat berdasarkan usaha seseorang, tentu mereka yang bekerja mengandalkan tenaga entah itu kuli atau pekerja kasar akan menjadi orang yang paling banyak rezeki (harta)nya.

 

Rezeki sering tidak bisa dinalar. Seseorang yang bekerja di tempat yang sama dengan posisi yang sama bahkan dengan besar gaji yang sama akan mendapat rezeki yang berbeda. Rezeki tidak bisa dihitung dari gaji dan pendapatan. Karena rezeki sering datang tanpa bisa diduga sebelumnya, baik besarnya maupun sumbernya. Rezeki kita bisa datang dari seluruh penjuru dunia.

 

Memang orang cenderung menyempitkan rezeki terbatas pada uang atau kekayaan saja. Padahal rezeki bukan urusan materi (harta) semata. Ilmu, kesehatan, keluarga juga rezeki yang dikaruniakan pada kita. Jadi bisa saja orang yang sedikit hartanya, tapi melimpah rezekinya. Karena harta adalah satu bagian dari sekian banyak cabang rezeki.

 

 

Sabtu, 22 Mei 2021

Setiap Doa Akan Terkabul



Allah akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Terkadang Allah mengabulkan segera doa tersebut sesuai dengan harapan dan permohonan (doa) mereka. Namun adakalanya Allah menunda pengabulan doa hamba-Nya sesuai dengan harapan dan permohonan mereka karena ada hikmah tertentu. Terkadang juga Allah mengabulkan doa hamba-Nya dengan bentuk yang berbeda dari harapan dan permohonan mereka karena permintaan dan permohonan mereka tidak mengandung kemaslahatan yang bersifat kontan. Sedangkan pada gantinya terdapat kemaslahatan yang bersifat kontan. Dan bisa jadi juga Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya dengan bentuk yang lain dari permintaan mereka karena apa yang mereka minta memang terdapat kemaslahatan.

“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Kita sebagai hamba yang tiada memiliki daya dan kekuatan, sudah seharusnya selalu bergantung dan meminta (berdoa) kepada Allah. Dengan keyakinan sepenuhnya bahwa Allah pasti mengabulkan doa-doa kita selama kita tidak membatalkan doa kita.

Bagaimana seorang hamba bisa membatalkan doa-doanya?. Jawabannya adalah, bila dia beroda kemudian dalam hatinya ada keraguan akan doanya. Ragu apakah doanya akan terjawab dan dikabulkan. Tidak yakin bahwa permintaannya akan dipenuhi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah ini menyangsikan sifat Allah yang maha pemurah dan pemberi.

Berdoa adalah inti dari ibadah. Doa adalah jalninan hubungan hamba dengan penciptanya. Doa adalah lambang kepasrahan dan penyerahan mutlak kepada pemberi kehidupan kita. Maka dari itu, tetaplah berdoa…[].

 

Jumat, 21 Mei 2021

MEMBACA DAN MENULIS



Menulis dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh pembaca dijembatani oleh lambang bahasa yang dituliskan. Baca tulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis. Penulis sebagai pembaca Artinya ketika aktivitas menulis berlangsung si penulis membaca tulisannya. Ia membayangkan dirinya sebagai pembaca untuk melihat dan menilai apakah tulisannya telah menyajikan sesuatu yang berarti, apakah ada yang tidak layak saji, serta apakah tulisannya menarik dan enak dibaca.

Pembaca sebagai penulis artinya ketika berlangsung kegiatan membaca, pembaca melakukan aktivitas seperti yang dilakukan penulis. Pembaca menemukan topik dan tujuan tulisan, gagasan, kejelasan uraian, serta mengorganisasikan bacaan, memecahkan masalah, dan memperbaiki simpulan bacaannya. Dia menganalisis bacaan dengan membayangkan apa yang dimaksudkan dan diinginkan penulisnya sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik. Menulis dan menyimak merupakan dua aspek yang tidak bisa lepas pisahkan. (Novita Tabelessy, Pembelajaran Menulis Sebagai Suatu keterampilan Bahasa)

Diawali dengan rajin membaca, pada waktunya seseorang akan mampu menulis dengan baik. Karena membaca adalah bagian dari menulis. Seorang pembaca yang baik sudah sangat dekat untuk “bermetamorfosis” untuk menjadi penulis yang baik pula.

Menulis sebenarnya proses meniru dari apa yang dia baca. Tidak ada yang benar-benar murni dari sebuah karya tulis. Sudah pasti akan ada pengaruh dari sumber bacaan penulis tersebut. Tentu ini bukan bagian dari plagiasi, karena kita tidak mungkin membebaskan diri dari pengaruh apa yang kita baca.

Menulis dan membaca bisa saja berjalan seiring. Dua aktivitas ini saling berkaitan dan berjalan seiring. Bahkan sebagian pakar literasi mengatakan, membaca dan menulis memang harus terus kontinyu dilakukan. Karena kedunya bagai dua “sejoli” yang tak mungkin dipisahakan. Jadi mulailah dengan membaca, membaca dengan metode yang efektif. Membaca sampai mampu untuk menemukan makna dari sebuah tulisan. Bukan hanya membaca dengan sepintas lalu.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...