Selasa, 20 Juli 2021

SHALATLAH SEBELUM SHALAT DILARANG



Idula Adha 1442 Hijriyah tahun ini, akan dikenang dalam sejarah. Ini mungkin pertama kalinya kita menyaksikan banyak masjid tidak bisa melaksanakan Shalat Idul Adha. Bahkan shalat di tanah lapang pun juga ditiadakan. Semua karena dalam masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Masjid kami, Masjid Besar Al-Husna Sumbergempol termasuk dari sekian banyak masjid yang meniadakan Shalat Idul Adha.

Sebelumnya pelaksanaan Shalat Idul Adha direncanakan akan tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Kami telah berkoordinasi dengan pihak Polsek, Kecamatan, PUSKESMAS dan Pemerintah Desa Sumberdadi. Dan semua pihak telah sepakat untuk pelaksanaan Shalat Ied di Masjid Besar Al-Husna. Namun rupanya ada perkembangan situasi yang memaksa kami membatalkan semuanya.

Kita bisa memahami maksud pemerintah “melarang” shalat berjamaah di masjid. Semua didasari maksud untuk mencegah merebaknya penularan virus Corona varian baru Delta, yang katanya lebih mudah menular ke orang lain. Menghindari bahaya tentu lebih diutamakan daripada mengambil atau mencari manfaat.

Bagi pemerintah sebenarnya ini bukan keputusan yang mudah. Pasti akan banyak gejolak dalam masyarakat. Sudah pasti ada kelompok dalam masyarakat yang membaca PPKM memiliki agenda tertentu. Menduga-duga ini bukan semata urusan penularan virus atau masalah pandemi. Tentu bila ada yang beranggapan demikian wajar saja.

Pelaksanaan PPKM selama dua minggu ini dirasa berat bagi kalangan masyarakat tertentu. Pedagang kecil, warung, sopir angkutan misalnya. Mereka menjadi pihak yang terdampak langsung dari kebijakan PPKM. Dan ini rawan menimbulkan konflik dalam masyarakat. Tugas aparat berwenang adalah memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat. Bukan tindakan represif yang justru menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Seperti yang kita lihat viral di dunia media sosial, tindakan kekerasan petugas akan berujung pada kerusuhan.

 

 

Senin, 19 Juli 2021

KETELADANAN KELUARGA IBRAHIM



Nabi Ibrahim alaihissalam adalah salah satu dari lima Rasul Ulul Azmi. Nabi-nabi yang memiliki keistimewaan atau kelebihan dia atas Nabi dan Rasul lainnya. Beliau juga bergelar “Khalilullah”, dekat dengan Allah yang dicintai dan mencintai Allah. Ajaran atau syariat Nabi Ibrahim sangat dekat dengan syariat (ajaran) Nabi Muhammad. Khitan, qurban dan ibadah haji misalnya. Ketiganya adalah syariat Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad.

Dari Keluarga Nabi Ibrahim kelak lahir para Nabi hingga Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bisa dikatakan Nabi Ibrahim adalah “Kakek” para Nabi. Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail penuh dengan keteladanan bagi kita umat Islam.

Dalam Surat Assaffat kita bisa mempelajari betapa Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang taat. Bahkan ketika mendapat perintah untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, beliau tetap taat dan melaksanakannya. Bila Allah telah memerintahkan, tidak ada lagi pilihan lain selain mengerjakan dengan penuh ketundukan. Inilah karakter “Khalilullah”, Nabi Ibrahim tidak hanya sekedar menjalankan perintah-Nya, namun beliau juga selalu memikirkan letak kesempurnaan dalam pelaksanaanya.

Dan, dialog antara Ayah (Ibrahim) dan Anak (Ismail) telah diabadikan dengan indah dalam Surat Assaffat ayat 102. "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya'Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Bila keduanya bukan orang yang memiliki ketaatan mutlak kepada Allah, tidak mungkin akan ada dialog seperti itu. Dan kita tidak bisa membayangkan, bagaimana seorang ayah tega menyembelih anaknya, dan seorang anak siap untuk disembelih demi sebuah perintah suci. Satu hal yang harus selalu kita ingat, keduanya tidak mengetahui bahwa ini hanya sebuah ujian. Ini bukan penyembelihan sebenarnya karena akhirnya yang disembelih adalah domba. Kisah keluarga Ibrahim adalah teladan sepanjang masa bagi umat manusia. Keluarga mulia yang meletakkan ketaatan kepada Allah di atas segalanya.

 

Minggu, 18 Juli 2021

QURBAN ATAU KORBAN?



Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat. Qurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (tanggal 11-13 Dzulhijjah) sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Istilah Qurban termasuk salah satu kata serapan asing (Arab), dengan penulisan baku menjadi “Korban”. Dalam Bahasa Indonesia lafal qurban menjadi korban yang artinya sesuai KBBI adalah pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya.

Di sinilah ada perbedaan makna dari kata aslinya (Arab) ketika menjadi Bahasa Indonesia. Makna qurban murni tentang ibadah dan pengabdian pada Allah. Sedangkan makna Korban (Indonesia) lebih luas tidak terbatas urusan ibadah. Misalnya saja, penggunaan kata korban untuk hal yang negatif (jelek).  

“Penyimpangan” makna kata serapan sebenarnya memang sudah sering kita jumpai. Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula. Contoh yang lain kata “Syirik” makna sebenarnya adalah perbuatan atau iktikad menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan zat lain. Sedangkan kata “Sirik” dalam Bahasa Indonesia artinya menjadi dengki. Tentu sangat jauh esensi kedua  kata tersebut.

 

 

 

 

Sabtu, 17 Juli 2021

JANGAN BERHENTI



Mengutip (quote) dari sang maestro seni, seorang pelukis, pematung, arsitek, penemu, insinyur militer, dan juru gambar Leonardo Da Vinci. “Besi berkarat karena tidak digunakan, air yang tergenang kehilangan kemurniannya, dan dalam cuaca dingin menjadi beku; demikian pula dengan kemampuan dari pikiran kita.” -Leonardo Da Vinci

Hidup ini harus bergerak. Bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Menggerakkan pikiran dari gagasan besar yang satu ke gagasan yang berikutnya. Tidak ada kevakuman yang meyebabkan pikiran menjadi berhenti. Kehilangan kreativitas, meski jeda juga sangat diperlukan.

Dalam Alqur’an Surat Al-Insyiroh Ayat 7 disebutkan; “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

Kekosongan aktivitas bisa membahayakan. Orang cenderung berpikir yang tidak produktif ketika sering mengalami kekosongan (menganggur). Akan banyak kegiatan penting yang bisa dipilih untuk mengisi waktu. Bahkan karena banyaknya, umur kita tidak akan cukup bila kita hendak melakukan segalanya.

Memiliki kelonggaran waktu adalah nikmat yang besar. Dengannya kita bisa merencanakan semua hal penting sekaligus kesungguhan untuk mengerjakannya. Ketika memiliki waktu kosong namun tidak mampu mengisi dengan hal bermanfaat, inilah tanda orang yang akan mengalami kerugian besar.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...