Jumat, 23 Juli 2021

MENULIS PENGALAMAN



"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri". Sesederhana itu cara menjadi penulis menurut JK Rowling. Sederhana dan mudah sepertinya, tetapi ternyata tidak semudah yang dikatakan itu. Setidaknya itu pengalaman saya belajar dan terus mencoba menulis selama ini.

Menulis pengalaman sendiri seharusnya memang mudah. Karena kita tinggal bercerita sesuatu yang nyata telah terjadi. Menggambarkan peristiwa dengan kata-kata dan menjelaskan kejadian yang kita alami. Tapi, lagi-lagi harus kita akui semua itu tetaplah bukan pekerjaan yang mudah.

Masalahnya, sering kita malu dengan apa yang akan kita tulis sendiri. Malu setelah membabacanya, eh bahasanya terasa tidak berkelas. Malu, ternyata pengalaman yang diceritakan sebenarnya bukan pengalaman yang luar biasa, hanya hal-hal sepele yang mungkin tidak penting sama sekali diketahui oleh orang lain (pembaca). Dan perasaan malu yang lainnya, yang mungkin bila ditulis menjadi daftar panjang tentang bab malu.

Sebenarnya kalau kita jujur pada diri sendiri, rasa malu itu seharusnya dibuang jauh. Memiliki rasa malu itu bagus tapi harus diletakkan pada proporsi yang sebenarnya. Seharusnya malu itu bagi mereka yang tertangkap basah korupsi kemudian memakai  rompi orange. Tapi nyatanya banyak dari mereka yang tidak malu kan?. Buktinya dengan tersenyum mereka masih melambaikan tangan kepada para wartawan yang hendak mewancarainya. Atau artis yang menjadi duta narkoba, ternyata justru ditangkap karena memakai narkoba.

Sudahlah, tak perlu malu. Menulis saja meski kamu menganggap itu tulisan yang jelek. Bila ada yang mengangap karyamu jelek, pasti dia belum pernah memiliki karya tulis yang  bagus. Karena bagi mereka yang selalu mencoba menulis, pasti akan menghargai karya orang lain. Disebabkan dia memahami betul bagaimana proses menjadi penulis.

 

Kamis, 22 Juli 2021

MENGIKUTI MILLAH IBRAHIM

 


Hari ini kita sudah memasuki tanggal 13 Dzulhijjah 1442 Hijriyah. Bulan yang juga istimewa bagi umat muslim selain bulan Ramadhan. Menurut riwayat dinamakan Dzulhijjah karena pada bulan tersebut orang-orang Arab, umat yang jauh sebelum peroide Nabi Muhammad melakukan ibadah haji. Karena ibadah haji merupakan (syariat) pelaksanaan ajaran-ajaran serta kebiasaan yang sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah salah satu dari lima Rasul Ulul Azmi. Nabi-nabi yang memiliki keistimewaan atau kelebihan dia atas Nabi dan Rasul lainnya. Beliau juga bergelar “Khalilullah”, dekat dengan Allah yang dicintai dan mencintai Allah. Ajaran atau syariat Nabi Ibrahim sangat dekat dengan syariat (ajaran) Nabi Muhammad. Khitan, qurban dan ibadah haji misalnya. Ketiganya adalah syariat Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad. Seperti disebutkan dalam surat Annisa 125. 

dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Begitu dekatnya kita dengan millah Ibrahim alaihissalam, hingga dalam shalat kita selalu mendoakan Ibrahim dan keluarganya, bersanding dengan shalawat kita kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dari Keluarga Nabi Ibrahim lahir para Nabi hingga Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bisa dikatakan Nabi Ibrahim adalah “Kakeknya” para Nabi. Karena banyak Nabi yang garis nasabnya sampai kepada beliau.

Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail penuh dengan keteladanan bagi kita umat Islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat Assaffat kita bisa mempelajari betapa Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang taat. Bahkan ketika mendapat perintah untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, beliau tetap taat dan melaksanakannya. Bila Allah telah memerintahkan, tidak ada lagi pilihan lain selain mengerjakan dengan penuh ketundukan, sami’na wa ato’na. Inilah karakter “Khalilullah”, Nabi Ibrahim tidak hanya sekedar menjalankan perintah-Nya, namun beliau juga selalu memikirkan letak kesempurnaan dalam pelaksanaanya.

Dan, dialog antara Ayah (Ibrahim) dan Anak (Ismail) telah diabadikan dengan indah dalam Surat Assaffat ayat 102.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Bila keduanya bukan hamba yang memiliki ketaatan mutlak kepada Allah, niscaya tidak mungkin akan ada dialog seperti itu. Dan kita tidak bisa membayangkan, bagaimana seorang ayah tega menyembelih anaknya, dan begitu pula seorang anak siap untuk disembelih demi sebuah perintah suci.

ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".(QS.Al-Baqarah 131)

Satu hal yang harus selalu kita ingat, keduanya tidak mengetahui bahwa ini hanya sebuah ujian ketaatan. Allah tidak memberitahu sebelumnya bahwa Ini bukan penyembelihan sebenarnya karena akhirnya yang disembelih adalah domba. Kisah keluarga Ibrahim adalah teladan sepanjang masa bagi umat manusia. Keluarga mulia yang meletakkan ketaatan kepada Allah di atas segalanya.

 

 

Rabu, 21 Juli 2021

Pilihan di Simpang Jalan



Bagai di sebuah persimpangan, saat ragu harus memilih jalan mana yang harus ditempuh. Kedua pilihan ujungnya tidak diketahui. Begitu saya mengumpamakan situasi yang dihadapi pemerintah saat ini. Disaat PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sudah berakhir, sebenarnya pemerintah gamang untuk memilih melanjutkan atau menghentikan PPKM.

Laju penyebaran virus (pandemi) menurut kajian tim ahli pemerintah bisa ditekan dengan solusi PKKM, namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat kecil “menjerit” karena kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi bila ruang geraknya dibatasi. Sementara bantuan dari pemerintah juga belum sampai ke rumah mereka, tentu ini sangat memberatkan dan menambah sulit kondisi yang sebenarnya sudah sulit.

Di saat negara lain sudah mulai “merdeka” dari cengkeraman pandemi, kita justru mengalami fase peningkatan yang signifikan. Sesuai data resmi pemerintah, katanya saat ini negara kita adalah peringkat pertama jumlah pasien positif harian. Ini pasti menjadi tekanan (beban) berat bagi tim pengendali pandemi.

Masih segar ingatan kita Piala Eropa yang baru berakhir dua pekan kemarin. Kita bisa menyaksikan kehidupan yang berangsur normal di Eropa. Orang-orang sudah mulai melepas masker, tidak lagi menjaga jarak dan bisa nonton langsung sepak bola di stadion. Puncaknya pada partai final di Wembley Stadion, kapasitas kursi penonton hampir terisi penuh.

Memang tidak serta merta kendala yang dihadapi pemerintah dalam penanganan pandemi sama. Sistem yang dipakai di Eropa tidak pasti sesuai bila diterapkan di negeri kita. Secara geografis berbeda, budaya dan tingkat pengetahuan warganya tentu sudah jauh berbeda. Dan bila kita lihat dari jumlah penduduk, Negara-negara Eropa jauh lebih sedikit dibanding dengan penduduk Indonesia. Tentu mengurus orang sedikit dengan wilayah yang tidak terlalu luas, akan lebih mudah daripada mengurus penduduk yang banyak dan tersebar dalam wilayah yang sangat luas.

 

Selasa, 20 Juli 2021

SHALATLAH SEBELUM SHALAT DILARANG



Idula Adha 1442 Hijriyah tahun ini, akan dikenang dalam sejarah. Ini mungkin pertama kalinya kita menyaksikan banyak masjid tidak bisa melaksanakan Shalat Idul Adha. Bahkan shalat di tanah lapang pun juga ditiadakan. Semua karena dalam masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Masjid kami, Masjid Besar Al-Husna Sumbergempol termasuk dari sekian banyak masjid yang meniadakan Shalat Idul Adha.

Sebelumnya pelaksanaan Shalat Idul Adha direncanakan akan tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Kami telah berkoordinasi dengan pihak Polsek, Kecamatan, PUSKESMAS dan Pemerintah Desa Sumberdadi. Dan semua pihak telah sepakat untuk pelaksanaan Shalat Ied di Masjid Besar Al-Husna. Namun rupanya ada perkembangan situasi yang memaksa kami membatalkan semuanya.

Kita bisa memahami maksud pemerintah “melarang” shalat berjamaah di masjid. Semua didasari maksud untuk mencegah merebaknya penularan virus Corona varian baru Delta, yang katanya lebih mudah menular ke orang lain. Menghindari bahaya tentu lebih diutamakan daripada mengambil atau mencari manfaat.

Bagi pemerintah sebenarnya ini bukan keputusan yang mudah. Pasti akan banyak gejolak dalam masyarakat. Sudah pasti ada kelompok dalam masyarakat yang membaca PPKM memiliki agenda tertentu. Menduga-duga ini bukan semata urusan penularan virus atau masalah pandemi. Tentu bila ada yang beranggapan demikian wajar saja.

Pelaksanaan PPKM selama dua minggu ini dirasa berat bagi kalangan masyarakat tertentu. Pedagang kecil, warung, sopir angkutan misalnya. Mereka menjadi pihak yang terdampak langsung dari kebijakan PPKM. Dan ini rawan menimbulkan konflik dalam masyarakat. Tugas aparat berwenang adalah memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat. Bukan tindakan represif yang justru menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Seperti yang kita lihat viral di dunia media sosial, tindakan kekerasan petugas akan berujung pada kerusuhan.

 

 

Senin, 19 Juli 2021

KETELADANAN KELUARGA IBRAHIM



Nabi Ibrahim alaihissalam adalah salah satu dari lima Rasul Ulul Azmi. Nabi-nabi yang memiliki keistimewaan atau kelebihan dia atas Nabi dan Rasul lainnya. Beliau juga bergelar “Khalilullah”, dekat dengan Allah yang dicintai dan mencintai Allah. Ajaran atau syariat Nabi Ibrahim sangat dekat dengan syariat (ajaran) Nabi Muhammad. Khitan, qurban dan ibadah haji misalnya. Ketiganya adalah syariat Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad.

Dari Keluarga Nabi Ibrahim kelak lahir para Nabi hingga Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bisa dikatakan Nabi Ibrahim adalah “Kakek” para Nabi. Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail penuh dengan keteladanan bagi kita umat Islam.

Dalam Surat Assaffat kita bisa mempelajari betapa Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang taat. Bahkan ketika mendapat perintah untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, beliau tetap taat dan melaksanakannya. Bila Allah telah memerintahkan, tidak ada lagi pilihan lain selain mengerjakan dengan penuh ketundukan. Inilah karakter “Khalilullah”, Nabi Ibrahim tidak hanya sekedar menjalankan perintah-Nya, namun beliau juga selalu memikirkan letak kesempurnaan dalam pelaksanaanya.

Dan, dialog antara Ayah (Ibrahim) dan Anak (Ismail) telah diabadikan dengan indah dalam Surat Assaffat ayat 102. "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya'Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Bila keduanya bukan orang yang memiliki ketaatan mutlak kepada Allah, tidak mungkin akan ada dialog seperti itu. Dan kita tidak bisa membayangkan, bagaimana seorang ayah tega menyembelih anaknya, dan seorang anak siap untuk disembelih demi sebuah perintah suci. Satu hal yang harus selalu kita ingat, keduanya tidak mengetahui bahwa ini hanya sebuah ujian. Ini bukan penyembelihan sebenarnya karena akhirnya yang disembelih adalah domba. Kisah keluarga Ibrahim adalah teladan sepanjang masa bagi umat manusia. Keluarga mulia yang meletakkan ketaatan kepada Allah di atas segalanya.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...