Kamis, 17 Maret 2022

Menjauh dari Perkara yang Merusak



Sebagai manusia biasa kita tentu tidak terbebas dari perbuatan dosa. Kewajiban kita sebagai hamba yang sering berbuat dosa adalah segera memohon ampunan kepada  Allah. Sebaik-baik hamba yang berdosa tentu mereka yang tidak menunda taubat. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang senantiasa bertaubat ketika melakukan perbuatan dosa.

Tergesa-gesa melakukan pekerjaan itu tidak baik. Tapi tergesa-gesa dalam artian menyegerakan taubat itu bagus. Jangan berpanjang angan menunda-nunda taubat, karena tidak pernah ada yang tahu sampai kapan kita punya kesempatan melakukannya.

Setiap dosa yang dilakukan manusia pasti menimbulkan kerusakan. Besar dan kecilnya kerusakan bergantung dengan besar dan kecilnya dosa yang diperbuat. Meminum khamr itu merusak tubuh dan akal, zina merusak kehormatan dan nasab, ghibah bisa merusak tali persaudaraan dan perbuatan syirik itu merusak iman.

Allah Mahatahu segalanya. Ketika Dia melarang berbuat dosa, hikmah di baliknya adalah menyelamatkan kita dari kerusakan. Dan dia Maha pengampun, ketika hamba-Nya melakukan kesalahan tetap diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dengan taubat nasuha.

Semoga dosa-dosa yang pernah kita kerjakan diampuni oleh Allah. Kelak catatan amal kita tidak tersisa lagi keburukan perbuatan kita. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya, baik berupa ketentuan dalam beragama maupun musibah dalam hidup dan lainnya. Maafkanlah kami, yakni hapuslah dosa-dosa kami, ampunilah kami dengan menutupi aib kami dan tidak menghukum kami akibat pelanggaran, dan rahmatilah kami dengan sifat kasih dan rahmat-Mu yang luas, melebihi penghapusan dosa dan penutupan aib. Engkaulah pelindung kami, karena itu maka tolonglah kami dengan argumentasi dan kekuatan fisik dalam menghadapi orang-orang kafir. (Al Baqaran 286).

 

 

Rabu, 16 Maret 2022

Sindrom “Takut Miskin”



Siapa yang suka hidup miskin. Semua orang tentu berharap hidupnya jauh dari kemiskinan. Atau bahkan banyak yang mempunyai mimpi hidup di dunia kaya raya. Banyak orang yang dari kecil hingga dewasa yang terbangun dalam pikirannya hanyalah bagaimana bisa hidup kaya.

Tidak heran, masyarakat kita akan memiliki penghormatan terhadap mereka yang statusnya kaya. Orang kaya dianggap sukses, meski bagaimana cara ia mendapatkan kekayaan jarang yang mempedulikannya. Asal kaya saja, “derajatnya” seakan sudah naik melebihi yang lainnya.

Pejabat berpikir bagaimana ia bisa cepat kaya. Pengusaha juga memutar otak bagaimana usahanya bisa cepat profit dan merubah statusnya menjadi orang kaya. Singkat kata apapun profesinya tujuan hidupnya seolah-olah hanya seputar cara meraih harta sebanyak-banyaknya.

Karena ingin kaya dan takut miskin akhirnya banyak yang menggunakan jalan pintas. Dibuatlah rumus menjadi kaya tidak harus menunggu lama, bahkan kalau perlu menjadi kaya tanpa harus repot-repot bekerja. Pekerjaan ringan tapi hasil besar.

Apakah memang benar ada cara untuk menjadi kaya tanpa harus bekerja keras. Bagi orang yang nalarnya masih waras tentu akan menjawab tidak ada. Tapi bagi mereka yang sudah terobsesi dengan keinginannya menjadi kaya, percaya bahwa ada cara mudah menjadi kaya tanpa bekerja. Ujung-ujungnya, mereka terjebak dalam penipuan investasi bodong, penggandaan uang, perjudian online dan berbagai bentuk penipuan. Jadi jangan bermimpi menjadi kaya tanpa bekerja….

 

 

Selasa, 15 Maret 2022

“MEMBELI” WAKTU




 

Sesuai hadis Nabi, di antara sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan, ada dua nikmat yang manusia sering lalai darinya. Nikmat tersebut adalah kesehatan dan waktu luang. Orang baru sadar betapa pentingnya sehat ketika ia sedang sakit. Dan nanti akan banyak orang menyesal ketika ia sadar banyak waktu yang telah berlalu tanpa diisi dengan amal yang berguna.

Waktu luang artinya kesempatan yang diberikan Allah. Waktu adalah jatah usia yang disediakan. Dan perputaran waktu tidak akan pernah berhenti. Faktanya dalam kehidupan ini banyak orang tidak bisa bersyukur memiliki jatah waktu. Meskipun panjang dalam hitungan manusia, tetap saja ada akhirnya.

Maknanya, selama ini kita banyak yang melupakan dua nikmat tersebut. Lazimnya secara umum orang menilai nikmat itu bila memiliki banyak harta. Dengan harta orang bisa membeli semuanya. Ternyata tidak, waktu tidak bisa dibeli oleh siapapun. Kita bisa membeli jam dinding dan jam tangan, tapi tidak bisa membeli waktu. Mereka yang berlimpah harta sekalipun tak akan bisa membeli waktu. Seandainya waktu bisa dibeli, sudah pasti banyak orang akan membelinya.

Tak perlu punya keinginan membeli waktu. Prinsipnya, janganlah kita membiarkan waktu lewat begitu saja. Karena banyak orang berlalu (meninggal) tanpa sempat menikmati waktu yang sangat berharga. Mengisi waktu untuk bekal kehidupan akhirat yang abadi. Karena apa yang didapatkan di kehidupan kelak, bergantung bagaimana kita mengisi waktu di dunia.

Sukses tak bisa dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki. Meski sebagian besar orang mengartikan semakin banyak uang atau harta merupakan indikator kesuksesan seseorang. Definisi sukses begitu kabur. Tidak ada definisi pasti mengenai apa itu kesuksesan dan apa parameter seseorang bisa dikatakan sukses. Tapi yang pasti, orang yang bisa menata waktunya adalah orang yang sukses.

 

 

 

 


Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...