Rabu, 22 Juni 2022

Berkhidmat Pada Masyarakat



Diriwayatkan dahulu ada beberapa sahabat Nabi yang ingin meningkatkan ibadah dengan cara yang “ekstrem”. Masing-masing dari mereka bertekad ada yang ingin puasa terus menerus, ada yang ingin ibadah di sepanjang malam setiap hari, ada juga ada yang ingin tidak menikah sama sekali.

Di lain hari, mereka bertemu dengan Rasulullah yang mana beliau sudah mengetahui tekad sahabat tersebut. Rasulullah bersabda: “kalian mau beribadah seperti itu? Demi Allah! Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa, namun ada hari di mana aku berpuasa dan ada hari yang aku tidak berpuasa, aku shalat dan aku juga memiliki waktu tidur, dan aku juga menikahi perempuan, siapa yang tidak senang dengan sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Sebaik-baik teladan adalah pribadi Rasulullah. Sedangkan beliau mencontohkan, bagaimana beribadah namun tidak meninggalkan umatnya. Beliau berada di tengah masyarakat dan melakukan aktivitas layaknya orang pada umumnya. Rasulullah memberi keteladanan terhadap masalah keduniaan pada para pengikutnya, seperti pergi ke pasar, berumah tangga, dan bergaul dengan masyarakat.

Keinginan beberapa sahabat yang ingin mengkhususkan hidupnya hanya beribadah dan mengabaikan urusan duniawi ternyata tidak mendapat restu dari Rasulullah. Beribadah dengan cara meninggalkan kehidupan sosialnya sama halnya dengan orang yang egois. Seolah-olah ia ingin mencari selamat sendiri dan mengabaikan kewajibannya terhadap saudara seiman yang lain.

Konsep menjadi manusia terbaik, diukur dari seberapa besar perannya memberi kemanfaatan bagi kehidupan orang lain. Maknanya kita tidak meninggalkan masyarakat demi mengejar capaian ibadah yang bersifat pribadi. Apakah bisa dikatakan orang baik, yang salatnya khusyu’ tapi tidak peduli dengan tetangga yang membutuhkan bantuannya. Tentu yang sempurna ialah mereka yang memenuhi kewajiban pribadinya, dan di sisi yang lain ia juga berkhidmah pada masyarakat.

 

Selasa, 21 Juni 2022

KEKUATAN KATA



Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Menurut sebuah study, katanya dalam sehari kita mengeluarkan kata-kata yang jumlahnya hingga ribuan. Umumnya seorang perempuan tidak kurang  dari 13.000 hingga 20.000 kata-kata setiap harinya. Sementara pria mengeluarkan kata-kata sekitar 6.000 sampai 10.000 dalam sehari.

Kata-kata memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita. Bukan hanya orang lain yang kita ajak berbicara, ucapan kita juga memberikan pengaruh terhadap kejiwaan (psikologis) kita. Apabila kata yang terucap baik, maka akan memberi dampak yang baik. Tapi sebaliknya, bila kata-kata kita buruk, kasar dan kurang beradab maka akan memberikan dampak yang buruk pula.

Seorang ilmuwan dalam bukunya The True Power of Water, ia menunjukkan bahwa air yang selalu dibacakan kalimat-kalimat positif membentuk kristal persegi enam yang sangat indah. Ia mengambil kesimpulan bahwa, memang kata-kata memiliki dampak kekuatan yang mempengaruhi kondisi seseorang dan sesuatu. Sementara jika kata-kata yang diucapkan adalah negatif, air tersebut kristalnya menjadi rusak dan tak beraturan.

Riset lain pernah dilakukan oleh seorang peneliti. Dia menggunakan jasa relawan (mahasiswanya) yang dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok anggotanya diminta untuk selalu berkata-kata yang baik. Sedangkan kelompok lainnya disuruh untuk selalu mengumpat dan berkata kasar.

Setelah beberapa hari dua kelompok tersebut dikumpulkan dalam satu ruangan. Ternyata aura wajah dari dua kelompok anggota relawan jauh berbeda. Dengan mudah peneliti mendeteksi dan memilah-milah dua kelompok tersebut. Menurutnya jelas, wajah para pengumpat tampak keruh dan murung. Sedangkan relawan yang berkata-kata baik dan lembut memiliki aura yang lebih jernih. Jadi, jangan sepelekan setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita.

 

 

 

Senin, 20 Juni 2022

Tanpa Gelar di Kandang Sendiri

 



Rekor buruk tercipta dalam gelaran Indonesia Open 2022. Indonesia gagal mengakhiri turnamen bulu tangkis BWF World Tour Super 1000 tanpa gelar. Bahkan ajang Indonesia open 2022 ini menjadi kali pertama sejak turnamen bulu tangkis ini digelar pada 1982, tuan rumah gagal meloloskan satu pun wakil di babak semifinal.

Gelar juara tunggal Putra, Viktor Axelsen dari Denmark, tunggal putri, Tai Tzu Ying dari Taiwan, ganda putra diraih Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi dari China, ganda putri, Nami Matsuyama/Chiharu Shida dari Jepang, dan ganda campuran, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dari China.

Banyak dalih yang bisa disampaikan untuk menjawab kritik dari berbagai pihak. Seperti yang disampaikan PBSI, atlet kita gagal mempersembahkan gelar karena faktor kondisi kelelahan. Apapun alasanya, hasil ini pastinya menjadi bahan evaluasi yang serius.

Kita masih ingat beberapa saat yang lalu gagal mempertahankan Piala Thomas saat bersua tim India pada babak final. Kali ini kita “dipermalukan” di kandang sendiri tanpa satu gelar pun yang bisa diraih. Padahal kita mendapatkan dukungan penuh dari suporter yang setia memadati Istora Senayan.

Jangan sampai prestasi bulu tangkis kebanggaan kita tenggelam oleh para rival yang kini semakin pesat kemampuannya. Secara DNA kita adalah negara yang menghasilkan atlit bulu tangkis dengan prestasi dunia. Sejarah panjang dunia bulu tangkis telah membuktikan Indonesia selalu mendominasi berbagai gelar. Ayo, bangkit dan rebut kembali supremasi bulu tangkis dunia.

 

 

Minggu, 19 Juni 2022

Energi Sillaturrahim



Untuk orang seusia kami, 43, 44 atau 45 tahun, masa depan kita adalah hari ini. Dulu waktu masih belia kami punya cita-cita yg diimpikan, dan saat inilah impian itu wujud. Bisa jadi nyata seperti apa yang diinginkan. Namun bisa pula jauh berbeda. Orang sering menyebut dengan kesuksesan. Sebenarnya ukuran sukses tidak bisa dibatasi dengan sekadar keberhasilan material. Tapi sukses tertinggi ketika kita bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain.

Ketika bertemu teman seangkatan kita  seperti bercermin. Perlahan-lahan sudah meninggalkan dunia hitam. Garis-garis tua di wajah sudah mulai kelihatan. Yang masih tertinggal adalah sisa-sisa kecantikan atau ketampanan yang sudah semakin samar terlihat. Tubuh juga tidak setegap dan sekuat dulu lagi. Itu sudah sunatullah yang tidak mungkin bisa dilawan.

Reuni itu menyambung ukhuwah sekaligus pengingat untuk muhasabah. Semakin menua mestinya kita semakin bijaksana. Seperti filosofi padi, semakin tua semakin menunduk. Tanda ia berisi. Lihat dengan jujur, apakah kita seperti itu.

Setiap sillaturrahim energi kami serasa bertambah. Ada semangat untuk terus berbagi kebahagiaan. Cerita-cerita pilu kami simpan dalam kalbu, yang ada hanya canda gurau antar sahabat lama yang tetap akrab.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...