Kamis, 14 Juli 2022

Menghargai Diri Sendiri



Terkadang, kita merasa kecewa dengan diri sendiri. Merasa diri tidak mampu berbuat yang lebih baik dari yang diharap dan diangankan. Sebenarnya ini hal yang wajar terjadi pada setiap orang. Sering, kita menggunakan ukuran orang lain dan mencoba menerapkan pada diri sendiri.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang dilakukan orang mudah, kadang sulit kita kerjakan. Sebaliknya, apa yang kita kerjakan dengan mudah, menurut orang lain itu adalah hal yang sulit. Tidak perlu harus menjadi “orang lain” untuk dianggap sebagai orang sukses. Cukuplah menjadi diri sendiri dengan segala keterbatasan kita. Karena kita tidak akan dituntut melebihi apa yang kita mampu.

Menghargai diri sendiri itu mutlak diperlukan. Ketika segala upaya telah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hasil apapun harus diterima. Jangan mengukur baju dengan ukuran orang lain, pasti tidak akan presisi. Jangan memaksa diri tampil sempurna seperti orang lain, karena potensi kita memang berbeda-beda.

Menghargai diri sendiri mungkin lebih tepatnnya diartikan dengan menyukuri segala yang telah diberikan oleh Allah. Bila kita memiliki satu keranjang, tidak perlu iri dengan orang yang memiliki satu gudang. Semua sudah ditakar oleh yang Maha pencipta. Tak guna merasa bersedih karena merasa lemah dan tidak banyak memberi arti dalam kehidupan ini.

Tidak perlu menunggu besar untuk berbuat kebaikan. Kebaikan tidak diukur dari besar dan kecilnya, tapi dari kemurnian niat dan keikhlasannya. Karena, biarpun hanya seebutir biji, dalam pandangan seekor semut tentu besar.

 

Rabu, 13 Juli 2022

"Kutukan" Sepak Bola Gajah?

 



Nasib Vietnam dan Thailand ternyata tidah jauh beda dengan Indonesia. Keduanya gugur pada semifinal Piala AFF U-19. Ini sebuah kejutan. Vietnam dan Thailand sebenarnya lebih diunggulkan untuk maju ke babak final, tapi rupanya keberuntungan tidak berpihak kepada mereka.

Siapa yang menyangka Laos bisa menumbangkan Thailand. Mereka (Laos) membuat sejarah penting. Bagaikan “mission imposible” bisa menumbangkan Thailand, tapi mereka telah melakukannya dengan luar biasa dan dengan skor yang meyakinkan 2:0. Vietnam sendiri juga dibuat tidak berkutik saat bersua Malasyia, merela takluk dengan skor telak 3:0.

Hasil partai semifinal ini seakan menjadi penghibur luka bagi pecinta timnas Indonesia. Publik pecinta timnas Garuda tentu sangat kecewa ketika Thailand dan Vietnam memilih bermain aman ketika pertandingan terakhir penyisihan grup kemarin. Karena pertandingan itu menjadi penyebab tersingkirnya Indonesia. Walau secara regulasi itu bisa dibenarkan, tetapi jelas menciderai falsafah olah raga fair play.

Hasil semifinal yang diluar dugaan. Kedua tim unggulan tereliminasi oleh tim yang dipandang sebelah mata. Kini Thailand dan Vietnam merasakan sakit yang sama, kandas di saat selangkah lagi mencapai babak final. Tak heran bila masyarakat kita menghubungkan kegagalan mereka sebagai "kutukan" akibat memainkan sepak bola gajah. Tentu itu sekadar mencari pelampiasan kekecewaan semata.

Yang patut menjadi pelajaran bagi kita sebenarnya adalah sportivitas dan permainan yang adil. Kita harus mengakui kelebihan dan menghormati lawan ketika dikalahkan. Tapi di sisi lain, tidak dibenarkan pula menggunakan cara yang curang untuk mengalahkan lawan.

Selasa, 12 Juli 2022

“Kembang-Kempis” Semangat Menulis

 



Pada akhirnya waktu akan menguji sebuah komitmen menulis. Semangat menulis yang pada awalnya menyala, kini lambat laun meredup. Sebenarnya tidak ada yang salah. Itu adalah hal yang lazim dan lumrah terjadi.

Semua ada tren dan masanya. Dulu orang ramai berburu batu akik. Serba-serbi, yang tua dan muda semua mengoleksi berbagai jenis batu. Harga batu pun menanjak tajam mengikuti permintaan. Tak berselang lama, tren batu akik menurun dan terus menurun drastis. Kini batu akik hanya dikoleksi oleh mereka yang benar-benar pecinta batu sejati.

Pada saat awal pandemi kemarin, tren baru muncul. Banyak orang mendadak menjadi pecinta tanaman dan ikan hias. Berbagai jenis tanaman hias laku keras di pasaran. Bahkan tanaman-tanaman liar pun mendadak diminati. Begitu pula ikan hias. Tapi kini semua berakhir. Tanaman dan ikan hias tiba-tiba tidak diburu oleh pecintanya.

Jangan-jangan nasib dunia menulis juga demikian pula. Ada saatnya aktivitas menulis menjadi tren dan digemari, tapi selanjutnya ditinggalkan kembali. Gerakan membaca dan menulis hanya selingan diantara padatnya kegiatan utama, bukan sesuatu yang diutamakan.

Seleksi alam akan terus berlangsung. Apakah kecintaan membaca dan menulis sekadar tren atau memang sudah menjadi pasion. Bila hanya mengikuti tren, percayalah itu akan segera berakhir. Tapi bila memang ada kecintaan yang mendalam, ia akan tetap lestrai dan terjaga hingka masa yang panjang.

 

Senin, 11 Juli 2022

KORBAN REGULASI



Pahit memang. Regulasi (aturan) kompetisi piala AFF U-19 tahun ini tidak menguntungkan timnas Indonesia. Walaupun anak-anak garuda tampil luar biasa pada pertandingan terakhir dan melumat Myanmar dengan skor 5:1, tetap saja mereka tidak lolos. Karena secara bersamaan pertandingan antara Vietnam vs Laos ditutup dengan skor 1:1. Thailand dan Vietnam menjadi tim yang berhak lolos ke semifinal. Meski memiliki poin yang sama dengan Indonesia tapi mereka unggul aturan head to head.

Publik bola Indonesia jelas sangat kecewa. Tim kebanggaan kita yang tampil menjanjikan harus tersingkir karena aturan yang "aneh" ini. Bagaimana tidak dikatakan aneh, Indonesia tidak terkalahkan selama penyisihan grup dan memiliki produktivitas gol paling tinggi tapi dinyatakan tidak berhak lolos ke babak selanjutnya.

Meski menyakitkan tetapi kita harus menjunjung tinggi fair play. Aturan itu dibuat sebelum kompetisi dimulai dan sudah disepakati oleh seluruh kontestan. Artinya kita tidak boleh berdalih gagal karena peraturan yang merugikan. Meski secara resmi PSSI telah mengajukan protes resmi ke AFF. Protes ini berkaitan ada indikasi laga antara Vietnam dan Thailand terkesan tidak sungguh-sungguh pada 15 menit terakhir setelah kedudukan 1:1.

Kecurigaan dari PSSI sebenarnya wajar. Karena sesuai regulasi bila skor antara Vietnam dan Thailan berakhir 1:1 maka keduanya dipastikan akan lolos. Lalu mengapa mereka harus ngotot mencari kemenangan bila dengan posisi imbang 1:1 sudah bisa lolos.

Sisi positifnya, kita boleh berharap lebih dengan kualitas tim muda Indonesia saat ini. Mereka tampil menghibur dengan permainan sepak bola menyerang. Dan yang menggembirakan secara fisik pemain kita juga unggul. Terlebih postur mereka secara rata-rata juga ideal (tinggi). Jadi, idak mengapa kita tersingkir hari ini. Akhir tahun ini masih ada kualifikasi U-20 piala AFC. Tahun depan juga masih ada agenda besar piala dunia U-20, dan Indonesia yang akan menjadi tuan rumahnya.

 

Minggu, 10 Juli 2022

Ibadah Haji dan Keseteraan Derajat

 



Kita bersyukur, ibadah haji tahun (1443 Hijriyah) ini bisa terselenggara lagi. Tentunya semua berharap, situasi benar-benar semakin membaik dan ibadah haji di tahun mendatang dapat dilaksanakan secara normal kembali.

Ibadah haji menjadi model yang sangat jelas bagi kesetaraan hamba dalam pandangan Allah. Seperti dalam Surat Al-Hujurot ayat 13 Allah berfirman; Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Kapan manusia bisa berkumpul dengan saudaranya dari berbagai penjuru dunia. Tentunya saat mereka melaksanakan ibadah haji. Ketika melaksanakan ibadah haji serasa tidak ada yang berbeda. Status sosial, pangkat dan jabatan serta atribut yang dimiliki semua ditanggalkan, berbalut kain yang sama yakni pakaian ihram. Dan tak ada yang bisa menyombongkan kelebihan yang dimilikinya.

Dalam ibadah haji kita bisa memahami bahwa Islam menolak paham rasisme. Tidak ada bangsa yang melebihi kemuliannya dari bangsa yang lain. Tidak pula warna kulit tertentu lebih mulia dari warna kulit yang lain. Perbedaan yang ada justru akan semakin menguatkan tali persaudaraan dalam keimanan.

Hakikat kemuliaan seorang hamba memang tidak terletak pada apa yang menempel di badannya. Bukan pula kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat. Tetapi kemulian sejati diukur dari seberapa besar ketaqwaan hamba kepada Allah. Bisa saja rendah dalam pandangan manusia, tetapi mulia di sisi Allah. Allah tidak pernah memandang apa yang nampak pada lahirnya, tapi pada hati dan amal seorang hamba.

 

 

 

Sabtu, 09 Juli 2022

Memberi Tapi Jangan Melukai



Berbagi kebahagiaan dengan memberi merupakan tindakan yang mulia. Mereka yang memiliki kelebihan harta bisa meringankan beban saudaranya. Dengan memberi maknanya itu membuktikan diri bahwa dia masih peduli. Penderitaan orang lain dianggap bagian dari kesusahan dirinya, dan kebahagiaan orang lain seperti bagian dari kebahagiaan dirinya sendiri.

Memang cukup marak saat ini, banyak orang memberi tapi dilakukan dengan tujuan membuat konten di media sosialnya, entah itu channel Youtube, Instagram, FB ataupun yang lainnya. Benar mereka memberi, tapi terkadang itu seperti bentuk mengeskploitasi kemiskinan. Tak lebih apa yang dilakukan semacam pamer kemiskinan dan penderitaan orang lain.

Ada orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan tapi mereka malu meminta-minta. Walaupun dalam kondisi yang sulit mereka masih memiliki kehormatan untuk tidak mengharap belas kasihan orang lain. Wajar bila ada orang yang hendak dibantu menolak bila harus dipublikasi. Mereka tentu risih dan malu menerima bantuan sementara cerita hidupnya harus dipublikasi secara luas. Siapa yang bangga, menjadi contoh orang yang hidupnya susah.

Tentu ada maksud dari setiap perbuatan yang dikerjakan. Membantu demi sebuah konten pada dasarnya juga menguntungkan orang yang memberi bantuan. Mereka akan panen pujian, dianggap dermawan, viewer dan followernya menjadi banyak dan pada akhirnya ia akan mendapatkan materi.

Meski termasuk perbuatan yang mulia memberi juga harus dengan cara yang beretika. Sangat disayangkan bila memberi tapi di sisi lain juga mempermalukan orang yang diberi. Mereka yang hidup dalam kesusahan juga memiliki kehormatan. Tidak sepantasnya membantu tapi sekaligus merendahkan martabat orang yang menerima pemberian.

 

 

Jumat, 08 Juli 2022

Menulis, dan Jangan Banyak Berpikir



Banyak cara untuk menjadi seorang penulis yang produktif. Kebanyakan dari mereka memiliki tips “rahasia” untuk tetap berkarya seakan tanpa jeda. Tidak cukup belasan judul buku yang diterbitkan, bahkan para penulis produktif mampu merilis puluhan judul buku. Kuncinya, ternyata mereka rajin menulis setiap hari.

Lalu apa saja yang ditulis mereka?. Ya apa saja. Dari hal-hal keseharian yang sederhana sampai dengan tema khusus yang menjadi perhatiannya. Umumnya mereka tidak terfokus menulis pokok masalah-masalah yang penting saja.

Salah satu tips menulis yang saya terima dari teman yang menggemari buku, agar kita mampu eksis dalam dunia literasi adalah menulis tanpa banyak berpikir. Maksudnya, ketika menulis kita harus lepas dan mengalir. Yang terpenting menulis dulu, jangan merisaukan kualitas yang sedang kita tulis. Biasanya, kita akan langsung mengoreksi apa yang kita tulis. Ternyata ini tidak tepat. Karena meneliti dan menyunting tidak bisa dikerjakan bersamaan dengan aktivitas menulis.

Banyak berpikir menjadikan ide yang akan kita jabarkan menjadi tersendat. Memang menulis sebenarnya bagian dari proses berpikir, tapi bukan berarti setiap kata dan kalimat harus dipikirkan secara mendalam saat ditulis. Ada waktunya nanti untuk memeriksa dengan saksama. Apakah setiap istilah dan kalimat sudah benar dan sesuai.

Bilamana naskah yang ditulis dengan cara tidak banyak berpikir ternyata memang jelek hasilnya. Tidak perlu khawatir. Sesuatu yang jelek masih bisa diperbaiki. Tentu saja lebih baik punya naskah jelek daripada belum mulai menulis.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...