Jumat, 20 November 2020

AKG, AKK, Dan AKP Madrasah Tahun 2020


Tanggal 19 sampai dengan 21 November adalah waktu ditetapkannya pelaksanaan asesmen Guru dan Kepala Madrasah (AKG & AKK) tahun 2020. Sebagaimana diketahui petunjuk teknis terkait asesmen AKG, AKK, Dan AKP Madrasah Tahun 2020 ini diatur melalui SKEP Dirjen Pendis Nomor 4446 Tahun 2020 tentang Juknis Asesmen Kompetensi Guru (AKG), Kepala (AKK) dan Pengawas Madrasah (AKP) Tahun 2020.

Hari ini, 20 November 2020 kami mendapatkan jadwal asesmen pada sesi 1 pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00 bertempat di MTsN 1 Tulungagung. Semua berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Hanya masalah teknis kecil pada awal pelaksannaan asesmen, harus sabar menunggu login peserta. Terpaksa mundur sekitar sepuluh menit dari waktu yang direncanakan untuk bisa login dan memulai mengerjakan soal. Selebihnya berjalan normal sampai sesi asesmen selesai. Mengingat asesmen ini berskala nasional dan melibatkan ratusan ribu peserta, teknis pelaksanaan hari bisa dikatakan sukses. Menurut data yang kami baca, jumlah peserta untuk guru MI mencapai 182.125, MTs 120.547, MA 54.873, Kamad 82.270 dan Pengawas 3.659.

Tujuan kegiatan ini yang pertama adalah memperoleh informasi tentang gambaran kompetensi guru pada dimensi kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan yang kedua, mendapatkan peta kompetensi guru yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan jenis pembinaan profesional guru yang harus diikuti oleh guru dalam program pengembangan keprofesian berkelanjutan (PPKB). Adapun yang ketiga, memperoleh hasil asesmen yang merupakan bagian dari penilaian kompetensi guru dan akan menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan dalam memberikan penghargaan dan apresiasi kepada guru. Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik.

Asesmen ini memberikan cermin kepada guru terhadap kompetensinya sehingga bisa digunakan sebagai dasar bagi guru untuk memprioritaskan upaya dalam meningkatkan kompetensinya. Bagi Madrasah, membantu pengelola madrasah dalam menyusun rencana pengembangan madrasah terutama dalam meningkatkan sumber daya manusia di madrasah sesuai dengan visi dan misi madrasah. Adapun bagi Pemerintah asesmen ini menjadi rujukan dalam menyusun rencana strategis dan rencana kerja dalam meningkatkan kompetensi guru sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Prinsip asesmen mengukur kompetensi dasar tentang bidang studi (subject matter) dan pedagogik dalam domain content. Kompetensi bidang studi yang diujikan sesuai dengan bidang studi sertifikasi (bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik) dan sesuai dengan kualifikasi akademik guru (bagi guru yang belum bersertifikat pendidik). Kompetensi pedagogik yang diujikan adalah integrasi konsep pedagogik ke dalam proses pembelajaran bidang studi tersebut dalam kelas. Pendekatan yang digunakan adalah tes penguasaan substansi bidang studi (subject matter) berdasarkan latar belakang pendidikan, sertifikat pendidik dan jenjang pendidikan tempat guru bertugas.

 

 

Kamis, 19 November 2020

MENCARI MAKNA HIDUP



Ibarat selembar kertas yang bersih, begitulah perumpamaan ketika kita lahir di dunia ini. Kemudian waktu membawa kita pada perjalanan hidup yang penuh warna. Selembar kertas yang tadinya kosong kini mulai banyak catatan sejarah kita. Ada kalanya tentang cerita penuh tawa, kesenangan dan kebahagiaan. Namun banyak juga terselip cerita pedih, perih dan duka nestapa. Itulah isi kehidupan dunia, semua pasti memiliki kisah bahagia dan kesedihan. Seandainya kita mampu membaca hati orang lain, niscaya di sana juga tersimpan banyak cerita pahit yang menggores jiwa.

Bagi orang yang orientasi hidupnya adalah materi, maka prinsipnya waktu adalah uang. Ia akan terjebak pada rutinitas kerja yang tiada ujungnya. Padahal kehidupan sehari-hari tidak harus selalu diisi dengan bekerja. Ada waktunya melakukan aktivitas lain terkait kesukaan terhadap hal tertentu, persahabatan, hobi, spiritualitas dan juga hiburan. Permasalahan hidup kita di dunia ini sangat kompleks. Banyak persoalan yang sebenarnya kita tidak mampu menyelesaikannya. Kemampuan akal dan daya pikir kita sangat terbatas, sementara ruang lingkup problem kita tidak terbatas.

Pada esensinya tujuan manusia hidup di dunia ini sama. Mencari kebahagiaan. Yang bekerja mengumpulkan segala harta benda duniawi karena alasan mencari kebahagiaan. Sedangkan kita sering lupa, kebahagiaan sebenarnya tidak semata dari banyaknya harta. Kebahagiaan itu tidak bergantung pada siapa Anda atau apa yang Anda miliki; kebahagiaan hanya bergantung pada apa yang Anda pikirkan. Jika kebahagiaan ukurannya harta, maka para miliarder adalah orang yang terbahagia di dunia, jika ukurannya popularitas maka para selebriti tentu paling bahagia, atau bila ukuran kebahagiaan adalah kekuasaan maka seharusnya para penguasa adalah manusia paling bahagia di dunia.

Tapi pada kenyataannya, kebahagiaan adalah milik semua orang. Siapapun bisa mengecap manisnya hidup bahagia. Sebagaimana kesedihan, semua bisa merasakan kesedihan tidak peduli siapapun dia orangnya. Si miskin papa bisa merasakan kebahagiaan meski hidupnya serba kekurangan. Dan si kaya raya pun bisa bersedih meski hidupnya serba ada dan berlimpah harta. Jadi, apapun kondisi yang Allah berikan kepada kita, semua adalah kebaikan untuk kita kalau hal tersebut menjadikan kita semakin mampu memaknai hidup.

Sangat penting kita menjaga keseimbangan hidup kita. Terlalu condong memandang duniawi, menjadikan kita menjadi orang yang materialis. Namun terlalu membenci urusan materi menjadikan kita mengabaikan kehidupan orang lain. Tidak peduli dengan kehidupan sosial. Hidupnya hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Tidak mampu menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang memberi manfaat bagi manusia yang lain. Jalan tengah menjadi pilihan yang ideal, ada masanya kita menganggap harta itu penting. Namun tidak menjadikan harta semata-mata tujuan hidup di dunia ini.

 

 

Rabu, 18 November 2020

SULITNYA MEMULAI



Kalau ada yang mengatakan, memulai sesuatu itu kadang sulit. Sepertinya hal ini memang benar. Ada beberapa teman mengeluh kelebihan berat badannya, namun setiap mendapat saran untuk mengatur pola makan dia selalu mengatakan sulit. Sulit untuk mencoba memulainya. Begitu sudah ada niat “diet” datang ajakan makan bareng yang sulit untuk diabaikan. Tentu amat sulit menghindar dari godaan yang nikmat seperti itu. Sebenarnya ini adalah masalah banyak orang. Saya sendiri juga sering mengalami hal yang serupa.

Banyak orang yang mengetahui bahwa olah raga itu penting. Olah raga bukan semata mencari prestasi, namun olah raga adalah kebutuhan setiap orang. Bukan terbatas untuk orang yang usianya masih muda, namun olah raga penting juga bagi orang yang sudah tua. Tentu jenis olah raga bisa menyesuaikan dengan kemampuan fisik dan usia. Namun, berapa banyak orang yang belum bisa memulai olah raga. Akan muncul daftar panjang alasan yang membatalkan niat memulai olah raga. Entahlah, ada saja seribu alasan. Karena belum punya sepatu olah raga, menanti ada temannya, masih menunggu hari libur, cuaca sedang tidak bagus dan bermacam dalih lainnya. Padahal di luar sana, orang bisa olah raga dengan fasilitas seadanya dan “enjoy” tanpa harus mencari orang yang menemaninya.

Dalam hal menulis pun demikian realitanya. Seperti tema dalam Ngaji Literasi hari ini. Banyak orang sebenarnya ingin bisa menulis yang bagus. Mampu menerbitkan karya yang bermutu seperti penulis terkenal. Ingin punya buku best seller seperti Habiburrahman sang novelis kondang. Namun semua masih terbatas dalam keinginan. Masalah sebenarnya bukan karena tidak mampu menulis, namun belum memulai menulis saja. Sekalinya mencoba menulis, ada saja “seabrek” alasan yang sudah mengantri. Dari mulai, masih banyak tugas, nanti bakalan menulis kalau pas libur, atau nanti akan menulis kalau sudah menemukan ide yang hebat.

Pekerjaan kecil dan sederhana yang selesai dilakukan, jelas lebih baik daripada rencana-rencana besar yang masih dalam gagasan. Memulai sesuatu memang sulit. Namun bila kita sudah mampu melewatinya, semua akan berjalan pada jalurya. Sesuatu yang terulang terus menerus menjadi sebuah kebiasaan ada kalanya awalnya juga sulit untuk memulai.

Istiqamah itu lebih baik dari seribu karomah. istiqamah tidak saja berlaku pada tataran ubudiyah semata. Istiqamah berlaku dalam konteks akhlak, ilmu, dan segala perbuatan baik. Bukankah segala aktivitas yang kita niatkan dalam kebaikan adalah bagian dari ibadah. Dan tentu semua harus dilakukan dengan istiqamah. Menulis menjadi salah satu bagian dari media penyebaran ilmu.  Sehingga tidak salah bila kita istiqamah di ranah ini. Kuncinya harus segera memulai berkarya. Ada yang mengatakan, kita bisa terus menunda sesuatu, namun waktu tidak pernah menunggu kita.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...