Senin, 12 April 2021

“NANDUR KABECIKAN”



Sebuah nasihat dalam Peribahasa, “Siapa yang menanam, dia yang akan menuai”. Maksudnya, jika seseorang berbuat kebaikan, maka ia akan menuai (memperoleh) kebaikan pula. Sebaliknya jika seseorang memiliki perilaku jelek, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Memang begitulah “rumus” kehidupan. Semua akan kembali pada diri kita. Bila ada orang yang bersikap baik pada kita, itu hakikatnya adalah kebaikan yang sudah kita tanam sejak lama. Sebaliknya bila ada orang yang bersikap buruk pada kita, jangan-jangan itu adalah buah dari keburukan kita sendiri.

Jangan berharap padi yang tumbuh, bila rumput yang kita semai selama ini. Jangan berharap kebaikan yang kita dapat, bila kebusukan sifat yang kita sebar selama ini. Bila ingin orang lain baik pada kita, perbaiki dulu sikap kita pada orang. Bila kita ingin dihargai orang, janganlah merendahkan martabat orang lain.

Filosofi menanam kebaikan seperti menanam bunga. Tanamlah bunga​, maka kupu-kupu akan datang sendiri dan membentangkan sayap-sayapnya yang indah. Bahkan bukan hanya kupu-kupu yang datang, tetapi kawanan yang lain juga datang: lebah, capung, kumbang madu dan lainnya, juga akan datang menambah warna-warni keindahan bunga yang kita tanam. ​

Sepanjang hidup tugas kita memang hanya terus menanam. Dalam istilah Jawa “nandur”. Tidak usah berharap panen yang akan diterima, tapi berharaplah selalu bisa nandur segala yang baik-baik. Karena semua yang kita tanam pasti akan kita panen, meski tidak semuanya kita panen di kehidupan fana ini.

Ramadhan adalah musim “menanam”. Karena apa yang kita tanam akan tumbuh berkembang dengan subur. Menanam kebaikan di bulan suci ini akan berlipat-lipat buah yang bisa dipetik di kehidupan kita yang abadi nanti. Selamat menanam kebaikan, nandur kebecikan sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kita menyesal, ketika banyak yang memetik manisnya buah kebaikan amal, kita sedih meratapi diri, akibat tidak gemar menanam.

 

Minggu, 11 April 2021

LILLAHI TA’ALA...



Segala sesuatu tergantung niatnya. Secara lahiriyah ibadah seseorang dengan yang lainnya bisa terlihat sama, namun pada akhirnya kemurnian niatlah yang membedakan nilai ibadah kita. Semua harus dilepaskan. Ikatan-ikatan yang membelit hati. Hanya satu yang dituju, hanya satu yang dicari Ridha Allah. Mungkin ini maksud dari lillahi ta’ala... hanya untuk Allah semata. Ibadah bukan bermaksud mendapat pujian, pengakuan dan penghormatan manusia. Karena semua itu tidak penting sama sekali. 

Hari ini orang memuji kita, besok bisa saja mencaci-maki. Ingat peribahasa “Panas setahun dihapuskan hujan sehari”. Kebaikan seseorang yang banyak sering kali tertutup hanya dengan satu kesalahan. Memang kecenderungan orang akan selalu mengingat kejelekan orang lain dan sering mengabaikan kebaikannya.

Kemurnian ibadah yang niatnya didasari lillahi ta’ala akan bernilai dan berbalas pahala. Sementara ibadah yang bercampur dengan keinginan-keinginan nafsu akan kosong tak berharga. Seandainya orang beribadah di hatinya terselip ingin mendapat sanjungan manusia, maka yang didapatkan hanya sanjungan itu saja. Orang akan berkata, wah, hebat, luar biasa dan seterusnya dan seterusnya.

Diambang pintu Ramadhan 1442 Hijriyah, marilah kita menata niat. Membersihkan hati dari segala “pengganggunya”. Bukankah Allah Mahatahu apa yang kita rahasiakan jauh di dalam lubuk hati. Di hadapan-Nya tidak ada yang bisa kita dustakan.

Dan semoga Ramadhan tahun ini kita benar-benar bisa beribadah dengan khusyu’, merasakan manisnya puasa, indahnya rakaat-rakaat tarawih dan tahajjud dan nikmatnya sujud panjang di hening malam. Dan Allah mencatat bahwa semua ibadah kita niatnya sudah benar, hanya untuk Allah, lillahi ta’ala…….. Amin.

 

 

Sabtu, 10 April 2021

MENSYUKURI (BISA) MENULIS



Hujan masih deras, tumpah-ruah turun ke bumi. Seakan tak pernah ada habisnya. Disusul gempa yang lumayan mengagetkan. Di emperan ruko saya berteduh, mencoba memulai menulis sekata dua kata. Sembari menunggu hujan yang reda, daripada melamun atau sekadar melihat orang yang lalu-lalang, tentu akan lebih menulis sedapatnya dengan ponsel. Masalah memindah dan menyunting di laptop tentu bukan urusan yang sulit.

Beberapa waktu yang lalu waktu ketika mendampingi orang tua kami yang sakit, beliau (bapak) bercerita. Dulu ternyata sempat mengenyam pendidikan formal juga. Meski akhirnya harus berhenti ketika baru beberapa tahun sekolah. Tapi masih beruntung walau tidak tamat, tapi sudah bisa baca dan tulis. Ini adalah hal yang harus disyukuri.

Menurut cerita Bapak, dulu sekolah tidak membawa alat tulis. Buku, pulpen atau pensil masih menjadi barang mahal yang tidak mudah didapatkan. Hanya ketika di sekolah siswa dipinjami alat tulis yang namanya “Sabak”. Alat ini bisa digunakan untuk menulis kemudian bisa dihapus lagi. Mirip papan tulis edisi mini. Tapi Sabak sangat berat karena terbuat dari lempengan batu karbon segi empat. Menulisnya menggunakan grip yang berbentuk mirip dengan pensil.

Berhenti sekolah sebenarnya bukan karena Bapak tidak suka belajar. Justru menurutnya, beliau sebenarnya sangat senang bisa sekolah. Tapi faktor biaya yang mengharuskan beliau berhenti sekolah. Baju yang digunakan sekolah pun cuma satu pasang. Nenek tidak pernah membiayai kebutuhan sekolah bapak. Setiap kali diminta uang sekolah tidak pernah dibayar, sebenarnya bukan karena tidak bisa membiayai kebutuhan anaknya, tapi nenek memang tidak mendukung anak-anaknya sekolah.

Dalam pandangannya, sekolah bukan urusan yang penting. Pokok bisa mangan cukup, nyandang sepantasnya dan memuliki rumah yang layak. Walhasil, bapak sering “dijejer” gurunya karena tidak bisa membayar iuran sekolah. Dulu sudah menjadi kebiasaan guru memberi sanksi muridnya dengan cara dijejer, disuruh berdiri di depan kelas.

Tentu kami tidak akan meyalahkan kakek dan nenek kami yang memiliki pandangan yang keliru tentang pendidikan. Memang sebatas itulah pengetahuan yang mereka miliki. Zaman memang jauh berbeda, antara dulu dengan sekarang. Masyarakat secara umum memiliki pandangan bahwa pendidikan itu tidak penting. Pendidikan masih dianggap menjadi kebutuhan orang-orang tertentu, misalnya orang kaya atau bangsawan. Pendidikan belum menjadi kebutuhan semua orang.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...